Di Balik Sekelebat Tabir Besi Negara

— Ulasan Film
FFD 2025
Bachtiar (2025)

Pustaka film Indonesia dan sejarah di baliknya nampaknya didistorsi sedemikian rupa oleh negara yang menutup pintu, menyembunyikan segala jelmaan ide yang dianggap buah pemikiran doktrin kiri di balik tabir besi. Kita hanya dapat mengintip penggalan-penggalan di sekelebat bayangan yang terpancar di lempengan besi tersebut.

“Jika kita masih percaya bahwa film adalah pendaran-pendaran cahaya yang menghadirkan gambar, maka ruang gelap, hakikatnya: kenyataan yang harus kita terima dalam dunia sinema. Kegelapan dalam sinema menghadirkan cerita-cerita yang beragam: cinta, tragedi, perjuangan, komedi, dan rekaman realitas kita dalam imajinasi film. Sering kita diam dan tersihir oleh ruang gelap yang penuh misteri ini. Misteri dalam sinema juga mengitari orang-orang di belakangnya.”

Kalimat pengantar dari sutradara Hafiz Rancajale membawa kita pada perkenalan sosok pelopor perfilman Indonesia, Bachtiar Siagian. Nama tersebut adalah nama yang samar didengar orang, mengingat ia adalah katalis yang mendefinisikan film Indonesia dengan mazhab neorealis yang dikawinkan dengan romantisme kerakyatannya. Hilangnya muruah kenamaan Bachtiar disebabkan oleh pemusnahan dan distorsi ideologi oleh negara yang menarget Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan institusi kebudayaan lainnya yang dianggap punya afiliasi kuat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Operasi ini adalah operasi pembersihan ide progresif besar-besaran, menjadikan Bachtiar sebagai tahanan politik yang berpindah penjara mulai dari Salemba, Nusa Kambangan, hingga Pulau Buru selama 12 tahun. Bersama dengan penciptanya, hampir seluruh film, naskah drama, lagu, dan karya-karya lain kepunyaan Bachtiar tersapu, terpencar, dan dilupakan.

Dokumenter ini hadir sebagai kontestasi terhadap narasi sejarah film di Indonesia yang didominasi oleh kelompok pelopor film nasionalis di bawah motor industri awal kebangkitan film Indonesia, Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI). Pada saat itu, PERFINI dikepalai oleh nama besar seperti Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia. Bersama dengan Bunga dan Indra Siagian–anak-anak termuda Bachtiar–tim Forum Lenteng berupaya mengisi lakuna perfilman Bachtiar. Mereka akhirnya bertemu dengan kumpulan memori Bachtiar melalui surat-surat, naskah yang tercecer di rumah keluarga, dan orang-orang yang sempat berpapasan atau menyimpan kenangan lama tentang Bachtiar dan karyanya.

Penelisikan arsip berangkat dari penelusuran di Sinematek, rekaman wawancara dengan jurnalis Nepal Khrisna Sen, bertemu dengan anggota LEKRA dan kerabat-kerabat lama Bachtiar, hingga akhirnya sampai ke kampung halaman Bachtiar di Deli. Penelisikan ini berujung pada dialog bersama warga di daerah perkebunan di bawah dataran gunung Sinabung, pedalaman Berastagi, Sebaraya, Tanah Karo, tempat latar film monumental Bachtiar, Turang (1957).

Bachtiar (2025)

Bachtiar (2025) sangat krusial dalam perluasan narasi dan diskursus film di Indonesia. Selain menyajikan kelengkapan dan kepadatan data dalam penelusuran arsip, ada sebuah kelahiran baru romantisme dunia film mengenai semangat internasionalisme–baik dalam artian global ke luar maupun ke dalam–dan gaya solidaritas yang terlahir dari proses menemukan kembali sosok Bachtiar. Agaknya, ketika kita sudah dapat mengintip sedikit tabir besi itu, ada banyak tumpukan sejarah terbenam di samudra pustaka arsip yang terhampar di seluruh penjuru dunia; dan mereka menunggu kita untuk kembali menemukannya. (Gantar Sinaga) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Bachtiar
Hafiz Rancajale | 128 min | 2025 | DKI Jakarta
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Indonesia
Festival Film Dokumenter 2025