Biasanya, kita membahas tentang kenangan atas ruang-ruang yang telah hilang dari hidup kita. Program ini mencoba membalikkan hal tersebut. Bagaimana jika justru ruang-ruang itulah yang bermimpi, dan kita adalah apa yang mereka kenang?
Dokumenter sering kali dituntut untuk membuktikan bahwa sesuatu telah terjadi. Saya tidak pernah sepenuhnya percaya hal ini. Dokumenter paling jujur yang saya ketahui merupakan dokumenter yang berani mengungkap apa yang tak dapat ditangkap oleh kamera.
Ingatan bukanlah arsip. Ingatan adalah mimpi yang tanpa henti kita perbarui. Foto-foto dalam album keluarga berisi senyuman yang diambil pada hari-hari bahagia. Sejarah yang diajarkan kepada kita hanyalah versi-versi yang bertahan karena seseorang memiliki otoritas untuk menceritakannya. Rumah-rumah tempat kita tumbuh kini sebagian besar hanya ada dalam ingatan, sebagaimana kita mengingat dan menginginkannya. Dengan demikian, merekam masa lalu secara jujur bukan sekadar mendokumentasikannya. Namun, berarti mengenangnya dengan titi, dengan kesadaran bahwa setiap gambar merupakan bagian dari kesaksian sekaligus kerinduan.
Perihal ini adalah sesuatu yang penting, jauh melampaui sebelumnya. Kita hidup di zaman yang cepat menghapus jejak: banjir yang semakin sering, kawasan permukiman yang dibongkar demi pembangunan, kota-kota yang ditulis ulang oleh kekuatan politik, serta komunitas-komunitas yang tersebar melintasi perbatasan. Ketika ruang-ruang menghilang secepat ini, gambar seringkali menjadi satu-satunya hal yang tersisa. Dan gambar dari sebuah tempat yang hilang tidak pernah netral. Gambar adalah tindakan perlawanan terhadap keterlupaan, sekaligus pengakuan bahwa keterlupaan sebenarnya sedang berlangsung.
Keempat film dalam program ini bergerak dalam konteks tersebut. Dalam Rainy Day Mother (Helmi Yusron, 2026), air banjir merembes masuk ke dalam rumah sebuah keluarga dan meresap ke dalam foto-foto yang disimpan di sana. Saat sang ibu menyortir foto yang mulai memudar di tangannya, ia dan putranya berbincang tentang iman dan pernikahan, serta masa depan yang masih ia impikan untuk sang putra. Rumah itu menyimpan dua mimpi sekaligus: mimpi yang hanyut terbawa banjir, dan mimpi yang belum terwujud. The Other Spring (Monica Maria Moraru, 2026) membawa kita ke Nehoiu, sebuah kota di Rumania yang pernah hanyut terbawa banjir di bawah rezim komunis. Di sini, masa lalu menolak untuk tetap terkubur. Arwah-arwah berkeliaran di masa kini, dan sang sutradara masuk ke dalam filmnya sendiri untuk bertanya: siapa yang berhak menceritakan kisah sebuah kota, dan versi mana yang sepatutnya dipercaya.
Dalam Retrograde (Nikki Lam, 2025), Hong Kong menjadi ruang yang hanya dapat dijangkau melalui ingatan. Dibuat oleh para diaspora setelah tahun 2019, film ini merupakan renungan tentang duka, serta tentang menciptakan karya mengenai sebuah rumah yang terus bergeser saat kita berusaha mempertahankannya. “Mungkins aja, dia tak akan selalu mengingat, tetapi dia akan selamanya melupakan.” A Small Alley Dreams of Us (Yi Lu, 2025) memberikan kata penutup kepada ruang itu sendiri. Pada malam sebelum penghancurannya, sebuah gang di kota kecil Tiongkok yang sepi memimpikan anak-anak yang pernah mengisinya—anak-anak yang, ternyata, tinggal di belahan dunia lain.
Saya mulai berpikir bahwa dokumenter dapat melakukan sesuatu yang penuh kelembutan, bukan untuk membekukan realitas, melainkan untuk menjadi kawan bagi apa yang sedang menghilang, dan membiarkan apa yang menghilang itu menjadi kawan bagi kita. Tempat dan ruang kita berasal mungkin akan dan telah lenyap—dan mungkin saja mereka akan tetap mengenang kita.
— Yu Ern Chia
Pengelola Program