Wawancara Bersama Aryo Danusiri

SHARE

Aryo Danusiri, pembuat film dokumenter Indonesia yang kerap menggunakan pendekatan observasional, menemukan masalah dalam dokumenter-dokumenter Indonesia. Menurutnya, para pembuat film masih membangun dualisme antara teks dan non-teks, yang menempatkan fakta hanya dalam tuturan dan terpisah dengan gambar. Hal ini yang nanti menciptakan stereotip dan melanggengkannya.

Di tahun ini, Aryo Danusiri kembali bergabung dengan Festival Film Dokumenter (FFD) sebagai Juri Kompetisi Dokumenter Kategori Pendek. Simak obrolan tim FFD dengan Aryo pada dialog di bawah ini:

 

Sebagai pembuat film dokumenter, bagaimana kesan anda ketika mengamati film finalis kompetisi dokumenter kategori pendek FFD tahun ini?

Saya melihat pola yang berulang di semua film. Semuanya masih tetap membuat dualisme, antara yang verbal dan non-verbal. Kalau dalam filsafat, antara pikiran dengan tubuh. Antara pikiran dengan tindakan. Tetapi, bukan bagaimana antara pikiran dengan tindakan ini terjadi dalam satu situasi yang berkelanjutan.

Kemudian, apa yang disebut pikiran itu disamakan dengan karakter terdalam, disamakan dengan psikologi, karakter orang. Sehingga kita cenderung stereotyping pada orang, ketimbang memahami ‘bagaimana seseorang bergulat dengan kondisi-kondisi sosial, lingkungan-lingkungan sosial, lingkungan alam, yang membuat orang berubah dinamis dan berbeda’. Nah, itu yang menurut saya menjadi persoalan. Karena, di kerangka ini, memahami seseorang adalah memahami tindakan dan memahami praktiknya. Kita tidak melihat akarnya, kita hanya melihat lapisan teratas bagaimana orang tersebut bergerak. Nah itu yang saya lihat selama ini dalam film.

Misalnya dalam Niqab (2018), bagaimana membedakan antara momen adegan untuk interview, dengan adegan yang menangkap kata-kata, dan gambar hanya sebagai ilustrasi untuk kata-kata yang disampaikan dalam verbal. Lagi-lagi ada “peng-istimewa-an” terhadap kata-kata; terhadap bagaimana realitas itu sebenarnya adalah keterlibatan antara kata-kata terhadap kejadian. Itu menjadi persoalan. karena kenyataan itu bukan hanya manifestasi dari apa yang dipikirkan orang. Tetapi, bagaimana proses negosiasi; dialog antara pikiran dengan tindakan. Antara orang dengan situasi di sekitarnya.

Itu, menurut saya menjadi problem, karena kemudian dokumenter tetap dan masih dalam situasi yang mengistimewakan verbalisme. Dan, bukan lagi ekspresi yang pictorial.

 

Dari analisis tersebut, apakah anda sendiri punya gambaran atau kategorisasi tentang dokumenter di Indonesia dari masa ke masa?

Sebenarnya ada beberapa lembaga yang membentuk suatu style atau gaya. Misalnya, film-filmnya Mas Dudit tentang Sumba, yang waktu itu menang di FFD; tahun berapa saya lupa. Ada karakter pembangunannya di situ; yang menggerus tradisi. Ya, style-nya waktu itu bukan observasi, masih dalam bentuk dokudrama. Kenapa dokudrama yang muncul? Ya, karena negara yang membiayai.

Kemudian festival film yang masih berorientasi bahwa dokumenter itu sebagai format atau ekspresi yang tambahan saja dari fiksi. Lalu, di pendidikan sendiri belum diperkenalkan berbagai gaya dokumenter. Tapi, di saat bersamaan Garin Nugroho, bikin dokumenter dengan gaya yang lain, karena bisa dilihat dia punya peer group yang tersosialisasi di kalangan yang lain, seperti di pusat kebudayaan Prancis dan Jerman.

Dan, bagaimana setelah reformasi kita mulai mengeksplorasi gaya-gaya baru. Mulai mengangkat sejarah menjadi sesuatu yang tidak lagi terkuburkan, terbisukan. Setelah reformasi, banyak dari kita yang masih mengangkat topik-topik seputar ini, dengan gaya-gaya dokumenter investigatif. Lalu kemudian kita lelah dengan gaya ini, lalu muncullah gaya observational cinema. Nah, persoalannya sekarang, (gaya ini) sepertinya terhenti. Seharusnya muncul gaya baru yang bisa terus berkembang. Dan, sekali lagi, itu terpengaruh oleh aktor-aktor atau institusi yang hadir dalam ekologi dokumenter Indonesia; Pendidikan, festival, dan segala hal yang mengonstruksi hal ini.

 

Apakah persoalan itu berkaitan dengan masalah perfilman di Indonesia yang tidak bersumber pada satu muara?    

