Kemunculan perjalanan waktu sebagai tema sastra pada masa fin de siècle merupakan fenomena yang mungkin terkait dengan kemunculan sinema (dan secara luas, fotografi) secara bersamaan, melalui kemampuannya untuk memanipulasi ilusi waktu. Film La Jetée (1962) karya Chris Marker, dalam eksperimen bentuknya yang radikal, sebagian besar menggunakan foto statis untuk bercerita. Namun, metode tersebut tidak hanya berfungsi sebagai wujud konsep Kuleshovian. Dengan menggunakan foto, film memanfaatkan karakteristik khasnya untuk mendukung narasi—yang berfungsi sebagai representasi memori, melayang di antara kehadiran dan ketidakhadiran, antara sekarang dan masa lalu—menjelma menjadi rasa rindu.
“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.”
— Milan Kundera, dalam novel The Book of Laughter and Forgetting, 1979.

Dari kutipan inilah, menurut saya, La Jetée bergerak. Setiap rezim politik, terutama yang otoriter, menggunakan “lupa” sebagai alat dominasi terhadap sejarah yang tidak ingin mereka ingat. Hal ini terwujud dalam bentuk “polisi masa depan” yang memburu protagonis, seorang tawanan perang Perang Dunia III fiktif, yang pada akhirnya membunuhnya saat ia kembali ke masa lalu untuk memenuhi obsesinya menghidupkan kembali pengalaman masa kecil pra-perang yang ia kenang. Dengan logika ini, “mengingat” menjadi bentuk perlawanan terhadap kecenderungan kekuasaan dominan untuk menghapus sejarah tertentu. Seperti kutipan Kundera, momen putus asa protagonis untuk melestarikan momen melawan penghancuran otoriter adalah perjuangan memori melawan “melupakan”—dan karenanya, melawan kekuasaan itu sendiri.
Miren Felder (Malen Otaño, 2024) adalah kisah perjalanan sutradara Otaño untuk menemui neneknya yang telah meninggal melalui mediumship. Dalam perjalanannya, ia juga melihat kilasan masa lalu keluarganya—menyingkap kolaborasi mereka dengan rezim diktator Brasil setelah kudeta militer pada 1964. Film pendek ini juga menggunakan fotografi statis sebagai metode naratifnya—menggunakan foto-foto lama kakeknya sebagai mode naratif. Berbeda dengan film tersebut, yang menggunakan metode ini dalam konteks fiksi ilmiah, Miren Felder justru menggunakannya untuk menceritakan pengalaman nyata (sensorial) Otaño dalam bentuk dokumenter. Seiring dengan berkembangnya episteme kita yang semakin tidak curiga terhadap praktik spiritual non-Barat atau prakolonial—termasuk seni mediumship, Miren Felder menggunakannya seperti La Jetée—sebagai mesin waktu untuk menghadapi masa lalu dan sebagai alat ingatan untuk merindukan keintiman masa lalu.

Seiring Miren Felder mendokumentasikan perjalanan sutradara melalui mediumship, kita juga mengeksplorasi tema trauma nasional, rasa bersalah antargenerasi, memori, dan kematian melalui esai puitis dalam narasi film. Film ini, dalam ketegangan kontradiktifnya untuk berpegang pada keintiman masa lalu dan melepaskan diri dari kekerasan militer, berfungsi sebagai penemuan pribadi (dan keluarga) yang menggugah pikiran. Saat ia menolak melupakan dan menyerah pada kecenderungan kekuatan dominan untuk “menghapus” kenangan tertentu, ia juga berfungsi sebagai kekuatan mistis yang membangkitkan kerinduan akan orang-orang terkasih yang hilang. Miren Felder, karenanya, adalah evolusi konsep yang digunakan La Jetée—melampaui (science) fiction, mendokumentasikan yang nyata. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
MIREN FELDER
Malen Otaño | 20 min | 2024 | Argentina
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



