Di balik gemerlap kota dan lalu lalang kendaraan, kita diajak untuk melihat sisi lain jalanan. Raungan gas digeber dengan penuh semangat. Motor-motor dengan body yang tidak utuh dan mesin yang dimodifikasi meliuk menyalip kendaraan-kendaraan lain di kerumunan jalan. Riuh dan berbahaya.
Melalui sudut pandang Zalmi, seorang pelajar SMK di Bireun, kita dibawa untuk melihat sisi lain para joki balap. Forced to Be Wild (Muhammad Al Hafiz, 2025) memaparkan dunia Zalmi yang sedang melakukan protes mengenai keterbatasan fasilitas yang tersedia untuk mendukung hobi dan cita-citanya. Ia terpaksa meliar di jalan raya yang ramai bercampur dengan pengguna jalan lain karena tidak adanya sirkuit yang dibangun pemerintah untuk melokalisasi adu balap. Alhasil, seringkali ia dan kawan-kawannya harus kucing-kucingan dengan polisi yang mengintai mereka ketika sedang meliar di jalanan.

Bagi para pemilik motor balap aduan dan jokinya, ditangkap polisi merupakan risiko yang sangat mereka pahami. Mereka bukan tidak sadar akan kesalahan yang mereka lakukan di jalan raya. Namun, keterbatasan ruang dan besarnya hasrat serta cita-cita untuk melakukan balapan membuat mereka nekat untuk melakukan apa saja. Termasuk meliar dan dikejar.
Zalmi merupakan bagian dari tim balap yang berisi remaja seusianya. Ada yang bertugas sebagai pengatur motor, penanggung jawab tim, dan joki itu sendiri. Mereka secara kolektif senantiasa menyusun siasat untuk sekadar berlatih untuk mengikuti balapan resmi. Tentu dengan resiko dibubarkan–dan bahkan ditangkap–oleh polisi. Ironisnya di balik dunia Zalmi dan kawan-kawannya, balapan yang dianggap resmi pun merupakan sesuatu yang mengganggu. Balapan yang dilakukan dengan menutup jalan raya membuat sebagian warga terganggu, sebab menghalangi aktivitas mereka. Jalan raya yang seharusnya lancar untuk digunakan sebagai jalur transportasi dipaksa mati dan tidak bisa digunakan untuk beberapa jam. Sebuah keluhan yang sebenarnya Zalmi dan kawan-kawannya sadari.

Bagi Zalmi, balapan merupakan cita-citanya dan akan ia perjuangkan. Namun, ia dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya terpaksa liar di jalanan malam hari yang gelap dan penuh resiko. Sepanjang 19 menit dokumenter ini, kita akan terpapar ragam bentuk protes dan perlawanan para pembalap muda atas kondisi mereka dan tidak adanya dukungan yang mewadahi dari pemerintah. (Ahmad Radhitya Alam) (Ed. Vanis)
Detail Film
Forced to Be Wild (Terpaksa Liar)
Muhammad Al Hafiz | 19 min | 2025 | Aceh, Indonesia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pelajar
Festival Film Dokumenter 2025



