Membingkai Ulang Tokoh dalam Dokumenter Pendek

— Berita
FFD 2025

Kompilasi film dalam program Lanskap: Mo(nu)men menghadirkan 3 dokumenter pendek yang mengupas kehadiran sosok sebagai celah untuk memahami lanskap sosial yang lebih luas. Ketiga film dalam kompilasi ini adalah NH Dini (Ardian Parasto, 2024), See a Mother, a Wife, and a Weaver (Suharditia Trisna, 2025), dan The Silenced Soil (Dara Asia, 2025). Pemutaran perdana kompilasi ini berlangsung pada 24 November di Kedai Kebun Forum, diikuti dengan sesi tanya jawab yang dihadiri oleh pembuat film Suharditia Trisna, Dara Asia, dan Fraivio.

Sesi diskusi dibuka oleh Vanis, kurator program, yang menjelaskan Mo(nu)men sebagai upaya untuk mencoba menggugat tren yang berkembang dalam dokumenter Indonesia saat ini, yaitu bertumpu pada tokoh utama tunggal untuk menopang narasi. Vanis berargumen bahwa meskipun tokoh sering menjadi titik tumpu emosional dalam narasi dokumenter, pembuat film juga memiliki kewenangan untuk menciptakan interpretasi yang melampaui tokoh tersebut. Dalam hal ini, ketiga film tersebut berfungsi sebagai proposal, atau barangkali provokasi, bagi penonton untuk terlibat dengan ekosistem sosial di sekitar tokoh yang hadir, alih-alih hanya fokus pada sang tokoh saja.

Kerangka ini beresonansi dengan ketiga pembuat film yang masing-masing melakukan pendekatan terhadap “subjek” dengan cara yang berbeda. Suharditia Trisna, saat merefleksikan See a Mother, a Wife, and a Weaver, berbicara secara jujur tentang kesadarannya sebagai laki-laki cis-hetero yang menyutradarai cerita tentang perempuan. Ia mendeskripsikan keputusannya untuk tidak menempatkan dirinya—atau laki-laki lain—pada pusat narasi sebagai gestur etis yang intensional. Trisna menjelaskan bahwa ia secara sengaja mengurangi dan memotong suara laki-laki, termasuk suaranya sendiri, untuk memberi ruang bagi perempuan dalam film agar dapat berbicara dengan cara mereka sendiri. Dengan kolaborasi bersama produsernya yang merupakan perempuan Rote asli, ia mengembangkan film tersebut di sekitar konstelasi perempuan Rote agar tak terjebak pada bangunan cerita eksklusif seputar Mama Masri sebagai ikon tunggal.

Sebaliknya, Dara Asia menjelaskan bahwa ia mengawali The Silenced Soil melalui sejumlah narasi besar yang tengah ia teliti—kedaulatan pangan, jejak Revolusi Hijau, dan politik pertanian. Pada pertengahan proses pengerjaan, tepatnya saat pameran Yos Suprapto dibatalkan, risetnya secara organik beririsan dengan sang aktivis. Asia menekankan bahwa pergeseran ini merupakan bentuk penajaman fokus pada medan sosio-politik yang ingin dia jelajahi sejak awal. Dia mengungkapkan harapannya agar film ini tidak hanya menjadi “karya yang berakhir di credit title,” tapi juga berfungsi sebagai gerbang advokasi publik terkait krisis pertanian.

Sementara itu, Fraivio, berbicara tentang NH Dini, menjelaskan bahwa film ini sengaja menghindari pengulangan narasi tentang NH Dini sebagai penulis dan aktivis yang telah banyak didokumentasikan. Justru, ia dan timnya berusaha mengamati cara orang-orang terdekat NH Dini menempatkan sosoknya dalam kenangan mereka, bukan melalui warisan kulturalnya, melainkan melalui gestur-gestur keseharian, ikatan sosial, dan pengalaman hidup dengan orang lain. Menurut Fraivio, kontribusi film ini bukan untuk menambah lapisan mitos seputar NH Dini. Ini adalah upaya untuk menangguhkan sejenak citra seorang tokoh publik untuk mengungkap manusia di baliknya.

Seiring percakapan berlanjut, Vanis kembali ke gagasan utama program tentang agensi yang ditunjukkan tidak hanya oleh subjek yang digambarkan di layar, tetapi juga oleh para pembuat film. Dalam See a Mother, a Wife, and a Weaver, keberdayaan muncul dari perempuan yang dihadirkan oleh sutradara laki-laki yang secara sadar membatasi kehadiran laki-laki; dalam NH Dini, protagonisnya sendiri adalah perempuan yang secara historis memiliki keberdayaan; dan dalam The Silenced Soil, figur aktivis di pusat narasi adalah laki-laki, tetapi film tersebut disutradarai oleh perempuan yang menavigasi rantai kuasa dan sensor. Sesi ini kemudian mendefinisikan “agen” sebagai hubungan yang dinegosiasikan antara pembuat film, subjek, dan konteks sosial.

Diskusi ini kemudian melingkar kembali pada premis yang sama sebagaimana pembukanya, yaitu mengenai kekuatan dokumenter dalam menambatkan diri pada tokoh tanpa mereduksinya menjadi semata-mata penceritaan tentang tokoh semata. Alih-alih mendefinisikan diskusi ini dengan satu kesimpulan, diskusi ini justru meninggalkan kesan kepada penonton bahwa setiap film dalam program ini adalah mengenai dunia yang membentuk dan dibentuk oleh mereka sendiri. (Sarahdiva Rinaldy, 24/11/2025)