Duka di Era Kapitalisme Akhir

— Ulasan Film
FFD 2025

Duka adalah cinta yang bertahan. Saat kehilangan orang yang kita cintai, waktu seolah berhenti dan kita berhenti merasa hidup. Kita larut dalam kepedihan, kita menangis. Kita berupaya belajar untuk tidak melupakan, tapi terus melanjutkan hidup—menjaga kenangan orang yang kita cintai, membawa masa lalu bersama kita sepanjang perjalanan.

Namun, bagaimana kita membiarkan cinta bertahan ketika kita perlu tetap menyambung hidup di hari esok? Dalam sistem ini, manusia direduksi menjadi alat produksi dan konsumsi. Logika kapitalisme meremehkan hati yang terluka ketika hal tersebut tak menguntungkan perekonomian. Kesedihan menentang segala logika: ia tak efisien, tak linear, dan tak mengikuti waktu. Ekonomi bergerak dengan kecepatan konstan, tidak mampu berhenti bahkan untuk satu individu pun agar dapat memproses dukanya. Duka, pengalaman yang begitu manusiawi dan komunal, telah berubah menjadi sesuatu yang harus dikelola dan tidak sepenuhnya diatasi. Mereka yang tidak bisa mengikuti risiko kehilangan pekerjaan dan stabilitas tidak punya waktu untuk ketenangan tersebut, karena siapa yang bisa berduka ketika mereka harus menghidupi keluarga?

Reading You (2023) adalah memoir tentang duka di era kapitalisme akhir. Sutradara Angeline Teh menyelami kenangan ibunya yang telah tiada—catatan harian, surat-surat lama, dan kesaksian dari anggota keluarga—untuk memahami trauma dan pengabaian yang ditimpakan ibunya padanya. Mengutip kata-katanya, “Ketika Pa meninggal, aku juga kehilanganmu.” Seiring kenangan ibunya terungkap kepada Teh, empati pun tumbuh dalam dirinya. Dia menyadari betapa dalam dukanya ketika dia kehilangan cinta sejatinya. Di tengah tubuhnya yang berhenti berfungsi, ibunya harus merawat dirinya sendiri, empat anak, dan bisnis yang gagal.

Sebagai mitra patriarki dari sistem ekonomi yang kejam, menjadi seorang ibu berarti berada di bawah tekanan mitos “ibu yang baik”: untuk menjadi tanpa pamrih dan menempatkan keluarga di atas kebutuhan dan kepentingan pribadi. Kehilangan suami juga berarti kehilangan pencari nafkah keluarga. Lahir dalam status ekonomi rendah, ketakutannya untuk kembali ke kondisi sebelum pernikahan semakin mendorongnya ke dalam keadaan rentan—menempatkan dirinya dalam posisi harus bekerja dan sekaligus menjadi penjaga anak-anaknya. Saat ia gagal merawat dan menyediakan kebutuhan keluarga inti, penderitaan tidak hanya berakhir padanya tetapi juga anak-anaknya. Seseorang tidak dapat hidup sebagaimana masyarakat memandangnya sebagai ibu yang gagal. Di akhir hidupnya, ia menulis surat kepada orang-orang yang ia utangi. Ia memohon kepada mereka untuk tidak mengejar anak-anaknya dengan menukar sisa hidupnya sebagai ganti atas pengampunan utang.

Sungguh tragis hidup di zaman ketika meluangkan waktu untuk berduka menjadi hal yang terlampau sulit untuk dilakukan–ketika berhenti sejenak dan menolak anggapan bahwa kita harus tetap produktif meski segalanya terasa berat adalah sebuah privilese. Tak lama lagi, kita akan mengambil kembali kemanusiaan kita dari sistem. Tak lama lagi, masyarakat akan dipeluk dalam genggaman empati. Suatu hari, kita akan membiarkan cinta kita bertahan. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Reading You
Angeline Teh | 14 min | 2023 | Belgia, Malaysia
Seleksi Resmi untuk program Spektrum
Festival Film Dokumenter 2025