Apa yang bisa kita ketahui tentang masa lalu dan kehidupan orang lain melalui kamera? Pertanyaan ini menjadi titik temu film-film dalam Kompetisi Panjang Indonesia tahun ini. Masing-masing berangkat dari persoalan yang berbeda, tetapi memperlihatkan bahwa gambar selalu memiliki posisi dan kepentingan dalam menceritakan kenyataan.
Film yang mengolah arsip memperlihatkan bahwa sejarah tidak hadir begitu saja melalui rekaman masa lalu. Pemilihan, penyusunan, dan pemberian konteks terhadap gambar menentukan cara suatu peristiwa dipahami kembali. Hubungan antara gambar dan sejarah juga muncul dalam film yang mengangkat kehidupan seorang gemblak setelah peristiwa 1965. Jika narasi tentang kekerasan politik sering berhenti pada peristiwa dan dampaknya secara langsung, kisah ini membawa perhatian pada kehidupan yang terus berjalan setelahnya. Sejarah hadir dalam pengalaman manusia, bahkan ketika pengalaman tersebut jarang mendapat tempat dalam ingatan publik.
Film-film lainnya memperluas persoalan ini melalui cara mereka menggunakan kamera, suara, durasi, dan teknologi. Kamera dapat mengubah peristiwa yang sedang direkam, sementara pilihan bentuk tertentu menempatkan penonton dalam pengalaman yang tidak selalu nyaman.
Dari arsip hingga pengamatan langsung, dari sejarah politik hingga kehidupan sehari-hari, Kompetisi Panjang Indonesia tahun ini memperlihatkan bahwa dokumenter selalu melibatkan keputusan tentang apa yang direkam, bagaimana gambar disusun, dan siapa yang memperoleh tempat dalam cerita—dan kenyataan di hadapan kamera tidak pernah sepenuhnya terpisah dari cara kita melihatnya.
Catatan seleksi disusun oleh Eric Sasono
Tim seleksi kompetisi: Eric Sasono, Alia Damaihati, Ratno Hermanto, Kurnia Yudha F.
Catatan Umum Kompetisi 2026
Dokumenter tidak hanya bekerja dengan merekam, tetapi juga membuka kemungkinan tentang apa yang belum terwujud. Sebagian film berupaya menelusuri persoalan yang belum usai atau pengalaman yang belum memperoleh tempat dalam ingatan bersama. Sebagian lainnya bergerak meraba masa yang bahkan belum bisa kita bayangkan. Keduanya berangkat dari kegelisahan yang sama dari masa kini. Melalui pembacaan ini, konvergensi menggambarkan dua waktu yang bertemu dan kulminasi menggambarkan apa yang harus ditanggung mengakhiri penundaan dengan tidak mengenang masa lalu dan menantikan masa depan.