Lebih dari 130.000 rakyat India direkrut untuk bertempur di Flanders selama Perang Dunia I ketika mereka masih berada di bawah kekuasaan Raj Inggris—dengan janji bahwa setelah perang, mereka akan merdeka. Namun, Inggris berdusta dan mengingkari janji tersebut. Fakta ini, seperti kebanyakan dosa kolonial lainnya, tentu saja tidak diajarkan dalam kurikulum sekolah.
In Flanders Fields (Sachin, 2024) mengisahkan kehidupan para prajurit ini. Film dibuka dengan gambaran kerja keras yang harus dituntaskan oleh prajurit India untuk bertempur demi Inggris. Kita melihat mereka menggali parit, menumpuk karung pasir, dan memasang kawat berduri di ladang. Saat para prajurit bersiap untuk pertempuran yang akan datang, menunggu menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman mereka. Hingga akhirnya, tembakan pertama diluncurkan. Sekitar 7.000 prajurit India tewas dalam pertempuran di dan sekitar Ypres, yang terletak di Flanders Barat. Dari jumlah tersebut, hanya 413 nama dan riwayat yang diketahui. Sisanya dikubur tanpa nama di seluruh pedesaan Flanders.

Dokumenter pendek ini berupaya menyampaikan pesan para prajurit yang terlupakan dari tanah Belgia, untuk sampai ke kampung halaman mereka yang berjarak ribuan kilometer. Dengan menggabungkan foto arsip prajurit semasa perang dengan foto masa kini dari wilayah yang sama di mana perang tersebut terjadi, In Flanders Fields menghadirkan gambaran yang menggugah pikiran kita tentang masa lalu dan masa kini, rasa asing, dan utamanya, kemustahilan untuk kembali ke tanah air––bahkan sebagai arwah. Melalui pembacaan harapan dan kisah yang terdapat dalam surat-surat para prajurit India ini, sutradara Sachin tak akan membiarkan kehidupan mereka terkubur oleh waktu, seperti tanah Flanders yang mengubur tubuh-tubuh mereka yang hancur karena perang. Film ini, oleh karenanya, berfungsi sebagai penghormatan bagi mereka yang mendahului kita. Mengingat para lelaki yang disingkirkan oleh kekuatan kolonial sebagai prajurit yang terbuang, untuk bertempur demi agenda politik mereka.

Sebagai masyarakat yang berjuang melawan kolonialisme dan segala dampaknya, mari kita turut berduka cita untuk mereka yang tak selamat di pertempuran di ladang Flanders. Kolonialisme bukanlah perjuangan nasional kita semata, melainkan perjuangan bangsa-bangsa di mana kelompok manusia, tanah, dan budaya dieksploitasi dan diperas habis-habisan. Jangan sampai kita melupakan sejarah kita yang dihapus dan mereka yang telah gugur. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
In Flanders Fields (ਫਲੈਂਡਰਸ ਦੀ ਜ਼ਮੀਂ ਵਿੱਚ)
Sachin | 16 min | 2024 | Belgia, India
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



