Proses dan Keputusan Kreatif Juga Politis dalam Kelahiran The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace (2025)

— Berita
FFD 2025

“Namanya juga sejarah—apalagi sejarah Indonesia—banyak versinya! Sekarang mau dibuat lagi sejarah yang baru”, kata Arfan Sabran selaku sutradara The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace (2025) yang tayang pada Festival Film Dokumenter 2025 dalam program Lanskap bertajuk “Mo(nu)men”. Para penonton berkesempatan untuk mengikuti sesi tanya-jawab bersama sutradara Arfan Sabran setelah sesi pemutaran perdana film di Kedai Kebun Forum (23/11). Sesi tersebut membahas proses riset, keputusan kreatif, maupun sudut pandang yang diambil dalam penggarapan dokumenter tersebut.

Sutradara Arfan Sabran memulai riset The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace dengan menggali sejarah konflik Aceh, dibantu komunitas lokal dan mantan anggota GAM. Proses ini termasuk percakapan panjang dengan para forest rangers eks-GAM yang ia temui saat produksi dokumenter untuk Channel News Asia—pengalaman yang kemudian menjadi salah satu fondasi riset untuk film ini. Wawancara dengan figur-figur penting seperti Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono menuntut manajemen waktu yang efisien.

Pengambilan narasi dan sudut pandang diputuskan dengan adanya kolaborasi dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang mendorong Arfan untuk menyoroti aspek diplomasi dalam Perjanjian Helsinki. Pada akhirnya, fokus dari dokumenter ini adalah untuk menunjukkan segala negosiasi serta perdebatan Aceh-Indonesia hingga titik gencatan senjata. Ia memusatkan narasi pada dinamika diplomasi, kegagalan perundingan di Swiss dan Tokyo, hingga keberhasilannya di Helsinki.

Dalam merancang keputusan kreatif, Arfan menekankan pentingnya menemukan struktur yang dinamis agar film tidak terasa monoton. Sebagai solusi, ia menyebarkan titik-titik konflik penting secara merata dalam narasi. Kompleksitas sejarah serta keterbatasan akses terhadap materi rapat—yang saat itu bersifat rahasia—menjadi tantangan besar dalam merumuskan penceritaan. Minimnya arsip saat rapat Helsinki mendorong penggunaan animasi, yang tidak hanya berfungsi untuk mengisi ketidaklengkapan arsip, tetapi juga memberi pengalaman visual yang menarik. Tim animator di Yogyakarta diarahkan untuk memvisualisasikan situasi di dalam ruang rapat dengan cermat—GAM di kiri, Indonesia di kanan, Ahtisaari di tengah—sementara musik digunakan untuk membentuk tensi dan menjaga keterlibatan penonton dalam alurnya yang non-kronologis. Dalam proses penyuntingan, banyak data dan wawancara terpaksa dipangkas agar narasi tetap fokus pada inti narasi yang ingin disampaikan.

Diskusi diakhiri dengan Arfan yang menceritakan temannya dari Aceh yang terdorong untuk menelusuri dokumen dan MoU asli Perjanjian Helsinki setelah menonton film tersebut. Seperti temannya, harapan Arfan adalah film tersebut dapat memicu diskusi yang seterusnya akan melengkapi fragmen-fragmen sejarah yang semakin hari kian dimanipulasi. (Timmie, 23/11/2025 [Ed. Vanis])