Kalimat bahwa masa lalu dan masa kini tidak bersambung dengan sendirinya, bahwa kitalah yang menyambungkannya, terasa hanya separuh benar. Sebagian ingatan datang sendiri tanpa kita minta. Seorang anak tumbuh dengan kebiasaan keluarganya, lalu ikut menjalankan kebiasaan itu tanpa pernah memutuskan. Tubuh kita tegang atau gemetar mendengar suara tertentu, padahal kita belum ingat kenapa. Kita melihat satu benda biasa, lalu teringat pada orang yang sudah lama tidak kita pikirkan. Dalam ketiga kejadian ini, tidak ada yang berkata, “Mari mengingat!” Ingatan datang lebih dulu, kemudian kita baru sadar bahwa kita sedang tersambung dengan ingatan tersebut.
Keterkaitan semacam inilah yang membuat kita melakukan apa yang datang setelahnya—seperti mengenali kaitan tersebut, menamainya, menyusunnya menjadi cerita, lalu memutuskan mana yang akan kita beritakan pada orang lain. Ada dua hal yang mudah tertukar dari fenomena ini, yaitu kaitan yang terjadi begitu saja dan kaitan yang kita buat sendiri. Jika semua kaitan dianggap kita yang buat, ingatan menjadi tafsir yang bebas. Orang boleh menghubungkan apa saja dengan apa saja—dan itulah apofenia: sebuah kecenderungan melihat pola dan makna pada hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan. Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko ingatan terletak pada masa kini. Soal utamanya bukan apakah sebuah ingatan akurat terhadap apa yang telah terjadi, melainkan apa yang ditimbulkannya pada orang-orang yang hidup kini.
Program ini menguji cara ingatan yang tidak sekadar digambarkan tanpa memperlihatkan akibatnya. About the pink cocoon (Binyu Wang, 2025) membuka dengan ruang bersalin, tempat 4 generasi dalam keluarga sedang menunggu seorang anak laki-laki lahir. Harapan itu datang karena keluarga ini sudah lama mengingat bahwa anak laki-laki lebih berharga, dan ingatan itu diteruskan dari ibu ke anak perempuannya—yang merasakan ingatan ibunya sejak lahir. Kini, tubuhnya merasakannya lagi. Keluarga ini tidak melupakan apa pun dan karenanyalah luka ini terus berulang. Kemudian, sebuah pertanyaan muncul: adakah ingatan yang tidak menekan siapa pun?
Ether (Luiza Calagian, 2025), melalui cara pandang seorang nenek berusia hampir seabad mengajak cucunya menyelami masa lalunya, mencoba mencari jawabannya. Kenangan tidak menuntut apa pun dan bukan menjadi kewajiban yang perlu ditanggung si cucu. Ini adalah cara nenek agar bersiap menghadapi kepergiannya sendiri. Jika biasanya ingatan diturunkan dari yang tua ke yang muda sebagai beban, di sini, ingatan justru menjadi bekal pribadi sang nenek. Ketika ia berbicara, si cucu mendengarkan. Ketika sang nenek diam, si cucu tetap mendengarkan, tidak mengisi diam itu dengan makna. Sebagian ingatan tetap utuh milik sang nenek. Film ini memperlihatkan bahwa ingatan yang tidak menekan adalah ingatan yang tahu kapan harus berhenti menafsirkan.
Dari diam yang dijaga seseorang, if we remember, will god forget? (Chanasorn Chaikitiporn, 2025) bergerak pada diam yang dijaga oleh sebuah tempat. Gereja di Udon Thani pernah jadi ruang rekreasi tentara Amerika, penitipan anak, panti asuhan, lalu menjadi tempat ibadah Evangelikal. Tidak semua lapisan itu terarsipkan. Film ini mengumpulkan tuturan ingatan dari berbagai generasi tentang tempat itu dan tidak memperlakukannya sebagai fakta. Ingatan diajukan sebagai kemungkinan sekaligus pertanyaan. Anak-anak yang membayangkan masa depan tempat itu memindahkan ingatan dari urusan masa lalu ke urusan masa depan. Sikap ini punya risikonya sendiri. Ada keraguan yang mengakui bahwa sebuah ingatan belum bisa dipastikan, dan ada keraguan yang dipakai untuk meniadakan peristiwanya. Keduanya bisa terdengar sama. Film ini tidak menunjukkan cara membedakannya.
Ping Pong (Tianji Yu, 2025) justru sebaliknya. Ingatan dipakai untuk menjatuhkan sebuah vonis, menjadi palu hakim. Kenangan terhadap seorang sahabat hadir lewat benda, lalu mendadak goyang oleh sebuah unggahan yang memperlihatkan pilihan politik sahabatnya. Di saat tempat lain menolak ingatan sebagai fakta, film ini menampilkan kehendak untuk mencari kepastian mutlak tentang siapa sahabat sebenarnya hanya dari satu bukti tunggal. Ketika kepastian itu gagal didapatkan, ingatan justru membawa kembali pada perjalanan persahabatan mereka, di mana ikatan emosional dan pandangan politik sebenarnya tidak pernah terpisah. Pertaruhannya jelas, yaitu bukan merekonstruksi masa lalu, tetapi menyelamatkan persahabatan yang sedang berlangsung.
Rangkaian film dalam program Dear Memory menegaskan bahwa cara kita menjauh dari cara apofenia bekerja bukanlah usaha meredam dorongan manusia untuk merangkai makna. Artinya, kita perlu menyeret kerja pemaknaan itu ke masa kini. Ketika ingatan, baik yang runtut maupun sekadar ditaut, beralih fungsi menjadi instrumen legitimasi, persoalan bukan sejauh mana kaitannya sahih secara historis. Program ini mengajak kita menarik jarak dari kehendak menafsirkan dan memegang kendali atas masa lalu. Di titik ini, kecenderungan merangkai kaitan tak lagi bermakna sebagai refleks pikiran semata. Ada pertaruhan etik di sana, sebuah provokasi bahwa setiap pola yang kita reka atas nama sejarah selalu menuntut pertanggungjawaban langsung pada manusia yang hidup hari ini.
— Gerry Junus
Pengelola Program