Menyutradarai Film, Menyutradarai Hidup

— Ulasan Film
FFD 2025

Aku 25 tahun, seorang perempuan yang masih menavigasi “film”-nya sendiri. Film yang berantakan, penuh ketidakpastian, jalan berliku, momen terang, dan penulisan ulang tanpa henti.

Dengan “film,” aku tidak bermaksud menyutradarai film secara literal. Maksudku adalah hidupku sendiri: sebuah kisah yang kacau, indah, dan belum rapi ini, yang selalu aku coba pahami seiring berjalan. Entah bagaimana, Becoming a Film Director (Rongfei Guo, 2025) terasa seperti pelukan hangat, seolah mengerti bagaimana rasanya terus hadir, bahkan ketika segalanya tak pasti. Mengetahui bahwa sutradaranya juga seorang wanita, diam-diam menyaksikan perjalanan ini, menghadirkan kehangatan dan rasa pengakuan yang membuat semuanya terasa intim, hidup, dan akrab.

Dokumenter ini mengikuti dua perempuan dalam program lokakarya penyutradaraan. Mereka sangat berbeda, tapi hari-hari mereka mulai bertaut: menyusun rencana, syuting, menunggu, kesalahan kecil, tawa yang muncul dari kelelahan. Menonton mereka, aku bisa merasakan ketekunan mereka di setiap jeda, setiap pandangan, setiap gerak. Perlahan-lahan, aku menyadari bahwa ini lebih dari sekadar cerita tentang pembuatan film, melainkan tentang menyutradarai hidup itu sendiri: belajar menavigasi ketidakpastian, berpegang pada hal yang penting, terus maju ketika jalannya tidak jelas. Dan melakukannya sebagai perempuan, menuntut ruang untuk berkarya, gagal, bangkit, dan terus menjadi dalam dunia yang sering meremehkan kita.

Kamera diam sejenak. Tangan melayang di atas naskah, mata mencari pemahaman, momen keraguan dan kemenangan kecil terlewat begitu saja. Ada kelembutan dan keintiman dalam fragmen-fragmen ini, yang terasa seperti pengakuan. Aku merasakan perjuangan mereka, kegembiraan mereka, kelelahan mereka, dan di situ aku menemukan refleksi diriku sendiri yang berantakan, tersandung, belajar, tumbuh, masih berproses. Rasanya sangat kuat menyaksikan perempuan-perempuan ini hadir sepenuhnya dalam kreativitas mereka, dalam perjalanan mereka, melalui tatapan lembut seorang perempuan lain yang mengerti betul rasanya berada dalam proses tersebut.

Yang paling memikat perhatianku adalah bahwa dokumenter ini tidak terburu-buru mengejar kesempurnaan. Tidak ada daftar pencapaian. Hanya ada kehadiran, usaha, kesalahan, kemenangan kecil, dan ketekunan yang halus dalam berkarya. Perempuan-perempuan ini mengingatkanku bahwa hidup, seperti proses pembuatan film, terbentuk dari fragmen, jeda, gerak yang berani sekaligus manis dan menuntut ruang serta waktu untuk berkarya dan menjadi diri sendiri adalah sebuah keberanian.

Di akhir, aku merasa terlihat. Proses mereka mencerminkan perjalananku, dan mungkin juga perjalanan begitu banyak perempuan yang masih berproses. Hal itu membuatku ingin tersenyum lembut pada hari-hariku yang kacau, memeluk ceritaku sendiri dengan penuh kasih, menghargai usaha, suara, pilihanku, dan terus hadir untuk diri sendiri dan perempuan lain.

Pantas rasanya bahwa dokumenter ini menjadi bagian dari Program Perspektif, yang mendorong kita memikirkan ulang apa arti post-cinema hari ini. Karena, apa yang bisa lebih “post” daripada kesabaran dan kelembutan di budaya yang menilai cepat dan sempurna? Ketika cerita sering terburu-buru menjadi konten, Becoming a Film Director mengingatkan kita bahwa hati dari sinema—dan mungkin dari hidup—ada dalam prosesnya. Ia ada dalam momen-momen kecil belajar, mencoba dan gagal, memperhatikan, dan merasakan. Di situlah makna terdalam ditemukan. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis/Trans. Shafira Rahmasari)

 

Detail Film
Becoming a Film Director
成为导演之前 (Cheng Wei Dao Yan Zhi Qian)
Rongfei Guo | 27 min | 2025 | Tiongkok
Seleksi Resmi untuk program Perspektif
Festival Film Dokumenter 2025