Devi, Atas Nama Perempuan, Terima Kasih Tak Terhingga!

— Ulasan Film
FFD 2025

Dalam 2 menit pertama, kesunyian mulai retak oleh suara Devi yang tenang nan menggetarkan layaknya bisikan dari luka yang menolak dilupakan, “For years I have stayed quiet about the violence that I and others like me faced. What kind of warrior am I?” (Selama bertahun-tahun, saya memilih membisu atas kekerasan yang saya dan orang-orang seperti saya alami. Pejuang macam apa saya ini? ed.)

Saat usia 17 tahun, Devi ditangkap, disiksa, dan diperkosa karena dituduh sebagai pemberontak di awal Perang Saudara Nepal (1996–2006). Perang itu mungkin telah berakhir di atas kertas, tapi bagi perempuan di Nepal, perjuangan tak pernah benar-benar berhenti. Dentum senjata boleh mereda, tapi perang lain tetap berlangsung: soal hak perempuan. Perang yang dikubur di bawah perjanjian damai dan disenyapkan atas nama rekonsiliasi.

Revolusi mungkin telah mengubah wajah politik, tetapi bagi perempuan, tidak ada yang benar-benar dimenangkan. Ketika negara merayakan akhir perang, perempuan seperti Devi masih harus melihat pemerkosa mereka berjalan bebas di jalanan dengan kepala tegak dan rasa bersalah yang tak pernah menyentuh mereka. Dan jika mereka ingin melapor? Melapor ke siapa? Ke negara yang berpaling? Ke aparat yang menukar rasa sakit perempuan demi stabilitas politik? Lagi dan lagi, para penyintas dipaksa menelan pengkhianatan dari institusi yang seharusnya melindungi mereka.

Menonton kisah Devi terasa seperti menahan napas di antara luka dan harapan. Paruh pertama penuh perih dan amarah, tapi perlahan berubah menjadi rasa bangga. Bangga pada Devi, yang tidak hanya menyembuhkan dirinya, tapi juga menyalakan cahaya bagi perempuan-perempuan lain untuk bangkit dan bersuara. Bersama, mereka menamai diri sebagai “The Undefeated”—karena meski dunia berulang kali mencoba menjatuhkan, mereka tetap berdiri. Butuh waktu yang panjang bagi mereka untuk bersuara, tapi ketika akhirnya mereka melakukannya, dunia tak lagi bisa berpura-pura tuli.

Pada 2024, parlemen Nepal akhirnya mengesahkan undang-undang yang membuka jalan bagi keadilan penyintas kekerasan seksual masa perang: kemenangan yang lama tertunda. Namun hukum saja tak cukup menyembuhkan. Hingga awal 2025, Devi dan para penyintas lain terus berjuang agar hukum itu tidak hanya tertulis, tapi dijalankan. Menjelang akhir film, ada rekaman Devi bertepuk tangan dan tersenyum hangat, seperti hembusan napas lega setelah perjalanan panjang penuh luka. Dalam tawanya tersimpan harapan: bahwa keadilan bukan mimpi yang mustahil, selama masih ada perempuan yang memilih untuk tidak diam, tidak menyerah, dan terus berdiri.

“What kind of warrior am I?” (Pejuang macam apa saya ini? ed.)

Mungkin, kini Devi tak lagi perlu mempertanyakannya. Namun, kalaupun masih ragu, kita tahu jawabannya: Devi adalah napas dari ingatan yang hampir hilang. Ia menolak diam ketika tubuh perempuan dihapus dari sejarah. Ia mengingatkan kita bahwa keadilan tanpa pengakuan hanyalah kebohongan yang dibungkus rapi, dan damai tanpa suara perempuan hanyalah kesunyian yang pura-pura sembuh. Terima kasih, Devi!

Dan terima kasih kepada semua perempuan yang dengan cara kalian sendiri, terus menemukan jalan untuk berjuang bersama. Juga untuk Subina Shrestha, sutradara yang dengan keberanian dan empatinya, menyuarakan kisah Devi agar dunia tidak lupa.

Hidup perempuan yang melawan, yang bersuara, yang menolak diam. Karena kalian, sejarah kembali bernyawa. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Devi
Subina Shrestha | 85 min | 2024 | Nepal, Korea Selatan, Inggris
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025