- meteors…
- Documents for the End of the World
- Latex Labyrinth
- Elegy for the Lost
Latex Labyrinth

Sinopsis
Seorang laki-laki tua terbangun di sebuah perkebunan karet gundul dan mendapati dirinya berada di masa kolonial. Sebuah lagu rakyat tradisional terdengar samar-samar saat ia terjerumus ke dalam lingkaran penyadapan karet yang tak berujung.
Kredit

Wey Yinn Teo
Wey Yinn Teo merupakan seniman-pembuat film, komposer, dan perancang suara non-biner yang berdomisili di Kuala Lumpur. Dipengaruhi dan terinspirasi oleh pengalaman sinestesia yang dimilikinya, praktik multidisiplin Wey Yinn menghasilkan karya-karya yang sering kali menjauh dari ranah realitas dan kebenaran—mengeksplorasi duka, keterasingan, politik, dan pengalaman manusia.
Detail
- Negara ProduksiMalaysia, Singapore
- Bahasa AsliChinese
- TakarirEnglish
- WarnaBlack & White
- Rekam Jejak Festival2025 Ji.hlava | Short Joy | Official Competition
2025 Hong Kong Asian FF | Eye Catcher Winner Highlights
2025 Beijing International Short FF | IInternational Competition
Partisipasi di Festival
- 2026Spektrum 1
Be/longing
“Bukan mendambakan untuk menjadi bagian dari apa yang kita miliki, melainkan mendambakan dambaan itu sendiri.”
— Jemma Desai (2023)1Untuk siapa kita ada? Apa yang kita dambakan? Apa yang menjadi kewajiban kita pada diri sendiri, pada sesama, dan apa yang menjadi hak kita?
Lima film pendek ini menggambarkan perjalanan dalam memahami jati diri dan identitas seiring kita tumbuh dalam dan melampaui tubuh—yang merupakan rumah pertama kita—serta budaya tempat kita dilahirkan. Melalui paparan dan pengalaman, seiring berkembangnya kesadaran, kita memperkaya kosakata untuk mengartikulasikan yang kita dambakan. Dengan bahasa tubuh, percakapan, citra visual, dan lanskap suara, kita berkomunikasi melintasi jarak waktu, geografis, dan emosional, dengan harapan untuk dilihat, dipahami, dan diterima. Setiap ekspresi penuh upaya atas apa yang kita dambakan membawa kita lebih dekat untuk mewujudkannya—untuk merasakan rasa memiliki terhadap diri sendiri dan komunitas kita.
Dalam Latex Labyrinth (Wey Yinn Teo, 2025) yang sarat atmosfer dan polifonik, perkebunan Malaya yang rimbun menjadi saksi yang sekaligus menanggung tindakan berkelanjutan para pekerja perkebunan karet dan gerilyawan komunis yang menghuninya. Alam memberikan penghidupan sekaligus perlindungan bagi subjek-subjek imperialisme kolonial yang justru turut andil dalam menganiaya alam itu sendiri. Penderitaan dan perlawanan yang tak terucapkan diwariskan melalui pengetahuan yang tertanam dalam tubuh dan trauma antargenerasi.
Budaya diam sengaja diterobos dalam Rahhala: Hayya ala Hayya (Lujain Jo, 2025). Ingatan yang terfragmentasi sekaligus gamblang tentang kekerasan dalam rumah tangga berkepanjangan yang dialami oleh sang pembuat film dan saudara perempuannya bertumpuk di atas citra mendasar tentang kekuatan alam dan pembaruan siklikal: pergantian musim, fase bulan, hidup dan mati. Mengkritik keterbatasan konsep keadilan dan kemunafikan agama sebagai pembenaran atas perilaku kekerasan, sang pembuat film merangkul kemungkinan pembebasan dari hidup selaras dengan alam—dengan kebebasan untuk bergerak—yang dipertahankan oleh kepedulian dan niat baik yang masih ada dalam kemanusiaan. Dia mengutip ayat, “Kau mengira dirimu hanyalah tubuh mungil, sesungguhnya kau memuat seluruh alam semesta.” Untuk terus hidup adalah yang terpenting; kita berharga.
