Kolonialisme menggerus budaya. Ia meniti jubah doktrin yang mengudeta peradaban sebelumnya dengan resimen imperialis baru atas satu tujuan: menaklukkan dunia lama dan meraup segala manfaatnya. Ia membawa kita ke sebuah era modernitas, beroperasi melalui sistem ekonomi global, dan mendorong segala cara untuk menggerus dan menggusur mereka yang “etnik” atas nama keuntungan bergulung-gulung. Beranjak menuju peradaban penuh pembangunan, lagu lama dinyanyikan kembali, rol film berlapis-lapis klise diputar ulang, sebuah budaya berpikir terbentuk melalui film-film Barat dan bioskop-bioskop manufaktur yang mengedepankan film-film Hollywood; menyisakan ruangan sempit bagi film-film independen serta sinema lokalan untuk bertumbuh subur dalam waktu yang kian sempit pula.

Kota Baguio di Pulau Luzon yang dipenuhi arsip-arsip berbentuk bangunan kavling kebanyakan dengan nuansa art deco yang sempat berkiprah menjadi teater-teater bioskop, menyimpan turunan kisah dari masyarakat adat Igorot di utara Pulau Luzon. Perlahan, tanahnya dicaplok demi pembangunan, menghapus kearifan masyarakat di daerah pegunungan Cordillera, hingga resistensi masyarakat Baguio menghadang pembotakan pohon pinus demi ekspansi pusat pembelanjaan. Di tengah semua panggung pertaruhan kemanusiaan itu, bioskop-bioskop tadi mengambil dan beralih lakon, entah itu sebagai yang melanggengkan pembangunan atau menjadi korban yang juga dimakan oleh modernisasi pembangunan itu sendiri.
Sebuah urgensi untuk dapat merekam dialog dan naskah sejarah melalui lanskap arsitektural itu pun muncul. Sajian dokumentasi yang mengabadikan beberapa potret perbandingan antara masa bioskop-bioskop di tahun kelahirannya kontras dengan tembok pucat berkerak, mayat-mayat bangunan, dan nasibnya yang kebanyakan terbengkalai dan melapuk. Teks-teks dan audio mengisi kesenyapan dengan memicu imajinasi imersif yang hanya dapat dibayangkan ketika narator menyebut kehidupan tembok bekas bioskop independen itu. Dahulu, ia dipenuhi mural yang mengisahkan episode tradisi masyarakat adat dan kolektif Igorot dan Benguet serta suku-suku daerah pegunungan Cordillera lainnya.

Pada ujung durasi, kita akan masuk ke akhir perjalanan yang mengantarkan sinema-sinema Kota Baguio ke titik perpisahannya. Perjalanan itu memunculkan sebuah arsip dalam bentuk lain; sebuah tubuh manusia, sebuah ilham dan inspirasi bagi perkembangan kemanusiaan melalui lensa kamera. Ini adalah persembahan tentang gagasan dan upaya untuk melakukan preservasi sinema, bioskop, dan agensi yang muncul dari budaya film, sebuah pustaka premis yang belum rampung diketahui kelahiran dan kematiannya. Kidlat Tahimik. (Gantar Sinaga) (Ed. Vanis)
Detail Film
Goodbye Cinema (Salamat Pagsinean)
Christian Balictan | 22 min | 2025 | Filipina, Swiss
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



