Mereka yang Tetap Mekar Meski Dunia Tenggelam

— Ulasan Film
FFD 2025

Modernitas datang seperti janji, tapi malah menjelma menjadi banjir.

Di pegunungan timur laut Kamboja, sebuah desa bernama Kbal Romeas perlahan lenyap di bawah air bendungan listrik. Rumah, hutan, dan kenangan penduduk hilang ditelan air. Dunia menyebutnya pembangunan. Namun, bagi mereka yang tinggal di sana, itu adalah suara masa lalu yang perlahan tenggelam.

Dalam Until the Orchid Blooms (2024), sutradara Polen Ly menyorot Kbal Romeas bukan untuk memperlihatkan apa yang hilang, melainkan untuk menyaksikan apa yang masih bertahan. Enam tahun lamanya Ly mengikuti langkah Neang, seorang ibu dari suku Bunong yang menolak pergi dari desanya, memilih membangun kembali hidup di atas tanah yang kini dilarang untuk ditinggali, tapi tak pernah berhenti memanggil nama mereka yang lahir darinya.

Generasi muda di desa tersebut menatap jauh ke luar, ke tempat-tempat yang mereka dengar menjanjikan masa depan. Namun, para ibu tetap menunduk, menanam, percaya bahwa masa depan juga bisa tumbuh dari tanah yang sama, selama akarnya tak dicabut. Di antara keduanya, ada jarak yang tak selalu terlihat: ada yang ingin berlari, ada juga yang memilih tinggal agar yang mereka sebut “rumah” tak benar-benar lenyap. Lensa kamera Ly hadir di celah tersebut, tidak mencoba menengahi, melainkan menemani: mendengar napas mereka, mengikuti langkah mereka, merekam kesetiaan yang perlahan terasa seperti bentuk lain dari perlawanan.

Dokumenter ini menyingkap bagaimana modernitas sering datang bersama penghapusan. Bendungan listrik dijadikan simbol “kemajuan”, tapi fondasinya berdiri di atas sejarah yang ditenggelamkan. Listrik mungkin mempermudah kehidupan dan menerangi kita, tapi celakanya juga memadamkan nyala yang lebih tua: hubungan manusia dengan bumi yang memberinya hidup.

Di balik kisah kehilangan, Until the Orchid Blooms juga menampilkan cinta yang tetap mekar meski dunia seolah tenggelam. Neang, dengan tangan yang menanam dan hati yang menolak menyerah, menjelma menjadi perwujudan Ibu Bumi sendiri: perempuan yang tak berhenti memberi hidup, bahkan ketika hidup diambil darinya. Anak dan suaminya memilih meninggalkan desa untuk mengejar kehidupan yang dianggap lebih baik, mengikuti janji modernitas yang menjanjikan masa depan. Namun, Neang tetap tinggal, bertahan di tanah yang sama, menjadi akar yang kuat, menegaskan bahwa ada kehidupan yang tak bisa digantikan oleh janji-janji dunia baru. Dalam keberaniannya untuk bertahan, kita melihat satu kebenaran yang sederhana namun mendalam: memiliki cinta yang besar terhadap “rumah” adalah cara lain untuk melawan. To love is to resist!

Untuk Neang dan semua jiwa yang memilih bertahan, semoga anggrek kalian mekar di antara reruntuhan, menumbuhkan cinta yang diam-diam menjadi bentuk perlawanan, dan menebarkan harapan yang tak padam, bahkan di tempat penuh lumpur sekalipun. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Until the Orchid Blooms (Veasna Phka Prey)
Polen Ly | 103 min | 2024 | Kamboja
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025