Bisa jadi, awal pelekatan istilah dokumenter tidak luput dari semangat penjelajahan, yang jika kita coba runut, istilah tersebut sebenarnya tidak lepas dari pengertian kolonial itu sendiri. Nanook of the North (1922), misalnya, oleh Robert J. Flaherty, pembuat film yang dipuja sebagai tamsil dari awal pelekatan istilah dokumenter, adalah eksotisme penjelajahan, yang beberapa adegan penangkapan ikan sengaja dimainkan demi menangkap momen-momen penantian. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada karya-karya Willy Mullens di Hindia Belanda (Indonesia) pada periode 1920-an, yang merekam pelosok-pelosok Nusantara. Sinema dokumenter dalam dua tamsil ini, semacam kesaksian, atau setidaknya untuk pembuktian “berada di sana”; pembuktian terhadap penjelajahan itu sendiri. Di kemudian hari, kita mendengar gosip-gosip tentang adegan-adegan dan pendekatan-pendekatan yang sengaja direkayasa, seperti pose para penduduk asli dan lain sebagainya, menjadi apa yang berlangsung di balik kamera di dalam model-model dokumenter etnografis di masa kolonial. Beberapa di antaranya dianggap sejarah tentang masa lalu, tetapi belum tentu juga menjadi ingatan.
Tentu kita mengenal tradisi dokumenter lainnya, macam Joris Ivens dalam tradisi bentuk dan penelaah sinema ternama Dziga Vertov yang menggunakan anasir medium film untuk menyibak “kebenaran” realitas keseharian yang tidak kasatmata manusia. Dalam perkembangannya, dokumenter tidak terhindarkan dari apa yang dinyatakan Jacques Rancière bahwa realitas harus difiksionalisasi agar dapat dipikirkan. Termasuk juga di dalam perkembangan sinema dokumenter, objek-objek penjelajahan kini bukan lagi pada wilayah pedalaman atau yang dipedalamkan, tetapi juga objek atau subyek macam mimpi, trauma, masa lalu, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hal-hal sensori, membutuhkan alat bantu lain, katakan macam fiksi, justru untuk mendapatkan agenda hal-hal yang dokumenteris.
Program Lanskap tahun ini merupakan usaha pembacaan dari karya-karya nonkompetisi yang berusaha secara konsisten mencari kemungkinan yang lebih segar dari sebuah festival yang merayakan keragaman. Pergulatan ingatan di atas sejarah, termasuk penggunaan-penggunaan tradisi, keseharian, dan mitologi, adalah bagian dari pendekatan untuk mendapatkan realitas yang tak terjangkau, atau juga historiografi yang tidak memadai dan menggerakan akan ingatan. Sinema dokumenter selalu punya caranya sendiri dalam menjangkau realitas yang paling traumatik dan personal, yang secara serentak adalah juga bagian dari perluasan pengertiannya.
— Akbar Yumni
Pengelola Program