Saat ini, kita sedang dalam masa di mana seni berada dalam pencapaian mutakhirnya yang fenomenal. Perkembangan gagasan, metode, perangkat, hingga faedahnya telah menjadi bagian utuh yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, hingga kerap dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya bagi pemangku kuasa. Dalam budaya populer, seni juga menjadi kebutuhan primer dalam menampilkan citra bagi masyarakat—bahkan sudah menjadi alat umum dalam mencari nafkah. Seni adalah kita. Jika manusia adalah makhluk sosial, maka seni adalah partikel sosial dalam tubuhnya. Lalu, apa yang menarik untuk ditelisik jika membicarakan musik dalam film dokumenter masa kini?
Sebagai bagian dari seni, film dan musik juga telah menubuh dalam gerak-gerik keseharian kita. Mereka hadir saat kita tersadar dari tidur setiap hari. Bebunyian dan gerakan gambar hadir mondar-mandir tanpa kita butuhkan. Mereka diciptakan oleh orang-orang kita kenal dan yang asing. Termasuk akal imitasi tanpa terkecuali. Mereka dihadirkan oleh tabiat menjalani hidup yang disokong oleh mesin-mesin lunak yang kita bayar berlangganan. Dalam keseharian seni seperti ini, membicarakan kehidupan menjadi sangat seru sambil syuting-syuting dan nyanyi-nyanyi. Film dan musik niscaya tersirat dan tercipta saat kita ngudarasa (berkeluh kesah, ed.). Seperti saat kita membicarakan pidato Pak Presiden bersama pemain basket profesional sambil main basket.
Dua film panjang di program ini mengajak kita terbebas dari apa dan cara musik dalam film bekerja. Mereka mempersembahkan kisah hidup melalui paparan rekaman kegiatan dan selingan lagu yang subtil. Film direkam seperti kegiatan biasa lainnya yang kita lakukan setiap hari. Musik hadir di saat ia memang perlu muncul dalam kisah yang sedang dituturkan. Tidak ada politik estetika. Tidak ada lagu yang diulas. Tidak ada urgensi untuk mengutarakan perlunya musik dalam mendokumentasikan kehidupan. Kita diajak untuk larut memahami pengalaman hidup seorang kerabat yang kebetulan adalah musisi. Lalu kita bersyukur ada musik di film tersebut sehingga kita tidak ketiduran. Begitulah seni di masa kini.
— Wok The Rock
Pengelola Program