Hampir setiap hari, aku membuang sampah ke tempat sampah yang ada di depan kos. Setiap beberapa hari sekali, pasti tempat sampah itu sudah kembali bersih. Siapa yang mengambil? entahlah, aku hampir tak pernah melihat. Tapi yang aku tahu, ada petugas kebersihan yang datang untuk mengangkut sampah setiap beberapa hari sekali.
Melalui Djum (2025), akhirnya aku bisa melihat, bahkan turut, mengikuti keseharian seorang pengangkut sampah. Pak Jumadi namanya, seorang pria berusia 68 tahun yang telah lebih dari 4 dekade menjalani profesinya. Sutradara Ahmad Brilian Maulana Vijayanto menghadirkan dokumenter ini sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang kerap luput dari perhatian kita. Sosok tersebut, melampaui pekerjaannya, mengajak kita untuk mengintip segala perannya dalam hidup.

Kamera tidak banyak mengintervensi, hanya mengikuti dari belakang atau samping Pak Jumadi; menjadikan penonton sebagai pengamat pasif. Djum tidak berusaha memaksa penontonnya lewat pesan moral yang gamblang. Film ini justru bekerja lewat kesederhanaan, membiarkan kita melihat sendiri makna dari kerja keras, kasih sayang, dan keteguhan. Ketika shot mulai menarasikan anak Pak Jumadi yang akhirnya meraih gelar sarjana, kita tidak sekadar melihat keberhasilan ekonomi, melainkan keberhasilan nilai bahwa kesungguhan seorang ayah, sekeras apa pun hidup, bisa menjadi warisan yang lebih berharga dari harta. (FadliAwan) (Ed. Vanis)
Detail Film
DJUM
Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto | 18 min | 2025 | D.I. Yogyakarta, Indonesia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pelajar
Festival Film Dokumenter 2025



