Di perkebunan karet dalam film Malaysia Latex Labyrinth (Wey Yinn Teo, 2025), gerilyawan komunis muncul dari hutan tempat mereka dahulu melawan kekuasaan kolonial Inggris. Di balik layar, para pekerja membawa makanan dan uang kepada mereka melalui tong-tong lateks; anak-anak diajari memegang senjata; kisah perjumpaan antara buruh dan gerilyawan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terkubur di bawah lanskap perkebunan. Kini, banyak perkebunan tersebut dibabat untuk pembangunan baru.
Gerilyawan di sini bukan sekadar figur sejarah. Ia menjadi sebuah kehadiran afektif: menghantui lanskap yang kini diubah oleh rezim kekuasaan yang lain. Yang bertahan dari figur gerilyawan bukan selalu sejarah perjuangan yang utuh, melainkan residunya—perasaan tentang pembangkangan, solidaritas, hasrat, dan kemungkinan bahwa dunia lain pernah dapat dibayangkan.
Apa artinya tetap terikat pada sebuah sejarah politik setelah revolusinya dikalahkan, para pelakunya menghilang, dan kemungkinan-kemungkinannya dinyatakan usang? Apa yang terjadi ketika perasaan yang lahir dari sebuah perjuangan bertahan lebih lama daripada perjuangan itu sendiri?
Program ini berangkat dari apa yang disebut Ann Cvetkovich sebagai archive of feelings: gagasan bahwa sejarah perjuangan tidak hanya bertahan dalam dokumen dan catatan resmi, tetapi juga dalam duka, trauma, kerinduan, hasrat, dan solidaritas. Afek-afek ini mencatat apa yang tak mampu ditampung oleh arsip konvensional. Alih-alih memperlakukan arsip sebagai gudang fakta yang stabil dan tinggal ditemukan kembali, film-film dalam program ini memperagakan, mendistorsi, menghuni, dan pada akhirnya mementaskan ulang perasaan-perasaan yang tersisa. Sejarah kembali melalui gambar-gambar yang rusak, tubuh, lanskap, ingatan, ketidakhadiran, dan perjumpaan yang dibayangkan.
Memperagakan sebuah archive of feelings berarti mempraktikkan relasi yang kwir terhadap sejarah: bukan merekonstruksi masa lalu, melainkan tetap tinggal bersama ketuntasannya yang tak pernah benar-benar selesai. Mementaskan ulang berarti mengambil material yang diwariskan kepada kita dan menggunakannya untuk sesuatu yang lain. Dalam pengertian ini, arsip menjadi apa yang disebut José Esteban Muñoz sebagai disidentification—bukan meninggalkan sejarah yang diwariskan, tetapi juga tidak menerimanya begitu saja dalam bentuk aslinya; melainkan mengolahnya kembali menuju kemungkinan-kemungkinan lain.
Dalam meteors… (Ghada Sayegh, 2025), fragmen-fragmen dari arsip pribadi film-film rumahan Mediterania Timur menjadi jejak pengasingan dan duka. Dalam Documents for the End of the World (Henrique Buzachero, 2025), pelarangan suara oleh negara menjadikan laut sebagai suara bersama, sementara foto-foto menyimpan kehidupan dan perjuangan yang tak dapat diucapkan. Latex Labyrinth membawa sejarah yang terkubur tentang buruh karet, kekerasan kolonial, dan perlawanan komunis ke dalam tubuh melalui tarian. Elegy for the Lost (William Hong-xiao Wei, 2025) merajut keintiman kwir, represi politik, dan ingatan kolektif melalui fiksi dan reka ulang.
Di antara film-film ini, sejarah tidak pernah kembali dalam keadaan utuh. Ia berkelip, menghilang, menjadi bisu, bergerak melalui tubuh, atau muncul kembali dalam lanskap yang sedang diubah. Arsip bukan sesuatu yang sekadar kita temukan kembali; ia adalah sesuatu yang kita peragakan, huni, dan gerakkan kembali.
Sebuah revolusi mungkin telah berakhir. Sebuah perkebunan mungkin lenyap. Sebuah negeri mungkin dibungkam. Sebuah arsip mungkin tercerai-berai oleh pengasingan. Seorang kekasih mungkin hilang. Namun, bagaimana jika tetap terikat pada perasaan-perasaannya merupakan sebuah penolakan terhadap penutupan sejarah itu sendiri?
Sejarah belum selesai, selama para gerilyawan masih bergerak.
— Rizky Rahad
Pengelola Program