Mesin Mengingat, Manusia Merasa 

— Ulasan Film
FFD 2025

Aku pernah membaca seseorang bertanya ke Chat GPT, “Jika kamu jadi manusia, apa yang akan kamu lakukan?” Jawabannya: menangis. Merasakan angin. Jatuh cinta. Punya tubuh. Aku tertawa, tapi juga tersentuh. Lucu sekaligus sedih melihat mesin membayangkan menjadi manusia. Dan pada detik itu aku sadar: betapa beruntungnya bisa merasakan. Betapa indahnya menjadi makhluk yang punya perasaan.

Rasanya, The New Ruins (Manuel Embalse, 2024), lahir dari ruang perasaan tersebut. Aneh, menyentuh, sekaligus mengingatkan kita pada nilai pengalaman dan perasaan manusia. Dokumenter ini mengikuti perjalanan Embalse, seorang seniman asal Argentina, yang sejak 2013 telah mendokumentasikan sampah elektronik di Buenos Aires, dari layar yang pecah, kabel yang kusut, hingga komputer tua yang terlupakan.

Bertahun-tahun lamanya ia memperlakukan benda-benda itu bukan sebagai limbah, tapi sebagai peninggalan: sisa-sisa kehidupan digital yang dulu pernah punya arti bagi seseorang. Ia menomori setiap temuan, merekamnya, dan menjadikannya semacam arsip sejarah alternatif: sebuah museum kecil tentang masa lalu teknologi yang sudah kita tinggalkan. Dalam salah satu catatan kuratorialnya, dokumenter ini disebut sebagai bentuk refleksi post-cinema: sebuah upaya membaca ulang hubungan antara gambar, ingatan, dan sisa-sisa teknologi yang terus menumpuk di luar layar. Bagiku, The New Ruins memperlihatkan bahwa praktik sinema telah bergeser dari sekadar pengalaman menonton menjadi bagian dari ekologi material teknologi itu sendiri. Dokumenter ini menyoroti bagaimana citra dan suara tetap berlanjut dalam bentuk residu (sampah elektronik, arsip digital, dan fragmen data) yang menandakan kehidupan sinema di luar layar. Dengan begitu, “reruntuhan” menjadi ruang baru bagi sinema untuk hidup dan diingat.

Alih-alih melihat sampah elektronik sebagai simbol kehancuran, Embalse memandangnya dengan empatik. Lewat cara pandangnya yang lembut, ia mengajak kita untuk melihat hubungan manusia dengan teknologi dari sisi yang lebih emosional: tentang kenangan, kehilangan, dan upaya untuk tetap terhubung. Dan aku merasa keindahan dokumenter ini muncul bukan dari teknologi itu sendiri, tapi dari cara manusia melihatnya: dari rasa ingin tahu, kesedihan, dan kasih yang entah bagaimana masih tersisa pada benda-benda elektronik yang sudah rusak. Bukan tentang waktu yang terus bergerak, tapi tentang bagaimana manusia menemukan kembali keintiman di tempat yang tak terduga. Tentang mendengarkan dunia yang berdengung pelan: yang mengingatkan kita untuk tetap merasakan, bahkan di tengah reruntuhan digital.

Dan ketika layar akhirnya padam, kita mungkin baru sadar: teknologi memang diciptakan untuk menyimpan memori, menangkap momen, menyimpan jejak. Tapi yang membuat semuanya “hidup” adalah manusia: perasaan, perhatian, dan makna yang kita berikan. Terima kasih, Embalse. Karena lewat dokumenter tentang benda-benda yang mati, kamu justru mengingatkanku pada hal paling hidup: perasaan manusia itu sendiri. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
The New Ruins (Las ruinas nuevas)
Manuel Embalse | 89 min | 2024 | Argentina
Seleksi Resmi untuk program Perspektif
Festival Film Dokumenter 2025