Di lorong-lorong gelap tambang perak, dinding kusam yang dipenuhi coret-moret putus asa para interniran, sampai gedung-gedung tua di Palermo, Italia, saat ini semua orang di dunia merasakan sesuatu yang sama: penindasan. Penindasan dengan berbagai bentuk itu bisa jadi bermuara pada kultur kapitalisme akut yang menjadi batu penjuru ekonomi global. Carut-marut dengan seluruh spektrum masalahnya mampu diingat dan dicatat oleh sebuah fenomena sinematik bernama film dokumenter. Hadir bukan saja sebagai ekspresi estetik, tapi membuatnya lebih tajam dan ideologis; sebuah catatan zaman yang bergejolak. Keberanian mencatat itu bisa jadi karena genre film ini bisa dilakukan siapa saja. Memang akan jadi lebih “berseni” jika dilakukan oleh profesional, tapi lepas dari semua pengastaan itu, pada dasarnya dokumenter adalah film dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Kesederhanaan itu terlihat pada Second Skin (Mariia Lapidus, 2026) yang difilmkan di dalam ruang dengan dua orang pemeran saja. Ia mencatat dan mendeskripsikan ulang kekerasan seksual di Rusia; menyeret penonton ke dalam ruang interogasi bersama korban; melihat detail dan kekerasan seksual dari dekat, seolah kitalah saksi mata atau pelakunya. Kesederhanaan film dokumenter memendekan jarak realitas. Kekerasan seksual tidak tampil dengan “glamour sensational” atau dipenuhi petatah-petitih formal, tapi tampil langsung. Seketika. Brutal.
Nampaknya, dalam kemurungan dunia hari ini, di antara badai, gempa, dan kekacauan politik, film dokumenter tidak ingin memberi roti dan anggur—seperti banyak film komersial misalnya—tapi justru mengajak penonton mengalami lukanya. Tidak lari, tapi datang menantang. Keberanian bersikap dengan seluruh konsekuensi dan spektrum estetikanya menempatkan para penggerak film dokumenter seperti gerilyawan di rimba raya; militan sekaligus konyol.
Pun begitu di antara catatan getir nan gelap yang dibuat sutradara film dokumenter itu, tetaplah menyisakan mata penyair di tengah perang gerilya kebudayaan yang tak pernah selesai. The building site (Tiziano Locci, Tito Puglielli; 2025) adalah penyair terakhir dari gerombolan gerilya ini. Film ini mencatat kehilangan, pemiskinan, dan peminggiran penduduk lokal akibat gentrifikasi yang terjadi pada kota-kota modern akibat disrupsi digital. Ia tidak hanya mempertontonkan bangunan yang dirobohkan, akan tetapi melangkah lebih jauh—masuk lewat detail-detailnya. Kamera menangkap lorong-lorong rumah tua apuk di Palermo dan gemerincing surai pemisah ruang, sepintas seperti melihat lukisan gelap terang Caravaggio.
Sikap visual yang merayakan dan membiarkan detail fotografis menyusun narasinya sendiri mengingatkan pada bahasa puisi Federico García Lorca atau Subagio Sastrowardoyo, di mana narasi kehilangan dibentuk lewat igauan, membuat pembaca hanyut pada perasaan kehilangannya sendiri. Jadi, alih-alih meng-getuni kehilangan di Palermo itu, penonton berefleksi pada kehilangan dalam konteksnya sendiri; gedung-gedung tua di kota tua Semarang atau rumah kebon di Banyuwangi atau Sidoarjo. Refleksi itu adalah buah atau konsekuensi dari detail yang disajikan. Mengalihkan penonton pada gambar besarnya, “menjerumuskannya” pada ziarah gambar-gambar personal dan kecil.
Selain itu, terdapat film-film lain yang memperlihatkan penonton lokal pada situasi Indonesia hari ini: Smell of Diesel (Natasha Neri, Gizele Martins; 2025) dan Collective Memory (Cristina Colmenares, 2025). Narasi yang dibawa begitu dekat, nyaris hadir tanpa jarak. Memang, film dokumenter digarami dengan jihad aktivisme sehingga dengan keberanian atau kekonyolannya mencatat hal atau kejadian yang dilupakan media utama, menjadikan fenomena sosial tetap diingat dan relevan dibicarakan, bahkan di belahan dunia lainnya.
Kedua film ini dan juga banyak film dokumenter dalam program festival tahun ini melakukan tugas dan peran yang lupa atau takut dijalankan oleh seni yang hari ini sudah dirudapaksa industri kreatif. Mereka mengingatkan bahwa dunia sedang menuju pada kiamat kecil, entah untuk keberapa kalinya, dan kita akan jadi saksi. Dari sinilah kita bisa memilih untuk tetap larut diam di kursi penonton atau melempar kursi itu untuk segera mencari jalan perubahan.
— Agung Kurniawan
Pengelola Program