Terbuka di tab baru

Festival Film Dokumenter 2026

Poster FFD 2026
Venues
    Cemeti - Institute for Art and Society
    Kedai Kebun Forum
    Langgeng Art Foundation
    Pascasarjana ISI Yogyakarta
Trailer Festival

20—27 November 2026

Mari mengingat bersama dan menjadi bagian dari 25 tahun Festival Film Dokumenter! Telusuri suara perlawanan dari berbagai belahan dunia melalui 94 karya yang lantang dan membuka mata. Seluruh agenda gratis dan terbuka untuk publik. Datang, saksikan, dan gaungkan!

  • Pengantar Festival

    Sebuah Refleksi Tentang Jalan Pulang yang Tidak Pernah Ada

    Alia Damaihati
    Direktur Festival

Barangkali, pulang adalah salah satu ilusi paling purba dalam kehidupan manusia. Sejak Festival Film Dokumenter pertama diselenggarakan di Yogyakarta pada 2002, dokumenter Indonesia telah menempuh perjalanan yang tidak sederhana. Ia tumbuh melalui berbagai inisiatif, ruang kolektif, komunitas, pembuat film, dan praktik-praktik independen yang sering kali bekerja di tengah keterbatasan. Ada film-film yang berhasil menemukan penontonnya, ada yang beredar melalui ruang alternatif, ada pula yang tersimpan dalam arsip atau menghilang bersama ingatan tentang orang-orang yang pernah menjadi bagian darinya.

Tanpa pernah ingin meromantisasi keterbatasan, yang membuat seolah-olah kesulitan merupakan syarat alamiah bagi lahirnya karya bermakna. Di sepanjang perkembangannya, praktik dokumenter senantiasa berhadapan dengan persoalan mengenai etik, dampak, batas, dan kemungkinan mediumnya. Apa yang pada mulanya dikenal melalui praktik perekaman, pengamatan, dan representasi atas realitas, kini berkembang menjadi medan eksperimentasi yang lebih luas. Bergerak melintasi medium, beririsan dengan praktik seni kontemporer lainnya, dan menemukan artikulasi baru, bukan lagi sekadar cara kamera merekam dunia, tapi juga cara membangun hubungan dengan dunia yang direkamnya. Sebuah hasrat untuk kembali pada sesuatu yang pernah ada, sesuatu yang sejak semula dibangun sebagai bayangan.

Dua setengah dasawarsa berlalu, seolah-olah kita telah menempuh perjalanan yang jauh, tetapi ketika menoleh, kita menemukan bahwa beberapa persoalan masih menunggu di tempat yang sama. Yang berubah mungkin bukan persoalannya, melainkan cara kita melihat dan memaknainya. Seperti kutukan waktu yang melingkar (cyclical time), tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa waktu terus berjalan, melainkan ia terus berjalan hanya untuk membawanya kembali ke tempat di mana ia pernah hancur. Dalam lingkaran waktu semacam ini, sejarah bukan sesuatu yang telah berlalu, melainkan sesuatu yang terus hidup dan memengaruhi kemungkinan masa depan.

Zaman berubah, waktu berputar, medium berkembang; cara kita melihat, memahami, dan memaknai terhadap suatu hal juga bergeser. Teknologi dapat mengubah cara kita merekam dan menyebarkan gambar, tetapi tidak serta merta mengubah relasi kuasa di baliknya. Praktik ini tetap lekat dalam melihat dinamika perkembangan yang menyertainya. Meski tidak cukup, setidaknya 10 tahun belakangan ini, perayaan kecil terbijak adalah kebebasan melampaui mediumnya, keberanian untuk terus menguji batas, serta menemukan cara baru berhadapan dengan dunia—sebab tidak semua yang bergerak berarti berubah.

Di antara duka dan luka yang sedang terjadi di bumi tempat kita berpijak, nampaknya festival sebagai perayaan bukan kata yang tepat untuk memaknai pertemuan kita di Festival Film Dokumenter tahun ini. Pada konteks inilah, Jalan Pulang yang Tidak Pernah Ada menjadi metafora yang kami pilih. Bagi pengharapan yang menyertai perjalanan dokumenter yang mungkin tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya, hanya terus menemukan cara baru untuk berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai dijawab oleh sejarahnya sendiri.

Barangkali, saat kita berjumpa lagi setelah tiga dasawarsa, pada definisi masa kini yang berbeda, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi sejauh mana dokumenter telah berkembang dan beradaptasi, melainkan persoalan apa saja yang masih terus kita ulangi, kemungkinan apa yang dapat kita ubah, dan bagaimana kita belajar mengenali kutukan waktu yang melingkar—yang selama ini kita jalani.

Sampai jumpa di Festival Film Dokumenter 2026!

Program

Item 1
Catatan Program

Konflik dalam film dokumenter jarang muncul sebagai peristiwa di garis depan. Ia lebih sering ditemukan di sekitarnya; dalam ruang, tubuh, dan ingatan yang menyimpan jejak-jejaknya.…

Tim Seleksi
  • Dito Yuwono

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program

Apa yang bisa kita ketahui tentang masa lalu dan kehidupan orang lain melalui kamera? Pertanyaan ini menjadi titik temu film-film dalam Kompetisi Panjang Indonesia tahun…

Tim Seleksi
  • Eric Sasono

    United Kingdom
Film
Item 1
Catatan Program

Kompetisi Pendek tahun ini menampilkan perhatian yang sama terhadap hal-hal kecil dan keseharian. Di tengah lanskap media yang lebih mengutamakan kecepatan dan narasi berskala besar,…

Tim Seleksi
  • Sasha Han

    Singapore
Film
Item 1
Catatan Program

Praktik dokumenter generasi baru memperlihatkan berbagai cara membuat film berhadapan dengan realitas melalui instrumen sinema. Ada berbagai upaya untuk menggunakan kamera, seluloid, hingga proses kolaborasi…

Tim Seleksi
  • Taufiqurrahman Kifu

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program
Via Dolorosa

Di lorong-lorong gelap tambang perak, dinding kusam yang dipenuhi coret-moret putus asa para interniran, sampai gedung-gedung tua di Palermo, Italia, saat ini semua orang di…

Pengelola Program
  • Agung Kurniawan

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program

Menghadirkan Curtis Levy di Festival Film Dokumenter (FFD) 2026 merupakan kesempatan untuk membuka kembali rekaman Indonesia pada masa Orde Baru. Melalui film-filmnya, Levy merekam cara…

Pengelola Program
  • Kurnia Yudha F.

