Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada 4 Desember 2019 Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 menggelar kuliah umum bertajuk Indonesian Cinema after the New Order Going Mainstream di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Acara yang menjadi rangkain program Doctalk FFD, menghadirkan Thomas Barker sebagai pembicara. Selaku associate professor di University of Nottingham Malaysia yang mengajar di bidang komunikasi dan Film serta Televisi, dia menemukan bahwa terma film nasional telah berubah setelah ’98.

Film nasional tidak lagi mengacu pada film-film yang membahas sejarah negara atau wawasan tentang kenegaraan. Thomas menggunakan Ratu Ilmu Hitam (Kimo Stamboel, 2019) sebagai alat untuk membicarakan perubahan (baca: perkembangan) sinema Indonesia ke arah yang lebih mainstream. Sebagai film horor “film ini menyetir penontonya pada kepercayaan lokal, sehingga ini bukan film horor a la Amerika atau Hollywood atau Korea, tapi memang dilatarbelakangi oleh kepercayaan dan realitas lokal,” tegas Thomas.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa film ini tidak hanya diminati karena genre-nya, melainkan juga karena konsep narasi yang dekat dengan kehidupan penontonnya. Kedua, film ini adalah remake (dibuat ulang) dari film sebelumnya yang pernah tayang di tahun 1981. Ketiga, film ini menggunakan artist dan aktor yang dikenal dan digandrungi oleh anak muda saat ini. Keempat, sutradara adalah anak muda yang telah memiliki banyak pengalaman. Kelima, muncul kerjasama antara production company lama dengan modal baru. Keenam, post production di negara lain yang menunjukkan adanya peristiwa transnasional dalam dunia film. Ketujuh, marketing yang luar biasa gencar dan masif. Terakhir, penontonnya telah mencapai satu juta orang.

Pada acara yang berlangsung selama dua jam ini, Thomas menegaskan bahwa pasar memiliki  peran penting bagi perkembangan film Indonesia ke arah yang lebih “pop”. Perkembangan ini dibangun oleh masyarakat lewat jaringan bioskop, festival, dan berbagai pemutaran-pemutaran yang berlangsung secara mandiri di berbagai wilayah. 

Penulis: Nisa Rachmatika

Close Menu