Kerja Komputasi Visual dan Nasib Buruk Para Pekerja di Baliknya

— Ulasan Film
FFD 2025

Batang_pohon. Vegetasi. Manusia, figur_otoritas, pekerja_konstruksi. Benda. Bangunan. Kendaraan, kendaraan_darurat, kendaraan_polisi. Langit. Begitulah cara komputer melihat objek, dilatih oleh pekerja tak terlihat yang memberi anotasi pada objek dunia nyata untuk mereka.

“Jutaan orang di seluruh dunia bekerja sebagai data annotator, melakukan tugas membosankan mengubah kumpulan data besar menjadi set data terkurasi yang digunakan untuk melatih akal imitasi. Pelatihan model AI memerlukan jumlah data yang sangat besar, tetapi data ini tidak dapat dimasukkan ke dalam sistem AI tanpa pekerja manusia […] Salah satu bidang utama AI adalah penglihatan komputer, di mana komputer belajar memahami gambar dan video, serta mengambil tindakan berdasarkan masukan tersebut.” 

— Feeding the Machine by James Muldoon, Mark Graham, & Callum Cant

Perusahaan teknologi dari Global North mengalihdayakan tenaga kerja murah dari Selatan untuk melatih model Akal Imitasi (AI) penglihatan komputer tersebut. Pekerjaan memberi anotasi pada objek untuk dimasukkan ke dalam model kecerdasan buatan sangat penting untuk menyempurnakan kemampuan penglihatan komputer. Kemampuan penglihatan komputer yang sempurna sangat dibutuhkan agar mobil otonom dapat menavigasi situasi dunia nyata yang tidak dapat diprediksi—dan yang terpenting, untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Salah satu contoh peristiwa terjadi pada 2018. Sebuah kendaraan swakemudi di Arizona menabrak dan menewaskan seorang pejalan kaki yang sedang mendorong sepedanya saat menyeberang jalan. Perangkat lunak mobil gagal mengidentifikasi pejalan kaki tersebut dengan benar, menyoroti dampak fatal dari ketidakakuratan pelabelan. Meskipun dibayar dengan upah rendah, pekerja anotasi data harus bekerja dengan ketelitian mutlak karena nyawa manusia menjadi taruhannya.

Their Eyes (Nicolas Gourault, 2025) adalah kisah tentang pekerja tak terlihat yang melatih model AI ini. Film ini dibangun dari rekaman layar perangkat lunak, video pribadi yang diambil dari ponsel para anotator, dan simulasi penglihatan komputer itu sendiri. Melalui metode yang tidak konvensional, kita ditempatkan pada posisi para anotator dari negara-negara Global South: kehidupan, pekerjaan, dan ketidakpastian yang mereka hadapi. Seiring berjalannya film, para pekerja berbagi pengalaman mereka sebagai anotator, sementara sutradara Nicolas Gourault menyoroti sifat menjemukan pekerjaan mereka dan pertukaran yang tidak adil di baliknya—secara implisit mengungkapkan bagaimana tenaga kerja di Global South secara sistematis diremehkan dalam perdagangan global, memungkinkan akumulasi kekayaan di negara-negara utara.

Seorang anotator dari Venezuela menjelaskan bahwa di Amerika Serikat, satu tugas dibayar tiga kali lipat lebih banyak daripada yang mereka dapatkan saat melakukan pekerjaan yang sama di negara mereka. Masalah diperparah oleh penjelasan seorang anotator bahwa beberapa di antara mereka mencoba mengakali sistem dengan mengubah lokasi kerja mereka menggunakan VPN ke tempat yang menawarkan gaji lebih tinggi. Upaya itu berhasil—sampai seorang rekan kerja melaporkannya kepada atasan dan akun mereka diblokir. Di bawah kapitalisme, dunia ini kejam: di tempat kerja neoliberal, “mengadu” dapat diartikan ulang sebagai “tanggung jawab” atau “keunggulan”. Melaporkan ketidakefisienan atau pelanggaran dapat diganjar, membuat kolusi tampak mulia. Bahkan dengan upah yang rendah, tidak semua anotator dibayar sama. Di lingkungan kerja yang sama, solidaritas berubah menjadi persaingan.

“Mereka [mungkin] akan mengembangkan perangkat lunak lain yang akan [membuat anotasi] untuk mereka. Itu berarti [kita] akan digantikan oleh robot-robot ini. Itulah salah satu hal yang saya pikirkan,” ungkap seorang anotator dari Nairobi dengan cemas. Seiring kemajuan kecerdasan buatan, para pekerja yang membuatnya mungkin malah melatih sistem yang suatu hari nanti dapat menghilangkan mata pencaharian mereka—serupa dengan pekerja serabutan yang akan digantikan oleh mobil swakemudi. Mata mereka membantu mengajarkan mesin untuk melihat, sementara keberadaan mereka dalam ekonomi global tetap tersembunyi. Sebuah paradoks mengenai keberadaan yang dibutuhkan tapi tak terlihat, produktif tapi rapuh, menangkap ironi kejam di jantung kapitalisme digital. Dalam film ini, Gourault mengubah ironi tersebut menjadi imaji yang menghantui: dunia yang dilihat melalui pandangan mesin, di mana tenaga kerja manusia tak dapat dibedakan dari data, dan di mana upaya mencapai kesempurnaan teknologi bergantung pada eksploitasi kehidupan yang rentan. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Their Eyes
Nicolas Gourault | 23 min | 2025 | Prancis
Seleksi Resmi untuk program Perspektif
Festival Film Dokumenter 2025