Iya, karena basicnya adalah, embedded in film style is theory of knowledge. Jadi bagaimana style itu sebenarnya mengonstruksi cara orang melihat. Style itu bukan sekadar gaya visual-seperti angle dan segala macem, tapi itu sebetulnya cara melihat, cara berpikir. Tapi kadang-kadang orang terlalu gugup, gelisah dengan hubungan antara inovasi dan popularitas. Artinya, antara satu gaya itu diciptakan baru, kemudian diikuti dan jadi tren, trus kemudian dianggap sebagai satu yang bermasalah. Menurut saya, dua hal itu memang harus selalu ada. Tapi persoalannya adalah, siapa yang sebenarnya bertugas untuk menghadirkan kebaharuan-kebaharuan itu? Itu yang paling penting. Supaya ada cara pandang baru, cara bagaimana melihat realitas dan menyikapinya.

 

Menurut anda, unsur apa yang perlu hadir dalam dokumenter dan biasanya luput digarap oleh pembuat film?

Sebenarnya bukan luput ya, tapi lagi-lagi cara berpikirnya. Jadi cara berpikir seperti, misalnya, ketika kita bicara soal drama. Film itu kan ada drama, ada estetika, dan ada informasi. Itu kan tiga-tiganya akan selalu ada. Bahkan untuk dokumenter yang penuh dengan talking head, penuh dengan interview pun menghargai atau peduli pada drama, misalnya. Tapi persoalannya, bentuk drama macam apa yang mau kita sampaikan?, Drama macam apa yang mau kita ekspresikan?.

Ya kalo cara berpikirnya masih merasa selesai dengan mendapatkan kata-kata ketimbang melihat bagaimana kata-kata hidup dalam keseharian dan bagaimana kata-kata itu muncul, hilang, pergi, bahkan bersembunyi di dalam keseharian. Akhirnya, ketika membuat ‘drama’, ya hanya ditambahin musik. Padahal sebetulnya drama itu hadir ketika tiba-tiba kata-kata itu muncul, dan di beberapa adegan berikutnya dia hilang. Lalu pada adegan berikutnya dia dikhianati. Nah, itu kan drama. Ada kehilangan, ada pengkhianatan.

Nah, bagaimana pengkhianatan itu terjadi dalam keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari. Kan itu yang sebetulnya cara yang berbeda dari melihat drama dalam bentuk dokumenter yang ekspositori, atau misalnya dokumenter yang observasional. Tapi juga ada drama yang berbeda lagi dengan gaya misalnya poetic documentary atau performative documentary.

 

Menuru anda, topik apa yang biasanya belum banyak diangkat oleh pembuat film dokumenter di Indonesia?

Biasanyakan topik-topiknya tentang social justice. Tapi, persoalannya kan bukan di social justice-nya. tapi, lagi-lagi kembali ke cara berpikirnya itu. Bukan masalah topiknya, tapi di bagaimana  ‘Personal is political’, bagaimana cara pandang itu juga penting. Tapi sering kali yang namanya social justice itu ya diekspresikan dengan ‘kepalan tangan’, dengan teriakan demonstran. Tapi tidak melihat banyak hal-hal yang sifatnya keseharian dan remeh temeh itu sebenarnya juga sangat-sangat politis.

 

Menurut anda, apa yang seharusnya dibangun festival melalui program kompetisinya?

Festival itu kan sebenarnya seperti upacara ya. Lalu upacara tugasnya adalah menginisiasi satu momen untuk membicarakan nilai-nilai. Nah, persoalannya kemudian sering kali nilai itu hanya diberikan dalam bentuk yang sangat terbatas. Seperti nilai ‘siapa yang duluan selesai makan kerupuk?’.

Malah sebetulnya kompetisi film bukan kompetisi makan kerupuk kan, tapi sebetulnya ada nilai-nilai baru, ada nilai inovasi, ada kecenderungan-kecenderungan baru yang diperkenalkan ke publik. Karena nilai-nilai baru itu, gaya baru menjadi cara berpikir baru untuk melihat masalah. Jadi sebetulnya, itulah yang penting begitu. Bagaimana melihat festival sebagai upacara, tapi bukan upacara yang terus menerus mengulang nilai-nilai lama. Atau bagaimana dia selalu memperkenalkan nilai-nilai yang baru.

 

Terakhir mas, pengalaman apa yang bisa dibagi setelah hadir dan terlibat dalam Festival Film Dokumenter tahun 2018 ini?

FFD tahun ini menarik ya, karena programnya tidak hanya bicara mengenai dokumenter itu sendiri, artinya melihat film sebagai film aja. Tapi bagaimana film itu dihadirkan sebagai cara melihat, cara berpikir. Jadi bagaimana (fungsi) dokumenter sebagai visual thinking sangat termanifestasi di berbagai program di FFD. Menurut saya itu hal yang dapat membuat FFD selalu update dan relevan bagi Indonesia.

Close Menu