Praktik dokumenter generasi baru memperlihatkan berbagai cara membuat film berhadapan dengan realitas melalui instrumen sinema. Ada berbagai upaya untuk menggunakan kamera, seluloid, hingga proses kolaborasi sebagai cara untuk mengolah realitas. Pilihan material dan metode tersebut memperlihatkan kemungkinan yang berbeda dalam membangun hubungan dengan subjek. Namun, penggunaan instrumen yang beragam tidak dengan sendirinya menunjukkan kesadaran terhadap bentuk. Yang menjadi penting adalah cara pembuat film memahami konsekuensi dari pilihan-pilihan tersebut terhadap film yang dihasilkannya.
Hal lain yang kami temukan adalah kecenderungan untuk berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan pembuatnya. Ingatan, peristiwa personal, dan keseharian menjadi titik mula untuk membicarakan persoalan yang lebih luas. Ini memperlihatkan bagaimana generasi baru menemukan persoalan melalui lingkungan yang mereka hidupi sendiri. Akan tetapi, pengalaman personal tetap membutuhkan pemahaman terhadap konteks yang melingkupinya. Kedekatan dengan persoalan tidak selalu berarti kedalaman dalam membacanya.
Menarik untuk melihat cara pembuat film generasi baru menyusun hubungan antara pengalaman individu dan kondisi sosial yang lebih besar. Bagaimana mereka menggunakan medium untuk membicarakan sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya mereka pahami? Bagaimana sebuah fragmen pengalaman dapat membuka pembacaan terhadap persoalan yang lebih luas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting untuk membaca perkembangan dokumenter generasi baru, sekaligus melihat kemungkinan dan keterbatasan yang masih mereka hadapi dalam praktik sinema Indonesia kini.
Catatan seleksi disusun oleh Taufiqurrahman Kifu
Tim seleksi kompetisi: Taufiqurrahman Kifu, Alia Damaihati, Ratno Hermanto, Kurnia Yudha F.
Catatan Umum Kompetisi 2026
Dokumenter tidak hanya bekerja dengan merekam, tetapi juga membuka kemungkinan tentang apa yang belum terwujud. Sebagian film berupaya menelusuri persoalan yang belum usai atau pengalaman yang belum memperoleh tempat dalam ingatan bersama. Sebagian lainnya bergerak meraba masa yang bahkan belum bisa kita bayangkan. Keduanya berangkat dari kegelisahan yang sama dari masa kini. Melalui pembacaan ini, konvergensi menggambarkan dua waktu yang bertemu dan kulminasi menggambarkan apa yang harus ditanggung mengakhiri penundaan dengan tidak mengenang masa lalu dan menantikan masa depan.