Pada 19 Desember 2024, sebuah pameran berjudul “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” (The Rise of Earth for Food Sovereignty) digelar untuk memamerkan karya-karya seniman Yos Suprapto. Acara dibatalkan beberapa menit sebelum Galeri Nasional Indonesia dibuka. Pintu masuk terkunci dan lampu dimatikan saat pengunjung antusias melihat karya-karya yang dipamerkan.
Pembatalan itu diduga dipicu oleh ketidaksepakatan antara kurator, galeri, dan seniman. Meskipun demikian, menyebutnya sebagai sebuah “ketidaksepakatan” merupakan sebuah oversimplifikasi. Kurator mengatakan kepada pers bahwa menurutnya beberapa lukisan tidak sesuai dengan tema pameran. Namun, Suprapto dengan fasih menguraikan, dalam bahasa yang sederhana, lukisan-lukisan itu justru sebenarnya sangat cocok dengan tema pameran. Akibatnya, kebanyakan orang tak setuju dengan narasi ini. Mereka melihat ini sebagai bentuk penggunaan kuasa pemerintah secara tidak adil untuk membungkam kebebasan Suprato dalam mengekspresikan dirinya melalui seni karena beberapa karyanya menunjukkan penggambaran mantan presiden Joko Widodo dan tokoh lainnya dengan vulgar nan satir.

Suprapto berteori bahwa masalahnya lebih besar dari semua yang dikatakan dan diketahui. Dia mengatakan, “Judul [pameran] tidak pernah disorot oleh para penulis dan jurnalis,” menyiratkan bahwa siapa pun yang menutup pamerannya tidak ingin pesan Suprapto diceritakan kepada publik.
The Silenced Soil (Dara Asia, 2025) adalah dokumenter ekspositori yang menjelaskan sisi cerita Suprapto, dan yang lebih penting, implikasinya. Dia mengklaim bahwa itu bukan hanya penindasan kebebasan berekspresi, tetapi cara pemerintah untuk menyembunyikan kebenaran yang tak pernah terungkap; tidak hanya bahwa praktik-praktik yang berasal dari revolusi hijau Orde Baru yang terus memperburuk kualitas tanah Indonesia, tetapi juga menguntungkan produsen pupuk berbasis kimia daripada petani lokal. Dokumenter ini kemudian menunjukkan hasil penelitian Suprapto, yang difokuskan pada alternatif dari praktik umum bertani dengan bahan kimia. Suprapto mengadvokasi sistem yang memanfaatkan bahan organik, dan yang paling penting, sistem yang tidak membunuh mikroorganisme yang membuat kualitas tanah jauh lebih baik. Hal tersebut dapat dicapai melalui sesuatu yang disebut “sistem biodinamika tropis”. Namun, sistem yang lebih baik tidak dapat menjamin jika pemerintah memprioritaskan kesejahteraan kapitalis daripada petani.

Ketika revolusi hijau menciptakan ketergantungan antara petani dan penggunaan bahan kimia, memperburuk kualitas tanah dan ekosistem di dalamnya, dan semakin memperpanjang perbedaan kelas dengan membuat akses mendapatkan bahan kimia dan teknologi pertanian saat ini lebih sulit bagi petani skala kecil, hal ini membuat kita harus lebih waspada terhadap fenomena serupa yang terjadi sejak dini. Bicaralah bahkan ketika negara membungkam kita, bahkan berteriaklah jika perlu. Mari menyingkap kebenaran yang disembunyikan negara dalam waktu yang sudah terlampau lama. (Timmie) (Ed. Vanis/Trans. Shafira Rahmasari)
Detail Film
The Silenced Soil
Dara Asia | 13 min | 2025 | D.I. Yogyakarta, Indonesia
Seleksi Resmi untuk program Lanskap
Festival Film Dokumenter 2025



