Program Kompetisi Pelajar FFD 2025 yang diputar di Kedai Kebun Forum pada Sabtu (22/11) pukul 15:45 WIB memperlihatkan satu hal penting: dokumenter tidak sekadar genre, melainkan juga medan eksplorasi. Setelah pemutaran, sesi tanya jawab berlangsung bersama para pembuat film dari keenam film yang ditayangkan: DJUM (Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto, 2025), Constructed (Jonathan Gradiyan, 2025), Our Father Hour (Aziz Hammad Kusteja, 2025), Forced to Be Wild (Muhammad Al Hafiz, 2025), When the Blues Goes Marching In (Beny Kristia, 2025), dan Honey & Moon (Navin Dharma Christopher Erick, 2025). Keenam film tidak hanya menampilkan ragam tema, tetapi juga keberanian untuk mempertanyakan bentuk, batas, dan kemungkinan dokumenter sebagai sebuah karya.
Teuku Muhammad Hafidz Ramadhan selaku produser Forced to Be Wild membuka diskusi dengan konteks sosial di balik filmnya, yakni komunitas balap “liar” di Aceh. Hafidz tidak memandang protagonisnya sebagai semacam anomali karena pada kenyataannya memang begitulah cara komunitas balap di daerah Aceh mengakomodasi hobi mereka sendiri. “Kalau tidak latihan, bagaimana mereka bisa berkembang? Tapi kalau latihan, warga terganggu. Mereka juga sadar itu,” tuturnya. Di balik bising knalpot motor dan jalanan umum yang diblokade, film ini mengundang penonton untuk memahami lapis-lapis di baliknya; resistensi sekaligus negosiasi atas ruang publik, akses, dan kebutuhan berekspresi.

Berikutnya, melalui Constructed, sutradara Jonathan Gradiyan menyodorkan pertanyaan mendasar tentang dokumenter itu sendiri: apa yang sebenarnya disebut dengan “realitas”? Baginya, dokumenter adalah konstruksi; kumpulan keputusan politis yang diambil melalui mata kamera, durasi, framing, hingga penyuntingan. “Kadang, dokumenter dianggap kurang bergengsi daripada fiksi,” katanya, “tapi sebenarnya dua-duanya sama: sama-sama pilihan.”
Sementara itu, sutradara Beny Kristia melalui When the Blues Goes Marching In mendekati dokumenter sebagai ruang arsip, memori, rasa, dan hal-hal di antaranya. Demonstrasi, mimpi, trauma generasional, dan performativitas protes hadir dalam bentuk yang teatrikal, surealis, dan berlapis. Ia mengakui bahwa bentuk itu bukan keputusan awal, melainkan hasil panjang dari mengendapkan rekaman, membaca konteks pascapemilu, dan menemukan teks serta karya sastra pemantik. Film ini bekerja seperti ingatan kolektif yang tak pernah selesai.
Di dalam Our Father Hour, Aziz Hammad Kusteja membalik gagasan “film personal” menjadi ruang dialog antarpengalaman. Mengambil inspirasi dari momen intim sekaligus duka dalam keluarganya, Aziz pun mulai mengonstruksi dokumenter animasinya. Ia juga mengadopsi kisah temannya yang lain untuk memperkaya narasi tentang sosok ayah yang terus-menerus diperbincangkan dalam filmnya. Bagaimana “fatherless” diartikulasikan lewat animasi dan dengan dituturkan oleh sang protagonis, yakni sang anak sendiri? Ayah yang memang sudah tiada dan ayah yang ada tapi tiada; kedua kisah disuguhkan berdampingan dan saling berkelindan.

Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto, melalui DJUM, memilih jalur observasional. Sosok Pak Jum, pekerja gerobak sampah di Yogyakarta, muncul bukan sebagai korban, tetapi sebagai pribadi dengan prinsip hidup yang kuat: bersedekah sebagai bentuk keyakinan bahwa rezeki tidak akan putus. Kehangatan dan humor muncul secara subtil, menjadi pancarona di balik isu sampah di Yogyakarta yang hingga kini masih entah kabarnya.
Program ditutup dengan Honey & Moon karya Navin Dharma, kisah dua penghuni panti jompo yang baru saja mengikat janji pernikahan di usia senjanya. Harapan, bukan kesedihan, menjadi pusat narasinya. “Mereka masih menaruh hope untuk masa depan. Jadi, kupikir kita pun sebagai anak muda mesti demikian,” ujar Navin, sambil menjelaskan bagaimana proses menemukan subjek film dimulai dari kunjungan ke berbagai panti jompo. Keputusan memilih pasangan ini barangkali dapat menunjukkan bahwa dokumenter dapat bergerak ke arah yang afirmatif tanpa jatuh ke sentimentalitas.

Dari keseluruhan sesi, satu benang merah tampak jelas adalah bahwa para pembuat film muda ini tidak hanya bereksperimen dengan tema, tetapi juga dengan cara mendudukkan kamera dan memandang dunia. Ada yang membawa protagonisnya melalui relasi dan observasi longitudinal, ada yang mempertanyakan ulang fungsi dokumenter, ada pula yang menjadikan mimpi dan arsip sebagai metode. Perbedaan pendekatan, dari observasional hingga eksperimental, menunjukkan bahwa dokumenter tidak lagi dipahami sebagai genre, tetapi juga sebagai ruang negosiasi antara pengalaman, bentuk, dan pilihan etis.
Program Kompetisi Pelajar tahun ini memperlihatkan keberanian untuk mencari bahasa yang tidak selalu seragam atau “yang seharusnya.” Jika dokumenter adalah cara memahami dunia, maka dari para pembuat film ini kita dapat memetik pelajaran bahwa memahami berarti mendengar, mempertanyakan, dan terkadang membiarkan sesuatu menggantung dengan pertanyaan-pertanyaan. (Hesty N. Tyas, 22/11/2025 [Ed. Vanis])



