“Bukan mendambakan untuk menjadi bagian dari apa yang kita miliki, melainkan mendambakan dambaan itu sendiri.”
— Jemma Desai (2023)1
Untuk siapa kita ada? Apa yang kita dambakan? Apa yang menjadi kewajiban kita pada diri sendiri, pada sesama, dan apa yang menjadi hak kita?
Lima film pendek ini menggambarkan perjalanan dalam memahami jati diri dan identitas seiring kita tumbuh dalam dan melampaui tubuh—yang merupakan rumah pertama kita—serta budaya tempat kita dilahirkan. Melalui paparan dan pengalaman, seiring berkembangnya kesadaran, kita memperkaya kosakata untuk mengartikulasikan yang kita dambakan. Dengan bahasa tubuh, percakapan, citra visual, dan lanskap suara, kita berkomunikasi melintasi jarak waktu, geografis, dan emosional, dengan harapan untuk dilihat, dipahami, dan diterima. Setiap ekspresi penuh upaya atas apa yang kita dambakan membawa kita lebih dekat untuk mewujudkannya—untuk merasakan rasa memiliki terhadap diri sendiri dan komunitas kita.
Dalam Latex Labyrinth (Wey Yinn Teo, 2025) yang sarat atmosfer dan polifonik, perkebunan Malaya yang rimbun menjadi saksi yang sekaligus menanggung tindakan berkelanjutan para pekerja perkebunan karet dan gerilyawan komunis yang menghuninya. Alam memberikan penghidupan sekaligus perlindungan bagi subjek-subjek imperialisme kolonial yang justru turut andil dalam menganiaya alam itu sendiri. Penderitaan dan perlawanan yang tak terucapkan diwariskan melalui pengetahuan yang tertanam dalam tubuh dan trauma antargenerasi.
Budaya diam sengaja diterobos dalam Rahhala: Hayya ala Hayya (Lujain Jo, 2025). Ingatan yang terfragmentasi sekaligus gamblang tentang kekerasan dalam rumah tangga berkepanjangan yang dialami oleh sang pembuat film dan saudara perempuannya bertumpuk di atas citra mendasar tentang kekuatan alam dan pembaruan siklikal: pergantian musim, fase bulan, hidup dan mati. Mengkritik keterbatasan konsep keadilan dan kemunafikan agama sebagai pembenaran atas perilaku kekerasan, sang pembuat film merangkul kemungkinan pembebasan dari hidup selaras dengan alam—dengan kebebasan untuk bergerak—yang dipertahankan oleh kepedulian dan niat baik yang masih ada dalam kemanusiaan. Dia mengutip ayat, “Kau mengira dirimu hanyalah tubuh mungil, sesungguhnya kau memuat seluruh alam semesta.” Untuk terus hidup adalah yang terpenting; kita berharga.
Narator dalam The Land Where Ghosts Could Speak (Tianhui Wu, 2025) memproses, melalui dialog dengan neneknya, bahan-bahan dari arsip keluarga dan negara, serta igauan perpisahan di masa kanak-kanak dari keluarga intinya yang membuatnya harus merenungkan tentang rasa memiliki. Apa artinya menjadi seperti orang-orang di sekitarmu, tetapi mengetahui bahwa kamu berbeda dengan mereka? Mengetahui bahwa suaramu tidak dapat bersatu dengan suara mereka? Lalu, bagaimana kita akan dikenang?
Your City (Ting Su, 2026) menyandingkan visual surealis yang terpisah secara emosional dari tubuh-tubuh anonim yang bergerak melintasi kota-kota dengan percakapan telepon intim dan introspektif antara dua suara kwir yang mengulurkan diri dari Shenzhen dan New York. Krisis iklim, pandemi, serta gelombang sentimen dan kebijakan xenofobia yang semakin menggila membuat para migran menjadi begitu rentan. Seiring dengan semakin intensifnya urbanisasi dan mundurnya pandangan sosial, kita terperangkap dalam keadaan yang mandek. Terombang-ambing, kita mengklaim rasa memiliki—ikatan kekeluargaan, solidaritas—satu sama lain, bahkan ketika institusi-institusi dominan melihat kita sebagai kelompok yang tak layak dipertimbangkan, menolak keberadaan kita.
Have you seen any fireflies? (Warat Bureephakdee, 2026) dibuka dengan adegan dua mahasiswa yang, dalam sebuah wawancara jujur yang kemungkinan besar sudah disusun sebelumnya—meski pada awalnya tampak spontan—menyesali ketidaktahuan politik dan sikap fatalis yang merajalela di kalangan teman sebaya dan keluarga mereka. Menavigasi keterbacaan merupakan upaya penyeimbangan yang titi bagi komunitas minoritas dan/atau yang terpinggirkan, dan berbicara tentang sesuatu melalui ketidakhadirannya adalah strategi yang mungkin dilakukan. Dengan kunang-kunang sebagai metafora bagi segala sesuatu yang tergusur dan memudar akibat urbanisasi, film pendek yang ceria dan nakal ini menampilkan meta-narasi tentang pembuatan film tanpa kehadiran fisik sang sutradara. Semangat kolaboratif dan improvisasi kru untuk menyelesaikan film ini sejalan dengan perjalanan aksi partisipatif untuk mewujudkan naskah-naskah yang belum ditulis bagi kehidupan dan masyarakat yang kita bayangkan. Merayakan kebaikan, persahabatan, kemungkinan, dan ciptaan bersama, para remaja ini dengan penuh harapan menyatakan: “Kita sudah setengah jalan, dan kita masih bermimpi, bersama banyak kawan yang kita temui di sepanjang perjalanan ini.”
— Aditi Shivaramakrishnan
Pengelola Program
1 Terjemahan oleh editor. Zile Liepins, “Seminars 68 | 69 | 70,” The Flaherty, 18 Agustus 2023, https://theflaherty.org/newsletter/seminars-68-69-70.