Antara Gelap Bioskop dan Bara di Luar

— Ulasan Film
FFD 2025
Last May in Theaters (2025)

Apa yang kalian ingat ketika Titanic (James Cameron, 1997) tayang di Indonesia? Antrean panjang di depan bioskop? Isak tangis di akhir film? Atau sesuatu yang lain, yang retak di luar layar, di dunia nyata?

Aku belum lahir waktu itu. Namun, Last May in Theaters (Arief Budiman, 2025) menyadarkanku bahwa tahun sebuah film dirilis bukan sekadar tanggal di kalender. Ia juga bercerita tentang dunia yang tak tenang, tentang amarah yang menyala di luar gedung ketika di dalamnya orang-orang justru tenggelam dalam kisah cinta yang karam.

Last May in Theaters (2025)

Tahun 1998, ketika penonton menyaksikan kapal raksasa itu tenggelam di layar, Jakarta mulai berasap. Belum terbakar, tapi udaranya berat: penuh sesuatu yang menunggu untuk memantik bara api. Di luar gedung bioskop, kepercayaan terhadap negeri sendiri mulai runtuh. Namun, Titanic hanyalah salah satu fragmen dari banyak ingatan yang dihadirkan film ini. Last May in Theaters menelusuri berbagai potongan film yang pernah diputar di masa-masa genting: rekaman hiburan yang tanpa sadar menyimpan gema sejarah yang sedang berlangsung di luar layar. Di situlah Last May in Theaters berakar: pada Mei yang terpaut lokasi yang jauh: Gwangju 1980 dan Jakarta 1998. Dua kota yang sama-sama menyaksikan rakyatnya melawan ketakutan, dua luka yang melahirkan demokrasi, dua upaya untuk bertahan dan memahami apa artinya menjadi manusia di tengah sejarah yang sedang retak.

Melalui dokumenter ini, sutradara Arief Budiman tidak terlalu menunjukkan kerusuhan. Pandangannya justru diarahkan ke dalam: ke ruang gelap yang diciptakan untuk melarikan diri—ya, bioskop. Tempat kala kita datang untuk melupakan, mencari jeda, dan berbagi keheningan dengan orang asing. Dalam dokumenter ini, bioskop berubah menjadi sesuatu yang lain: ambang antara aman dan genting, tempat fiksi dan kenyataan saling menembus batas. Dua petugas tiket, satu di Gwangju dan satu di Jakarta, mencoba mengingat kembali masa itu. Tidak dengan teriakan, tapi dengan kisah yang lembut dan jujur—suara yang nyaris hilang tapi menolak untuk benar-benar padam.

Last May in Theaters (2025)

Last May in Theaters menunjukkan bahwa bahkan ketidakhadiran pun punya suara. Diam, jeda, ruang kosong, semuanya berbicara. Mereka bercerita tentang apa yang pernah ada, dan tentang mereka yang menjaga agar cahaya tetap menyala ketika dunia di luar sedang terbakar. Tentang para pekerja, penjual tiket, penjaga proyektor: mereka yang tak pernah muncul di layar, tapi tanpa mereka, tak ada yang bisa kita tonton.

Ketika kredit film bergulir, tak ada yang benar-benar berakhir. Mungkin memang begitu cara kita mengingat, bukan? Menolak menutup cerita. Karena sejarah bukan sesuatu yang selesai. Ia terus berputar, frame demi frame; dalam gelap menunggu seseorang untuk kembali menyalakan lampu. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Last May in Theaters
Arief Budiman | 21 min | 2025 | Indonesia, Korea Selatan
Seleksi Resmi untuk program Spektrum
Festival Film Dokumenter 2025