“Tidak ada teduh di setiap jalan yang aku lalui, tidak ada teduh di setiap jalan yang kau lalui.”
Kalimat di atas merupakan sajak yang muncul pada When the Blues Goes Marching In (Beny Kristia, 2025) untuk merepresentasikan keseluruhan isi film, seluruh mimpi buruk mahasiswa––bahkan mimpi buruk kita semua.
Menjadi mahasiswa adalah menjadi manusia yang harus menempuh banyak sekali cara untuk berpendapat, mengkritik, dan menggugat. Sutradara Beny Kristia memanfaatkan medium audiovisual sebagai media menyampaikan pendapat melalui narasi gugatan mahasiswa kepada penguasa. Eksplorasi teknis dipaparkan melalui sajak, rangkaian shot, dan penyuntingan warna sarat makna. Film ini menyiratkan trauma dan keburukan yang terjadi di negara secara berulang melalui narator dan sang ayah. Keduanya menjadi simbol satir yang dibangun untuk seolah menanyakan, “Mengapa hal seperti itu terus dan masih terjadi?”

Menutup film, kita bertemu dengan sekelompok kru dan satu figur mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kegiatan syuting mereka. Mereka berdiri melingkar di sebuah lahan yang di belakangnya menampilkan banyak mahasiswa lain sedang merayakan kelulusan. Seolah menandai pendidikan dan film yang usai, tapi menjadi refleksi tentang perjuangan, yang seyogianya, tidak akan pernah selesai. (FadliAwan) (Ed. Vanis)
Detail Film
When the Blues Goes Marching In (Pengais Mimpi)
Beny Kristia | 12 min | 2025 | Jawa Timur, Indonesia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pelajar
Festival Film Dokumenter 2025



