Bagaimana sebuah film dapat bekerja melewati layar dan bertransformasi menjadi aksi sosial? Untuk merespons pertanyaan itu, Festival Film Dokumenter 2025 menghadirkan sesi DOC Talk berjudul Ringan Sama Dijinjing. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 22 November 2025, di Kedai Kebun Forum, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang. Diskusi dipandu oleh Kurnia Yudha, menghadirkan sutradara Planet of Love (2023), Ika Wulandari, yang membagikan proses artistik, etika, dan pergulatan emosional di dalam proses pembuatan film.
Apa yang terekam kamera tidak selalu sama dengan apa yang direkam oleh tubuh. Dalam dokumenter, khususnya ketika pembuat film hidup dekat dengan subjeknya, rekaman tidak hanya berwujud cuplikan visual yang bisa dipotong, direkonstruksi ulang, atau dipresentasikan di layar. Ada rekaman lain yang melekat dan mengendap dalam tubuh pembuat film: pengalaman merawat, menyaksikan, hingga kehilangan.

Di titik inilah kerja dokumenter menjadi pertaruhan: kamera bisa memilih jarak, tetapi tubuh dan memori tidak selalu punya pilihan. Ketika dokumenter menyentuh wilayah rapuh seperti kematian, stigma, dan perjuangan hidup subjek, dampaknya tidak berhenti pada penonton atau subjek film—tetapi juga kembali menghantam orang di balik kamera. Tema DOC Talk: “Ringan Sama Dijinjing” menemukan resonansinya di sini: bahwa “impact” tidak hanya bergerak keluar sebagai kampanye atau pemantik perubahan sosial, tetapi juga bergerak ke dalam; mewarnai pergulatan emosional pembuat film dan membentuk ulang cara ia melihat dunia. Dokumenter, dalam konteks ini, menyajikan dampak yang tumpuk undung.
Planet of Love merekam kehidupan di Yayasan Lentera Surakarta—panti yang menampung dan membersamai anak-anak dengan HIV/AIDS yang kerap disisihkan dari ruang sekolah dan lingkungan sosial.
Film ini berawal dari pengalaman Ika sebagai relawan selama hampir satu tahun di Yayasan Lentera. Dari sana, muncullah dorongan untuk merekam. Dengan kamera pinjaman, ia mulai menyusun ingatan visual, meski awalnya ia belum tahu fokus film ini akan ke mana. “Terlalu banyak cerita, terlalu banyak lapisan,” ujarnya. Setelah mengikuti berbagai lokakarya, Ika akhirnya menemukan menemukan arah film, meski masih tanpa peta utuh. Prinsip Ika sederhana saja, film ini harus jadi, bagaimana pun jalan dan caranya.

Pertanyaan pertama dari peserta diskusi menyentuh wilayah sensitif, “Bagaimana Ika menjaga jarak emosional ketika harus merekam momen-momen berat secara afektif?” Ika pun membagikan pengalaman terberatnya selama produksi, yakni ketika Okta, salah satu subjek utama film, dirawat di rumah sakit dan kondisinya kian melemah. Dalam momen kritis itu, Ika dihadapkan pada dilema antara menaruh kamera dan hadir sebagai teman atau tetap merekam sebagai pembuat film. Ia pun memilih merekam; keputusan yang kemudian membekas hingga membuatnya butuh waktu berbulan-bulan untuk sanggup menonton kembali rekaman itu. Proses penyuntingan gambar/editing memakan waktu 4 tahun, bukan karena teknis, tetapi karena tubuh perlu waktu untuk memilah luka. Emosi tidak bisa diedit, tapi barangkali justru dari situlah film menemukan napas dan spirit emansipatorisnya.
Pertanyaan berikutnya menyasar pada konteks sosial dalam film: adakah dan bagaimanakah bentuk diskriminasi yang dialami anak-anak dengan HIV/AIDS di sekolah? Ika menjelaskan bahwa beberapa dari mereka mengalami perundungan, pengucilan, hingga dikeluarkan dari sekolah meski memiliki semangat belajar yang tinggi. Situasi ini memperlihatkan jurang antara regulasi dan realitas; ketika kebijakan perlindungan anak sudah tertulis, tetapi pelaksanaannya masih selektif. Ada hierarki yang tak tampak: siapa yang dianggap lebih pantas untuk diperjuangkan?

Pada titik ini, tema DOC Talk: “Ringan Sama Dijinjing” pun menjadi relevan dan kian signifikan. Ika mengundang Putri Rakhmadhani, produser impact Planet of Love, untuk memperkenalkan kampanye “Berani Peduli.” Kampanye ini berfokus pada invisible disabilities—kondisi yang tidak terlihat secara fisik tetapi tetap mengalami stigma. Program ini menyasar sekolah-sekolah dasar melalui pemutaran film pendek yang ramah anak, dilanjutkan sesi diskusi empatik. Harapannya sederhana tapi signifikan: menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan setara bagi semua anak—termasuk mereka yang selama ini tersembunyi di balik stigma.
Di sinilah Planet of Love menunjukkan bahwa dokumenter bukan hanya peristiwa menonton: ia ruang perjumpaan, percakapan, dan kemungkinan. Film ini mengajak penonton bukan sekadar merasa, tetapi memikirkan posisi, relasi, dan tindakan. Dan mungkin, sebagaimana judul Doc Talk hari itu, beban ini memang tidak bisa dibagi rata. Tapi setidaknya: ia bisa dijinjing bersama. Sebab film bisa selesai, tetapi dampaknya terus bergerak. Adegan bisa diedit. Luka tidak. Dan dari sanalah barangkali perubahan terjadi. (Hesty N. Tyas, 22/11/2025 [Ed. Vanis])



