Ayo Bermain Sore ini!

— Ulasan Film
FFD 2025
Our Rangsot (2025)

Sebagai pemuda yang lahir di awal 2000-an, aku masih mengalami kegiatan sore di masa kecilku yang diisi dengan permainan tanpa gawai bersama teman. Mulai dari permainan yang menggunakan alat peraga tambahan seperti kelereng, layangan, atau bekel, hingga yang hanya membutuhkan diri seperti kucing-kucingan, garasin, dan sondah. Semuanya terasa sangat mengasyikan, tidak lupa juga dilengkapi dengan tertawaan dan kadang beberapa permainan mengharuskan kami untuk bernyanyi terlebih dahulu.

Sayangnya, permainan-permainan semacam itu sudah hampir tidak pernah aku lakukan lagi. Kalau tidak salah mengingat, aku terakhir melakukannya saat SD. Lalu, aku hampir tidak pernah memikirkan ulang ingatan-ingatanku terhadap semua permainan itu. Namun, Our Rangsot (Dhuha Ramadhani, 2025) kembali memaksa otakku untuk kembali memanggil memori terhadap permainan masa kecilku.

Our Rangsot (2025)

Our Rangsot, berusaha kembali mengurai cerita terhadap permainan-permainan lawas. Dalam durasi 90 menit, Ramadhani mengarahkan para protagonis untuk kembali menuturkan, menyanyikan, menjelaskan, menginterpretasi, hingga memainkan permainan-permainan lama yang sepertinya kini sudah jarang dipraktikkan. Protagonis film yang didominasi oleh para ibu dan bapak, Ramadhani mengisyaratkan sebuah kondisi yang terjadi kini. Hampir tidak ada anak-anak yang kembali mempraktikkan permainan-permainan jaman dulu. Pun ketika Ramadhani harus menghadirkan protagonis anak, ia memilih untuk menunjukan narasi yang secara tidak langsung menunjukan bahwa anak-anak masa kini telah asyik dengan keseruan media sosial.

Our Rangsot (2025)

Melalui eksplorasi yang dipilihnya, Ramadhani memberikan perspektif teknis yang cukup unik pada beberapa bagian. Eksplorasi visual banyak memberikan shot yang direkam oleh anak-anak sehingga memberikan kesan bahwa penonton memang sedang berada di ruang bermain. Dalam beberapa pilihan shot yang lain, Ramadhani dengan sengaja masuk ke dalam film atau bahkan menyertakan gambar yang tidak fokus pada filmnya, yang semakin mendekatkan perasaan ikut serta dalam kegiatan yang dihadirkan di dalam film.

Film dibuka dengan seduhan kopi dan ditutup dengan audiovisual yang memutar protagonis yang sedang bermain. Mereka terlihat hangat bercengkrama dan menikmati sisa hari, mengingatkan kita pada kegiatan sore yang umumnya dilakukan ketika pekerjaan utama sudah selesai. Ah, aku jadi ingin kembali bermain di sore hari. (FadliAwan) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Our Rangsot (Rangsot Ita)
Dhuha Ramadhani | 90 min | 2025 | Nusa Tenggara Barat
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Indonesia
Festival Film Dokumenter 2025