Di manakah letak kasih dalam tubuh kapitalisme? Film-film yang dipresentasikan dalam program ini mengabadikan laku yang berulang. Laku-laku di sini bukanlah hasil latihan seperti yang biasanya dilakukan seorang aktor untuk sebuah cerita, juga bukanlah sesuatu yang timbul seketika. Laku tersebut merupakan hasil dari sesuatu yang teratur, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Laku kegiatan yang lahir dari gerak sebuah tubuh, menanggalkan jejak pada dunia material di sekitarnya secara langsung, lalu pada orang-orang di sekitarnya. Kerja-kerja itu kemudian mengulir keluar, dengan jejak perubahan dalam setiap perulangannya, sedikit demi sedikit, hingga sang pekerja telah sepenuhnya mengubah segala sesuatu di sekitarnya. Waktu memperluas pilinan itu ke luar, sementara dokumenter menelusuri jejaknya hingga kembali ke titik pusat.
Setiap film dimulai dengan seorang individu yang pekerjaannya memiliki dampak mendalam pada tubuhnya sendiri—tubuh yang rapuh dan masygul. Mereka, layaknya segala sesuatu di sekitarnya, juga mengalami perubahan. Di lingkaran terdekat di sekitar mereka terdapat keluarga dan para rekan kerja. Para pengamat, mereka yang setiap hari mendokumentasikan aktivitas subjek bekerja. Satu langkah lebih jauh dari pusat lingkaran tersebut adalah lingkungan kerja sang pekerja. Lanskap sinematik hanya mampu membingkai sebagian kecil dari apa yang mereka bentuk; yang meluap dan tumpah melampaui setiap batas layar adalah tempat yang dibentuk oleh para pekerja sesuai dengan ambisi, kesedihan, kepedihan, dan kenyamanan mereka. Penonton melihat bentuk pilinan tersebut dari atas atau dari luar, sebuah bentuk yang mengarahkan penonton untuk memilin dengan jari-jari mereka berulang kali, mengundang rasa panas yang memancar dari pusat pilinan yang bersinar terang.
Mendokumentasikan para pekerja yang mencinta, mendamba, dan mencipta adalah bentuk perlawanan. Mengkontekstualisasikan pekerja agar tidak sekadar dipandang sebagai roda gigi dalam mesin atau hanya dinilai berdasarkan produktivitas ekonominya, sinema dokumenter menempatkan mereka sebagai lingkaran yang saling terjalin, layaknya tanaman yang tumbuh liar dan menjalar ke seluruh penjuru. Pekerja tidak sekadar menjadi objek produktivitas. Mereka menjelma ibu, seniman, pengrajin. Kekasih, penjaga, dan pemelihara kenangan. Sebuah perjuangan penuh kasih sebagai perlawanan terhadap tubuh kapitalisme.
— Jetri Bolintiam
Pengelola Program