Membedah Dome Sukvong

— Ulasan Film
FFD 2025

Sejak kecil, seorang arsiparis film bercita-cita menjadi proyeksionis bioskop atau penjaga tiket. Cita-cita tersebut mendorong dirinya untuk menempuh studi film di Universitas Chulalongkorn. Setelahnya, ia lulus dan menjadi penulis lepas majalah, membuat klub film bersama sahabatnya, menghadiri seluruh pemutaran film––baik yang arus utama atau yang diputar di ruang non-konvensional––menghadiri situs-situs institusi budaya internasional, hingga berperan aktif untuk mengadvokasikan keresahannya dalam membangun arsip sinematek di Bangkok sebagai pusat preservasi pustaka sejarah film Thailand. Dialah Dome Sukvong.

Series of Actions (Chanasorn Chaikitiporn, 2024) menghadirkan dirinya––yang secara visual dan audio––dalam porsi yang kecil. Namun, tulisannya dibacakan oleh ragam suara dan nada serta direpresentasikan dengan sorotan koleksi film, memvisualkan cita-citanya yang akhirnya lahir dalam bentuk sebuah organisasi arsip film. Petualangan hidupnya penuh dengan dedikasi untuk menggaungkan pentingnya peran arsip dunia dan sejarah film atau medium gambar bergerak dari Thailand, tentang Thailand, untuk Thailand.

Dengan sajian arsip-arsip majalah, teks, foto, koleksi fisik film nitrat, hingga hasil salinan digital film, kita diajak untuk menelusuri anatomi ide, geliat, dan jiwa Sukvong yang tidak terlihat dari kerangka manusia, lebih-lebih pada apa yang merasukinya: sinema. Anatomi menyusun tubuh pikiran itu pun sejatinya adalah sebuah bentuk perwakilan terhadap dunia sinema dan manusia secara menyeluruh. Kita begitu mudah beresonansi dengan keinginan untuk merawat yang sempat ada dan sempat hilang, seperti ada semacam dorongan untuk membangun posisi melawan otoritas yang menghalangi jalan menuju visi keperawatan tersebut.

Tanpa biaya juga jaringan besar––dan seringkali harus sendirian––Sukvong mengawali cita-cita pengarsipan dari eksperimen kecil. Eksperimen tersebut berlanjut pada langkah untuk membangun komunitas swadaya dan membentuk koneksi dari para pelopor film nasional dan pemerintahan Bangkok, walaupun dalam perjalanannya naik-turun dan terbatas pada peliknya birokrasi dan politik nomenklatur. Konteks perawatan arsip ditarik kembali pada narasi mengenai representasi “nasional”, identitas film Thailand, dan nasionalisme. Semenjak ditemukannya gambar bergerak tertua yang paling signifikan di Thailand, yaitu rekaman Raja Rama ke-V (Chulalongkorn) yang sedang berkunjungan ke Swiss (King of Siam’s Visit to Bern {1897}), National Film Archive (lit. Arsip Film Nasional) menanggalkan kata ‘Nasional’ pada nama organisasinya setelah kontribusinya selama 20 tahun.

Jatuh bangun impian ini justru menciptakan efek riak terhadap perkembangan organisasi maupun penulisan sejarah film Thailand. Kini, eksperimen dan keingintahuan itu memiliki tubuh berupa infrastruktur pustaka film dengan ratusan bahkan ribuan gulungan film nitrat dan teks sejarah yang direstorasi, layaknya fosil dan artefak sejarah yang dapat disatukan dan dikenang kembali.

Tubuh sinema tersebut seakan dapat dibunuh dan terlahir kembali menjadi lebih kuat. Semakin dipersulit jalannya, semakin ligat pula harapan dan cita-cita. Walaupun tampaknya perjuangan ini sama sulitnya untuk memerdekakan negara dari kolonialisasi, tapi tubuh sinema tidak akan mendahului kematian tubuh penjajah. (Gantar Sinaga) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Series of Actions
Chanasorn Chaikitiporn | 37 min | 2024 | Thailand
Seleksi Resmi untuk program Perspektif
Festival Film Dokumenter 2025