Apakah Ia Napoleon atau -apoleon?

— Ulasan Film
FFD 2025

Semua orang pasti pernah mendengar tentang Napoleon. Pelajaran sejarah mendikte kita bahwa dia adalah salah satu penakluk terhebat yang pernah hidup. Namun, setidaknya pada masa itu, kita belum menyadari makna sebenarnya dari kata tersebut. Penakluk; kata yang secara harfiah berarti “mendapatkan dengan paksa”, telah kehilangan makna kejinya seiring berjalannya waktu. Kata tersebut, seiring kita menjelajahi sejarah Barat, telah diubah maknanya menjadi “kemenangan”. Kata tersebut berubah menjadi gelar kehormatan, seperti penggunaannya oleh William the Conqueror (William Sang Penakluk). Contoh lainnya adalah Alexander the Great (Alexander Agung), di mana penaklukannya diinterpretasi ulang sebagai “penyebar peradaban”. Karenanya, penaklukan berubah menjadi sesuatu yang dimoralisasi sebagai kedok untuk menyebarkan pengetahuan, membangun sistem hukum, dan memerdekakan penduduk lokal dari tirani, padahal kenyataannya mereka merampas tanah dan sumber daya milik mereka.

Apoleon (2024) menyindir mitos besar Napoleon—menggunakan patung-patung dari Musée de l’Armée (lit. Museum Tentara) di Paris untuk menyunting naratif, sekaligus mengolok logika kolonial penaklukan oleh Prancis. Sutradara Mesir Amir Youssef menceritakan kembali sejarah ketika Prancis menyerbu Mesir pada abad ke-18. Menggunakan mimikri orientalistik, Napoleon mengklaim bahwa dia dan pasukannya adalah “muslim sejati” yang diramalkan akan membebaskan masyarakat Mesir dari pemerintahan otoriter Mamluk. Dengan menggunakan humor surealisme serta perpaduan antara masa depan dan masa lalu, Youssef menafsirkan ulang sejarah melalui lensa dekolonial. Film pendek ini juga mengangkat beberapa mitos kolonial yang populer: misal kabar burung bahwa meriam Napoleon bertanggung jawab atas kerusakan hidung Sphinx. Mitos tersebut telah lama dibantah, tapi penggunaannya dalam film pendek ini melambangkan retakan dalam sejarah yang selama ini dikenal sambil juga menjadikannya bahan tertawaan.

Pergeseran dekolonial terbesar terjadi dalam cerita ketika Kaisar Prancis yang konon hebat itu tampak kecil di bawah kaki Sphinx. Dalam kekerdilannya, ia memohon pengetahuan kepada Sphinx. Sphinx menjawab, “Harganya akan terlalu mahal,” menegaskan bahwa pemahaman tak bisa datang tanpa konsekuensi, menunjukkan resistensi epistemik terhadap kekuatan kolonial yang mencoba memahaminya. Seperti mitos faustian, Napoleon menjawab dengan kesombongan seorang pria yang tidak mengenal batas ketidakmungkinan, “Hargamu akan jadi milikku.” Kebodohannya menjelma menjadi kehancurannya: seorang penakluk yang berubah menjadi sekadar reruntuhan yang semakin dipertanyakan sepanjang waktu.

Sejalan dengan waktu, akar kolonial yang menyamarkan penaklukan Napoleon menjadi “misi pencerahan” akan selamanya dipertanyakan. Apoleon, kata Yunani yang berarti membunuh atau menghancurkan. Dengan menistakan dan bermain-main dengan nama Napoleon, menghapus huruf kapital N dari namanya yang masyhur mengungkapkan sifat aslinya. Kita akan selamanya menghapus “N” dari namanya, mencerminkan saat ia menghapus kisah-kisah dari banyak bangsa di balik topeng “akal universal.” Ia adalah apoleon—penghancur—tak ada yang lain dalam kebesarannya. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Apoleon (أبوليون)
Amir Youssef | 14 min | 2024 | Mesir, Prancis
Seleksi Resmi untuk program Spektrum
Festival Film Dokumenter 2025