Sinema, Jujur, dan Dilucuti

— Ulasan Film
FFD 2025

Bazin berargumen bahwa sinema dalam pengertian yang paling murni berfungsi sebagai sesuatu yang indeksikal. Berbeda dengan pelukis atau penulis yang memilih untuk beroperasi dalam gaya “realistik” terhadap dunia objektif—sinema tidak pernah sekadar memilih “realisme” sebagai pilihan gaya. Realisme dalam sinema adalah sesuatu yang sudah ada, suatu kenyataan yang tak terelakkan. Realisme adalah titik awal setiap film, berbeda dengan kebanyakan medium lain di mana realisme adalah tujuan akhirnya. Memperluas gagasan Bazin bahwa sinema melestarikan realitas, Deleuze berargumen bahwa sinema memikirkan realitas—bahwa gambar itu sendiri dapat menghasilkan suatu gagasan, bahkan tanpa kausalitas aksi dan cerita, karena waktu itu sendiri langsung ditampilkan di dalamnya. Hal ini, pada gilirannya, memaksa penonton untuk merasakan beban waktu yang berlalu saat mereka menonton sinema. Hal ini, dalam istilahnya, adalah “gambar waktu”.

Dissipate (Victor Laet, 2025) adalah studi kasus tentang konsep-konsep tersebut, ditampilkan dalam dua bagian yang sepenuhnya berbeda. Bagian pertama adalah kolase Brakhagian dari gerakan dan tekstur, seolah-olah diselamatkan dari rekaman kolam renang yang ditimpa dengan berbagai cahaya bergerak. Audio yang menyertainya juga muncul secara singkat dan berulang: “[…] dalam sekejap, dalam sekejap…” Bagian akhir film menampilkan satu adegan statis panjang dari dua saudara perempuan mabuk yang berenang dan berbicara satu sama lain—masuk dan keluar dari frame saat mereka bergerak; ibu mereka yang berbicara kepada mereka sambil mengingat kenangan masa lalunya; dan Victor, sang sutradara yang ditempatkan di luar frame, yang hanya menonton dari kamera.

Bagian pertama film berfokus pada cahaya, warna, gerakan, dan tekstur yang bersatu secara mandiri tanpa cerita atau karakter. Bagian akhir kemudian memasukkan ruang dan subjek yang berinteraksi dalam film. Kolam renang yang terekam dalam film menjadi ruang film, dan kedua saudara perempuan serta ibunya sebagai subjek. Selain ruang nyata di mana dan kapan peristiwa itu terjadi pada suatu waktu, rekaman kolam renang tersebut merupakan ruang yang dibangun—yaitu ruang sinematik. Melalui bingkai statis, minimnya penyuntingan, dan panjang fokus yang konstan, film ini menawarkan pengalaman durasi nyata, la durée: dirasakan, berkelanjutan, dan kualitatif. Bagian pertama film menyiratkan bahwa, dalam bentuk paling murni dari gambar waktu, bahkan tanpa kehadiran subjek dan konvensi logika ruang yang muncul pada bagian kedua: sinema adalah waktu itu sendiri yang terlihat dan dirasakan.

Film pendek ini, dalam bentuknya yang tampak sederhana, menyintesis gambar bergerak dengan dan tanpa logika spasial dan subjek sebagai eksperimen tentang cara sinema membuat penonton merasa. Apakah sinema lebih bermakna dengan adanya kesadaran ruang yang eksplisit di dalamnya? Bisakah sinema berfungsi sempurna tanpa adanya kesadaran ruang tersebut? Bagaimana rasanya menonton momen yang terekam berlangsung dalam durasi penuh tanpa potongan dan tanpa gerakan kamera? Metode mana yang paling baik untuk melestarikan momen dan memori? Di tengah pertanyaan-pertanyaan ini, satu hal menjadi jelas—bahkan ketika dikupas habis, Dissipate (2025) membuktikan bahwa gambarnya dan waktunya tidak dapat dipisahkan. Seperti kita, yang diikat oleh waktu yang mengalir melalui kita. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Dissipate (De Hoje a Oito)
Victor Laet | 10 min | 2025 | Brasil
Seleksi Resmi untuk program Docs Docs: Short!
Festival Film Dokumenter 2025