Dalam Ruang Liminal, Tubuh Liminal

— Ulasan Film
FFD 2025
Gamodi (2023)

Keberadaan ruang-ruang queer dan trans membuat kita memandangnya lebih dari sekadar wadah aktivitas manusia, melainkan sebagai tempat di mana kekuasaan dan identitas dipertaruhkan dan dinegosiasikan. Ruang-ruang queer sering muncul di sela yang temporer, dinamis, dan terkadang tak terlihat dari tatanan ruang dominan, baik itu lantai dansa, klub malam, atau ruang daring. Menjadikan suatu ruang queer berarti mendobrak tatanan heteronormatifnya dan membayangkan bagaimana semua tubuh, termasuk yang tubuh dan identitasnya tidak sesuai dengan ekspektasi normatif, dapat berinteraksi dan berhubungan di dalamnya, serta bagaimana ruang tersebut dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan ruang queer adalah cara untuk mengubah ketegangan sehari-hari, menjadikan yang familiar menjadi ambigu. Dalam Gamodi (Felix Kalmenson, 2023), ruang queer muncul melalui reruntuhan kota.

Gamodi (2023)

Berlatar di tengah pandemi COVID-19 di sebuah gedung apartemen terbengkalai di Tbilisi, Georgia, Gamodi karya Felix Kalmenson adalah refleksi atas batas-batas gender, seksualitas, dan wilayahnya. Dengan narasi abstrak dan minimalis, film ini mengikuti Viktor, seorang drag queen legendaris, dan Tarzan, seorang remaja jalanan, saat mereka berusaha menerima kelelahan kolektif mereka—bertahan hidup dengan momen-momen keintiman singkat di sudut-sudut gelap kota. Sementara siaran televisi sesekali memberi tahu mereka tentang dunia luar, semakin tidak jelas apakah mereka masih hidup di dimensi yang sama.

Sepanjang film, sutradara Kalmenson fokus pada aspek spasial dan temporal. Ritme lambat dan bingkai lebar memaksa penonton untuk menghuni psikogeografi reruntuhan bangunan. Hal ini membuat penonton menjadi peserta aktif dalam mengalami dan membayangkan ulang ruang tersebut seolah-olah sedang melakukan pengembaraan. Secara sinematik, waktu seakan terhenti; reruntuhan, yang dihidupkan oleh jejak-jejak mereka yang pernah menghuninya, membentang tanpa batas, menjadikan manusia di dalamnya tampak kecil dan fana. Memberi judul film ini “Gamodi”, yang berarti “ keluarlah,” merupakan hal yang ironis di masa pandemi. Selain itu, keluar (mengidentifikasi diri secara terbuka, ed.) sebagai queer/trans saat dunia luar menentang tubuh dan identitas yang dianggap tidak sesuai, adalah tantangan tersendiri. Di tengah paradoks inilah Gamodi (2023) hadir: apakah kita harus hidup di tengah reruntuhan, atau keluar dengan risiko dan bahaya yang mengancam?

Gamodi (2023)

Dengan merenungkan lebih dalam tentang ruang liminal, kita dapat belajar bahwa dikotomi palsu ini tidak seharusnya berakhir di tempat tersebut. Di sini, bukanlah manusia yang menjadi fokus, melainkan reruntuhan—karena ruang-ruang ini menyimpan jejak kegigihan dan kemungkinan akan pembaruan. Dengan mengeksplorasi reruntuhan, film ini terlibat dalam aktivitas politik dan emosional yang berkembang; dengan membayangkan dunia yang berbeda, film ini mendorong penonton untuk mempertimbangkan kehancuran bukan sebagai akhir, melainkan sebagai ruang untuk terus berubah. Bahkan dalam kehancuran, hubungan baru, bentuk-bentuk perawatan baru, dan keintiman baru tercipta. Untuk keluar—Gamodi!—mungkin adalah cara pandang yang keliru. Sebaliknya, kita harus tinggal di antara keduanya. Memaknai kembali reruntuhan sebagai ruang potensi di mana kita akan bangkit melampaui batas-batas kaku terhadap gender, waktu, dan tempat! (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Gamodi (გამოდი)
Felix Kalmenson | 97 min | 2023 | Kanada, Georgia
Seleksi Resmi untuk program Utopia/Dystopia
Festival Film Dokumenter 2025