Narator dalam The Land Where Ghosts Could Speak (Tianhui Wu, 2025) memproses, melalui dialog dengan neneknya, bahan-bahan dari arsip keluarga dan negara, serta igauan perpisahan di masa kanak-kanak dari keluarga intinya yang membuatnya harus merenungkan tentang rasa memiliki. Apa artinya menjadi seperti orang-orang di sekitarmu, tetapi mengetahui bahwa kamu berbeda dengan mereka? Mengetahui bahwa suaramu tidak dapat bersatu dengan suara mereka? Lalu, bagaimana kita akan dikenang?
Your City (Ting Su, 2026) menyandingkan visual surealis yang terpisah secara emosional dari tubuh-tubuh anonim yang bergerak melintasi kota-kota dengan percakapan telepon intim dan introspektif antara dua suara kwir yang mengulurkan diri dari Shenzhen dan New York. Krisis iklim, pandemi, serta gelombang sentimen dan kebijakan xenofobia yang semakin menggila membuat para migran menjadi begitu rentan. Seiring dengan semakin intensifnya urbanisasi dan mundurnya pandangan sosial, kita terperangkap dalam keadaan yang mandek. Terombang-ambing, kita mengklaim rasa memiliki—ikatan kekeluargaan, solidaritas—satu sama lain, bahkan ketika institusi-institusi dominan melihat kita sebagai kelompok yang tak layak dipertimbangkan, menolak keberadaan kita.
Have you seen any fireflies? (Warat Bureephakdee, 2026) dibuka dengan adegan dua mahasiswa yang, dalam sebuah wawancara jujur yang kemungkinan besar sudah disusun sebelumnya—meski pada awalnya tampak spontan—menyesali ketidaktahuan politik dan sikap fatalis yang merajalela di kalangan teman sebaya dan keluarga mereka. Menavigasi keterbacaan merupakan upaya penyeimbangan yang titi bagi komunitas minoritas dan/atau yang terpinggirkan, dan berbicara tentang sesuatu melalui ketidakhadirannya adalah strategi yang mungkin dilakukan. Dengan kunang-kunang sebagai metafora bagi segala sesuatu yang tergusur dan memudar akibat urbanisasi, film pendek yang ceria dan nakal ini menampilkan meta-narasi tentang pembuatan film tanpa kehadiran fisik sang sutradara. Semangat kolaboratif dan improvisasi kru untuk menyelesaikan film ini sejalan dengan perjalanan aksi partisipatif untuk mewujudkan naskah-naskah yang belum ditulis bagi kehidupan dan masyarakat yang kita bayangkan. Merayakan kebaikan, persahabatan, kemungkinan, dan ciptaan bersama, para remaja ini dengan penuh harapan menyatakan: “Kita sudah setengah jalan, dan kita masih bermimpi, bersama banyak kawan yang kita temui di sepanjang perjalanan ini.”
— Aditi Shivaramakrishnan
Pengelola Program1 Terjemahan oleh editor. Zile Liepins, “Seminars 68 | 69 | 70,” The Flaherty, 18 Agustus 2023, https://theflaherty.org/newsletter/seminars-68-69-70.
- 2026Spektrum 2
Para Gerilyawan Masih Bergerak
Di perkebunan karet dalam film Malaysia Latex Labyrinth (Wey Yinn Teo, 2025), gerilyawan komunis muncul dari hutan tempat mereka dahulu melawan kekuasaan kolonial Inggris. Di balik layar, para pekerja membawa makanan dan uang kepada mereka melalui tong-tong lateks; anak-anak diajari memegang senjata; kisah perjumpaan antara buruh dan gerilyawan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terkubur di bawah lanskap perkebunan. Kini, banyak perkebunan tersebut dibabat untuk pembangunan baru.
Gerilyawan di sini bukan sekadar figur sejarah. Ia menjadi sebuah kehadiran afektif: menghantui lanskap yang kini diubah oleh rezim kekuasaan yang lain. Yang bertahan dari figur gerilyawan bukan selalu sejarah perjuangan yang utuh, melainkan residunya—perasaan tentang pembangkangan, solidaritas, hasrat, dan kemungkinan bahwa dunia lain pernah dapat dibayangkan.
Apa artinya tetap terikat pada sebuah sejarah politik setelah revolusinya dikalahkan, para pelakunya menghilang, dan kemungkinan-kemungkinannya dinyatakan usang? Apa yang terjadi ketika perasaan yang lahir dari sebuah perjuangan bertahan lebih lama daripada perjuangan itu sendiri?
