Tidak Ada Puisi Hari Ini

— Ulasan Film
FFD 2025
We are inside (2024)

Bagi Musthapa, komposisi hidup adalah 60% masa lalu, 30% masa depan, dan 10% masa kini. Masa kini ibarat halte bagi masa depan sebelum beranjak pergi dari masa lalu. Oleh karenanya, tak seorang pun punya hak, apalagi kuasa, atas kehidupan. Semuanya sementara. Hanya numpang lewat.

Melalui bait-bait puisi yang setia menemani setapak hidup hingga masa senjanya, Musthapa merangkul kehidupan dengan segala akrobatiknya. Baginya, puisi tak hanya gugusan bait yang sarat rima dan konstelasi tanda, tetapi juga merupakan museum kehidupan. Bahasa dipinjamnya sebagai instrumen untuk mengutarakan yang melampaui bahasa itu sendiri.

We are inside (2024)

Sementara itu, Farah, anak perempuannya, memilih menggunakan mata kamera untuk mengabadikan kesehariannya dengan Musthapa, Nana—sang asisten rumah tangga—, dan para pria lansia di klub puisi; selepas Farah kembali ke tanah kelahirannya itu. Kamera bagai kata-kata yang menenun bait puisi; mengartikulasikan relasi yang intim, jenaka, dan kadang penuh debat antara ia dengan, khususnya, sang ayah.

Suatu waktu, Farah bertanya pada Musthapa apakah ia tahu alasannya membuat film ini. Musthapa mengangguk dan menjawab; untuk merekam relasi mereka, tentu saja. Namun, di balik itu, ia menyadari, sebenarnya ada lapis jawaban lain yang sengaja tak ingin ia katakan. Tentang hidup, mati, takdir, dan memori. Musthapa mengingatkan dengan lembut, “Forgetting is part of remembering, My Daughter.” (Melupakan adalah bagian dari mengingat, Anakku, lit.)

We are inside (2024)

We Are Inside (Farah Kassem, 2024) disusun seperti rangkaian puisi. Bait. Demi. Bait. Menjalani keseharian di apartemen, menonton berita, menghadiri pertemuan klub puisi, lalu melongok ke luar jendela pada kota yang sedang gelisah. Di luar bingkai domestik, Lebanon pada 2019 sedang diguncang gelombang protes. Jalanan dikuasai tuntutan. Sementara itu, di dalam apartemen, Farah dan Musthapa memilih bahasa puitis untuk melantangkan hal-hal yang juga politis. Pengulangan ruang dan situasi beroperasi sebagai rima visual yang menautkan ranah privat dan publik. Politik tak bebas dari intimasi, tapi justru menunjukkan bahwa keduanya saling berkelindan erat.

Dalam dokumenter berdurasi 180 menit ini, puisi melampaui bentuknya; ia menjadi sarana berpolitik sehari-hari. Dan tak ubahnya politik, ia menari-nari seperti puisi itu sendiri. Namun, pada akhirnya, di tengah tubuh yang kian melemah, kota yang resah, dan ingatan yang memayah; masih adakah puisi untuk hari ini? (Hesty N. Tyas) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
We Are Inside (Nahou Fil Dakhel)
Farah Kassem | 180 min | 2024 | Denmark, Lebanon, Qatar
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025