Seperti Tubuh, Tanah Menyimpan Catatan

— Ulasan Film
FFD 2025
Underground (2024)

Bawah tanah merupakan gudang kenangan geologis dan antropologis. Hal ini merupakan akumulasi dari berbagai fenomena non-manusia dan aktivitas manusia. Manusia hanya berkontribusi pada sebagian kecil dari kumpulan kenangan ini, tetapi dampaknya bersifat rizomatik. Dampak Antroposen tidak hanya merusak bumi tempat ia hidup, tetapi implikasinya terhubung dengan segala hal: ruang, makhluk hidup di dalamnya, dan satu sama lain.

Okinawa merupakan contoh dari kumpulan kenangan tersebut. Lanskap bawah tanahnya tidak hanya dibentuk oleh pergerakan geologis yang membentuk guanya, tetapi juga oleh tragedi rakyatnya. Rakyat Okinawa adalah orang Jepang, meskipun mereka dianggap sebagai “warga negara kelas dua”. Gua-gua Okinawa diubah menjadi markas militer bahkan rumah sakit darurat. Selama invasi Amerika Serikat, Okinawa dan rakyatnya dipaksa membuktikan kesetiaan mereka dengan melayani Kekaisaran Jepang dalam perang.

Underground (2024)

Saat orang Jepang terus menebar ketakutan di kalangan penduduk Okinawa dengan mengatakan bahwa orang Amerika akan menyiksa dan memperkosa mereka terang-terangan, mereka pun bersembunyi di dalam gua-gua. Namun, karena gua-gua ini berfungsi sebagai lokasi strategis bagi militer Jepang, penduduk Okinawa diusir dan bahkan dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Dalam kasus lain, tentara dan warga sipil terjebak bersama di sana, sama-sama kelaparan, terserang penyakit, dan dihujani bom. Seiring dengan menipisnya suplai medis, amputasi dilakukan tanpa eutanasia. Karena putus asa dan takut terhadap kekejaman Amerika yang mungkin akan mereka alami jika tertangkap, banyak orang dan bahkan keluarga di Okinawa memilih bunuh diri massal. Ternyata, Jepang menciptakan kebohongan ini untuk menekan mereka menuju bunuh diri atas nama kesetiaan kepada Kaisar.

Underground (2024) berupaya menghubungkan fakta-fakta sejarah ini dengan psikologi tanah yang terputus. Sutradara Kaori Oda menghubungkan memori, geologi, dan trauma Okinawa, dan mengeksplorasi hal tersebut secara sensorial—seolah-olah tanah yang dipijak suatu masyarakat mengandung kesadaran kolektif masyarakat tersebut. Oda menciptakan interaksi dengan eksplorasi tema dalam film ini melalui tiga pusat narasi nonlinear. Pertama, seorang perempuan muda yang mengembara di berbagai tempat, menyentuh geografinya seolah-olah melakukan studi haptik tentang ruang di sekitarnya. Kedua, seorang pria yang menjelaskan kejahatan Pertempuran Okinawa, menyajikan trauma historis tanahnya. Ketiga, presentasi beberapa lokasi: di bawah tanah atau di atasnya, dengan atau tanpa kehadiran manusia.

Underground (2024)

Film ini, yang merupakan perpaduan ketiga fokus tersebut, tidak mengutamakan koherensi. Layaknya alam bawah sadar, Underground menyajikan dirinya melalui abstraksi. Alih-alih dengan logika, abstraksi-abstraksi tersebut memaksa penonton untuk berinteraksi dengan indra, yang pada akhirnya membuat kita merasakan deretan tragedi yang menimpa tubuh Okinawa dan masyarakatnya. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Underground
Kaori Oda | 83 min | 2024 | Jepang
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025