“Keuntungan terbesar laki-laki adalah bahwa budaya kita mengizinkan dua standar kecantikan mereka: anak laki-laki dan laki-laki dewasa. [Bagi perempuan,] hanya satu standar kecantikan yang diakui: gadis. […] Tak ada yang setara [dari laki-laki] bagi perempuan. Standar kecantikan tunggal bagi perempuan menentukan bahwa mereka harus terus memiliki kulit yang mulus. Setiap kerutan, setiap garis, setiap rambut putih, adalah sebuah kekalahan. Tak heran jika tak ada anak laki-laki yang keberatan menjadi laki-laki dewasa, sementara transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa awal dirasakan oleh banyak perempuan sebagai kehancuran mereka, karena semua perempuan dididik untuk terus ingin terlihat seperti seorang gadis.”
–– Susan Sontag, dalam esainya Beauty and the Double Standard of Aging.
Dalam Lion’s wrinkle and Crow’s feet (2024), sutradara Juliette Léonard merenungkan penuaan dirinya dalam dunia yang menentang kerutan dan mempromosikan produk anti-penuaan. Melalui beragam media: rekaman gerilya di lorong kecantikan supermarket, panggilan video intimnya dengan neneknya, dan membuat dirinya terlihat lebih tua dengan riasan, kita menjelajahi ketakutannya dan paradoks yang menyertainya. Mengetahui bahwa penuaan adalah hal yang wajar, tetapi tetap harus menghindarinya. Menolak ketika neneknya bertanya apakah dia jelek, tetapi tetap takut terlihat seperti neneknya. Refleksinya, ketakutannya, mengingatkan saya pada para perempuan dalam keluarga saya—ibu saya, saudara perempuan saya.

Ibu saya, bahkan saat keluarga kami tidak punya uang sama sekali, tetap bersikeras harus terus mengunjungi klinik kecantikan. Ketika saya masih kecil, saya tidak mengerti alasannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang tak adil. Tempat itu terlihat mewah, jadi menurut saya pasti mahal. Seperti krim racikan yang membuatnya ketergantungan, dan ternyata memang begitu. Dia mengakuinya sendiri. Ketika dia berhenti, dia menyuruh saudara-saudara perempuan saya untuk tak terjebak oleh klinik kecantikan seperti yang dia alami. Dia menjelaskan pada mereka bahwa klinik itu sengaja meresepkan krim wajah yang harus digunakan secara rutin. Karena jika tidak, efeknya akan hilang. Saudara perempuan saya juga mengalami hal serupa. Dia pernah menderita jerawat parah dan harus memakai masker wajah untuk menyembunyikannya dari dunia. Saya sering melihatnya menatap cermin, memencet dan terobsesi dengan jerawat di wajahnya. Dalam frustrasinya, dia mengatakan pada saya bahwa dia mempertimbangkan untuk mengonsumsi pil kontrasepsi hanya untuk mengurangi jerawat hormonal yang dia alami. Dia masih mempertimbangkannya bahkan setelah memberitahu saya tentang efek sampingnya—risiko depresi, menstruasi tidak teratur, dan lainnya. Saya tidak pernah menyadarinya: penderitaan kecantikan. Saya tahu tentang itu, karena frasa itu sering digunakan—tapi saya pikir saya tak akan pernah bisa memahaminya.

Dari pengambilan alih Lolita karya Nabokov, yang berubah menjadi arketipe budaya yang terdistorsi. Dari pandangan seksual terang-terangan terhadap gadis sekolah dalam anime. Dari ikon seks Marilyn Monroe, yang berkata, “Saya bisa jadi pintar di saat-saat penting, tapi kebanyakan lelaki tak menyukainya.” Dari foto-foto model yang tak terhindarkan menjadi objek yang dapat dimiliki secara simbolis. Aplikasi kamera dan filter kecantikan yang memutihkan kulit, membuat kita bebas dari segala noda. Dari obsesi Leonardo DiCaprio terhadap gadis-gadis muda. Film, buku, seni yang memuja kemudaan, memuja ketidakbersalahan. Di dunia laki-laki, untuk menjadi muda tampaknya adalah untuk didambakan. Untuk mencapainya adalah untuk dihomogenisasi, didehumanisasi.
Melalui dokumenter ini, Léonard menghadapi ketakutan dalam dunia yang menciptakan ketakutan padanya. Sebagai balasan, dengan gaya situasionis, ia mengubah iklan pusat kebugaran menjadi poster yang menggugat propaganda anti-penuaan: “bagaimana jika kita tidak punya apa-apa untuk diperbaiki, tidak ada yang harus diperjuangkan, tidak ada yang harus dipenuhi?” (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
Lion’s wrinkle and Crow’s feet (Ride du Lion et Pattes d’Oie)
Juliette Léonard | 24 min | 2024 | Belgia
Seleksi Resmi untuk program Spektrum
Festival Film Dokumenter 2025