    Indonesia
Item 1
Catatan Program
Be/longing

“Bukan mendambakan untuk menjadi bagian dari apa yang kita miliki, melainkan mendambakan dambaan itu sendiri.”— Jemma Desai (2023)1 Untuk siapa kita ada? Apa yang kita…

Pengelola Program
  • Aditi Shivaramakrishnan

    Singapore
Item 1
Catatan Program
Para Gerilyawan Masih Bergerak

Di perkebunan karet dalam film Malaysia Latex Labyrinth (Wey Yinn Teo, 2025), gerilyawan komunis muncul dari hutan tempat mereka dahulu melawan kekuasaan kolonial Inggris. Di…

Pengelola Program
  • Rizky Rahad

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program

Nostalgia membawa kita kembali pada sesuatu yang pernah dialami, sebuah tempat yang pernah ditinggali, masa yang pernah dilewati, atau kehidupan yang pernah menjadi bagian dari…

Pengelola Program
  • Alia Damaihati

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program
Ingatan di Atas Sejarah

Bisa jadi, awal pelekatan istilah dokumenter tidak luput dari semangat penjelajahan, yang jika kita coba runut, istilah tersebut sebenarnya tidak lepas dari pengertian kolonial itu…

Pengelola Program
  • Akbar Yumni

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program
Membongkar Dokumenter Hari Ini

Dokumenter di tangan para sineas muda bekerja sebagai sarana pembacaan realitas sosial. Praktik ini menguji cara pandang sekaligus meredefinisi batas sinema. Anak muda hidup menanggung…

Pengelola Program
  • Gerry Junus

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program
Laku Kasih

Di manakah letak kasih dalam tubuh kapitalisme? Film-film yang dipresentasikan dalam program ini mengabadikan laku yang berulang. Laku-laku di sini bukanlah hasil latihan seperti yang…

Pengelola Program
  • Jetri Bolintiam

    Philippines
Film
Item 1
Catatan Program
Ruang-ruang yang Mengenang Kita

Biasanya, kita membahas tentang kenangan atas ruang-ruang yang telah hilang dari hidup kita. Program ini mencoba membalikkan hal tersebut. Bagaimana jika justru ruang-ruang itulah yang…

Pengelola Program
  • Yu Ern Chia

    Malaysia
Film
Item 1
Catatan Program
Keseharian dan Kemanusiaan

Setidaknya, ada dua hal untuk memaknai sinema: sebagai bahasa dan sebagai medium. Sebagai sebuah medium, perayaannya sangat luar biasa. Apalagi ketika pertama kali kamera ditemukan;…

Pengelola Program
  • Akbar Yumni

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program

Kalimat bahwa masa lalu dan masa kini tidak bersambung dengan sendirinya, bahwa kitalah yang menyambungkannya, terasa hanya separuh benar. Sebagian ingatan datang sendiri tanpa kita…

Pengelola Program
  • Gerry Junus

    Indonesia
Film
Item 1
Catatan Program
Musik Masa Gini

Saat ini, kita sedang dalam masa di mana seni berada dalam pencapaian mutakhirnya yang fenomenal. Perkembangan gagasan, metode, perangkat, hingga faedahnya telah menjadi bagian utuh…

Pengelola Program
  • Wok The Rock

    Indonesia
Film

01Gerilyawan di rimba raya, di antara badai, muram, dan nestapa. Merekam yang tersisa dari gelanggang reformasi. Layar tetap berdiri. Dua puluh lima kali. Kami telah coba apa yang kami bisa. Militan yang konyol. Bergembira dengan lelah. Mencari yang tersembunyi. Sampai kapan? Akankah sampai? Pada apa? Bertahan tak ada harganya, berhenti tak ada gunanya. Di antara makan siang dan hujan peluru. Dua puluh lima untuk satu. Seterusnya. Hingga menemukan kearifan semesta, pada suatu ketika.

Info Festival

Umum
  • Seluruh agenda festival bersifat gratis.
  • Registrasi dibuka di setiap lokasi 30 menit sebelum agenda dimulai.
  • Seluruh pemutaran tidak memberlakukan penomoran kursi dan bersifat siapa cepat, dia dapat.
  • Cek dan taati pemeringkatan umur pada setiap agenda pemutaran yang Anda hadiri.
  • Untuk pemutaran film berdurasi panjang, pintu ruang putar ditutup setelah 15 menit.
  • Untuk pemutaran film kompilasi, penonton yang terlambat hanya dapat masuk saat perpindahan film.
  • Festival tidak menjamin penonton yang terlambat dapat memasuki ruang putar.
Mohon untuk selalu…
  • Datang tepat waktu
  • Perhatian terhadap sekitar dan orang lain
  • Terbuka terhadap pemahaman baru
  • Bertanya pada doKRUmenter (kru festival) di lokasi festival jika Anda butuh bantuan
Seniman Kolaborator
  • Yudha Kusuma Putera

    Poster Design
Dipersembahkan oleh
Mitra Festival
Mitra Program