Program ini berangkat dari apa yang disebut Ann Cvetkovich sebagai archive of feelings: gagasan bahwa sejarah perjuangan tidak hanya bertahan dalam dokumen dan catatan resmi, tetapi juga dalam duka, trauma, kerinduan, hasrat, dan solidaritas. Afek-afek ini mencatat apa yang tak mampu ditampung oleh arsip konvensional. Alih-alih memperlakukan arsip sebagai gudang fakta yang stabil dan tinggal ditemukan kembali, film-film dalam program ini memperagakan, mendistorsi, menghuni, dan pada akhirnya mementaskan ulang perasaan-perasaan yang tersisa. Sejarah kembali melalui gambar-gambar yang rusak, tubuh, lanskap, ingatan, ketidakhadiran, dan perjumpaan yang dibayangkan.
Memperagakan sebuah archive of feelings berarti mempraktikkan relasi yang kwir terhadap sejarah: bukan merekonstruksi masa lalu, melainkan tetap tinggal bersama ketuntasannya yang tak pernah benar-benar selesai. Mementaskan ulang berarti mengambil material yang diwariskan kepada kita dan menggunakannya untuk sesuatu yang lain. Dalam pengertian ini, arsip menjadi apa yang disebut José Esteban Muñoz sebagai disidentification—bukan meninggalkan sejarah yang diwariskan, tetapi juga tidak menerimanya begitu saja dalam bentuk aslinya; melainkan mengolahnya kembali menuju kemungkinan-kemungkinan lain.
Dalam meteors… (Ghada Sayegh, 2025), fragmen-fragmen dari arsip pribadi film-film rumahan Mediterania Timur menjadi jejak pengasingan dan duka. Dalam Documents for the End of the World (Henrique Buzachero, 2025), pelarangan suara oleh negara menjadikan laut sebagai suara bersama, sementara foto-foto menyimpan kehidupan dan perjuangan yang tak dapat diucapkan. Latex Labyrinth membawa sejarah yang terkubur tentang buruh karet, kekerasan kolonial, dan perlawanan komunis ke dalam tubuh melalui tarian. Elegy for the Lost (William Hong-xiao Wei, 2025) merajut keintiman kwir, represi politik, dan ingatan kolektif melalui fiksi dan reka ulang.
Di antara film-film ini, sejarah tidak pernah kembali dalam keadaan utuh. Ia berkelip, menghilang, menjadi bisu, bergerak melalui tubuh, atau muncul kembali dalam lanskap yang sedang diubah. Arsip bukan sesuatu yang sekadar kita temukan kembali; ia adalah sesuatu yang kita peragakan, huni, dan gerakkan kembali.
Sebuah revolusi mungkin telah berakhir. Sebuah perkebunan mungkin lenyap. Sebuah negeri mungkin dibungkam. Sebuah arsip mungkin tercerai-berai oleh pengasingan. Seorang kekasih mungkin hilang. Namun, bagaimana jika tetap terikat pada perasaan-perasaannya merupakan sebuah penolakan terhadap penutupan sejarah itu sendiri?
Sejarah belum selesai, selama para gerilyawan masih bergerak.
— Rizky Rahad
Pengelola Program
Agenda
- Minggu, 22 Nov 26, 19:00 WIB(59min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Audiovisual
Spektrum 1
Q&A5 film- Latex Labyrinth
- Rahhala: Hayya ala Hayya
- The Land Where Ghosts Could Speak
- Your City
- Have you seen any fireflies?
Senin, 23 Nov 26, 13:00 WIB(1h 59min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang GaleriSpektrum 2
Pemutaran keduaQ&A4 film- meteors…
- Documents for the End of the World
- Latex Labyrinth
- Elegy for the Lost
Selasa, 24 Nov 26, 15:30 WIB(1h 29min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Concert HallSpektrum 1
Pemutaran keduaQ&A5 film- Latex Labyrinth
- Rahhala: Hayya ala Hayya
- The Land Where Ghosts Could Speak
- Your City
- Have you seen any fireflies?
Kamis, 26 Nov 26, 13:00 WIB(1h 59min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Galeri



