Aku belum sempat membayangkan ingin seperti apa hari tua ku nanti, tetapi kini, mungkin jawabannya adalah aku ingin seperti Martha. Honey & Moon (2025) mengenalkan kita pada Martha dan Aceng yang merayakan kisah cinta yang hangat, sederhana, dan tenang. Mereka bukan sepasang suami istri yang sudah hidup bersama puluhan tahun. Mereka baru dipertemukan ketika tinggal di Panti Jompo Beth Shalom saat Martha berusia 79 tahun dan Aceng berusia 75 tahun. Perjumpaan itu mengantar mereka untuk menikah.

Sutradara Navin Dharma dan Christopher Erick memberikan kesan kepada penonton agar bisa berbincang langsung dengan Martha. Dalam durasi singkatnya, Honey & Moon berhasil membuat kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk melihat 2 orang tua yang mencintai satu sama lain tanpa syarat. Aceng yang kini harus duduk di kursi roda tidak mengurangi cinta Martha padanya. Di mata Martha, cinta bukan tentang kesempurnaan fisik, melainkan kesetiaan dan keberanian untuk tetap ada.
Meski berangkat dari ruang yang kecil dan sederhana, film ini terasa luas karena menghadirkan refleksi universal tentang penemuan cinta. Melalui Martha, kita diajak mengerti bahwa cinta bukan hanya tentang perjumpaan. Cinta adalah hidup. Cinta adalah tumbuh. Cinta adalah merayakan bulan madu tanpa akhir. (FadliAwan) (Ed. Vanis)
Detail Film
Honey & Moon
Navin Dharma, Christopher Erick | 15 min | 2025 | Banten, Indonesia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pelajar
Festival Film Dokumenter 2025



