Hantu-hantu itu kembali datang. Hantu masa lalu yang mengetuk realitas hari ini. Membisikkan suara yang tak tersiar. Mengabarkan trauma yang terpendam.
Melalui kunjungan sutradara Arief Budiman ke Jepang pada Januari 2024, kunjungan perdananya ke Negeri Sakura, hantu itu datang padanya. Dalam liminalitas antara realitas yang nyata dan maya, suara-suara dari sosok perempuan hadir menghampiri Sutradara Arief. Suara-suara itu masuk ke ruang bawah sadarnya dan berusaha untuk membawa sebuah kabar.
Shadow of the Sakura (2025) merentangkan kemungkinan sekaligus pertanyaan perihal logika mistik mengenai eksistensi hantu. Pertanyaan tersebut bukan sekadar kalimat interogatif soal keyakinan, melainkan pemantik yang menjadi jembatan untuk menggiring kita menuju narasi yang lebih besar, tragedi para ianfu. Montase gambar arsip, rekaman perjalanan, potret bangunan-bangunan tua, hingga gambar yang dikonstruksikan dan disusun ulang diolah kembali untuk mereproduksi ingatan mengenai hantu masa lalu tersebut. Ragam bentang suara (soundscape) pun dihadirkan dan disusun dalam beberapa lapisan untuk semakin menenggelamkan kita pada alam lain—dunia masa lalu.

Sejarah kelam ianfu menjadi luka lama yang meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintasnya. Dalam rentang tiga setengah tahun, para perempuan muda di Indonesia terpaksa menjadi korban atas kekerasan seksual yang dilakukan oleh para tentara Jepang di masa okupasinya. Para perempuan muda dalam rentang usia 13 hingga 18 tahun dijadikan alat pemuas hasrat tanpa sedikit pun kehendak mereka. Kejahatan ini dirasakan pula oleh para perempuan muda di negara lain yang diokupasi sebagai tanah jajahan Jepang.
Hari ini, para penyintas tragedi ianfu telah wafat, meninggalkan sisa trauma dan duka yang tidak berakhir begitu saja. Melalui pendekatan performatif, sutradara Arief melakukan wawancara imajiner dengan hantu masa lalu yang bergentayangan menuntut keadilan. Melalui medium sosok perempuan Jawa, wawancara itu mendedah trauma, luka, dan ingatan yang membekas dengan lekat. Selanjutnya, melalui suara dari masa lalu itu, kita dibawa pada bekas lokasi ianjo—ruang-ruang yang menjadi saksi atas tragedi perbudakan seksual yang menimpa para perempuan ianfu.

Kamar-kamar penuh noda, ranjang berkarat, bercak darah, dan bangunan tua menjadi saksi bisu tragedi kemanusian. Dalam film sepanjang 28 menit ini, lokasi-lokasi silih berganti ditampilkan bergantian dengan arsip lainnya. Kesaksian demi kesaksian dihadirkan. Membuka luka lama sekaligus menyingkap sejarah yang sempat rapat lesap. Suara hantu itu masih menggema dalam ragam lapis suara. Di lain sisi, gambar-gambar arsip diolah dan dimanipulasikan untuk merekonstruksi realitas melalui AI. Dunia akan terus dihantui dengan trauma dan luka yang menganga. Ingatan yang kadung lepas dari sejarah.
Hantu-hantu masa lalu itu tidak sempat berpulang dengan tenang. Mereka masih membawa ragam kesaksian dan menuntut keadilan. Barangkali para penyintas kejahatan perang telah tiada dalam dunia yang wadak ini. Namun, sejarah akan senantiasa mencatat dan menjadi hantu masa lalu yang terus bergentayangan. (Ahmad Radhitya Alam) (Ed. Timmie)
Detail Film
Shadow of the Sakura
Arief Budiman | 28 min | 2025 | D.I. Yogyakarta, Indonesia; Jepang
Seleksi Resmi untuk program Lanskap
Festival Film Dokumenter 2025



