Teknologi Menonton Lintas Medium dalam Sudut Pandang Slamet Thohari

16—11—2021
Interview

Slamet Thohari adalah dosen Departemen Sosiologi Universitas Brawijaya yang banyak bergelut di isu-isu inklusivitas. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya selama tujuh tahun serta merupakan ketua untuk Indonesia di AIDRAN (Australia Indonesia Disability and Advocacy Network). Dia menyelesaikan studinya di Departemen Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Department of Sociology di University of Hawaii at Manoa. Bidang penelitiannya meliputi studi difabel, interseksionalitas, sosiologi kesehatan, gender, dan Islam di Indonesia. 

Festival Film Dokumenter 2020 mengundang Slamet Thohari sebagai pembicara dalam sesi DocTalk bertajuk Voice: Virtual Reality, Lintas Medium dan Dampak Baru Dokumenter.  Pada Jumat, 11 Desember 2020, kami berkesempatan mengulik lebih lanjut sudut pandangnya mengenai isu difabel dan kaitannya dengan kehadiran teknologi lintas medium.

 

Bagaimana Anda memandang aksesibilitas platform digital saat ini? 

Dunia digital ini menghadirkan banyak perubahan dan juga instrumen revolusioner bagi difabel yang menjadi jalan bagi ilmu pengetahuan. Semuanya kini aksesibel. Dulu tunanetra untuk membaca koran atau buku itu harus dibacakan atau (pakai huruf) braille. Tapi dengan adanya website, soft file, dan bermacam-macam itu menjadikan mereka menikmati berita yang orang lain juga baca. Mereka juga bisa bermedia sosial. Dulu kan tidak. Koran pagi itu dulu mereka tidak baca, hanya dengar-dengar saja.

Masalahnya, ada hal-hal yang tidak bisa dibaca oleh screen reader. Misalnya gambar poster tanpa teks, itu susah dibaca oleh aplikasi. Sehingga tunanetra kalau membaca pengumuman atau buku panduan yang formatnya gambar itu tidak bisa dibaca. Mereka tidak bisa mengakses itu. Demikian pula dengan film. Kini, YouTube juga menyediakan narasi dari apa yang ada di gambar. Maka dulu ada gerakan membuat narasi sebuah film. Seperti film yang baru saja rilis, Sejauh Melangkah (2019) karya Ucu Agustin itu ada aksesibilitasnya. Termasuk film-film dokumenter yang ditampilkan di sini ada akses seperti itu. Sehingga bisa dinikmati tunanetra.

 

Bagaimana pandangan Anda dengan kehadiran program The Feelings of Reality?

Itu menyuguhkan hal yang baru bagi penyandang disabilitas. Khususnya Tuli, dia bisa menikmati suasana yang ada. Kemudian dia akan menganalisis semua gerak bibir, kedipan, mimik dan ruangan. Virtual reality-lah yang bisa menghadirkan hal seperti itu. Tapi masalahnya kemudian adalah, bisakah virtual reality itu juga dinikmati oleh tunanetra?

Itu menjadi problem. Banyak sekali website-website bahkan menurut penelitian, 70 website pemerintah standar aksesibilitasnya itu di bawah 80%. Artinya itu nilai rendah banget. Bahkan Menkominfo itu cuma 42%. Artinya itu sulit diakses. Jadi memang harus disiapkan. Ini menawarkan hal yang bagus, tetapi masih perlu dikembangkan lebih luas.

 

Kesadaran atau hal apa yang masih perlu dibangun?

Narasi dari cerita atau gambaran. Misalnya sebuah video itu di bawahnya ada link teksnya. Yang kedua ada hal-hal yang perlu dikembangan dalam video virtual reality adalah perspektif si membuat film.

Perspektif dalam membuat film yang pertama adalah banyak film-film yang dibuat menurut saya, dia melihat difabel dalam kacamata nondifabel. Contohnya antara saya dengan Anda memiliki kemampuan yang berbeda. Dunia saya kadang bergoyang-goyang, maka apakah film juga menghadirkannya? Terkadang film itu hanya menghadirkan perspektif polos, bagus dan rapi. Begitu juga dengan tunanetra ketika sedang mengamati sesuatu, itu kelihatan. Padahal dunia tunanetra itu kan gelap. Dengan demikian, ia di situ masih menjadi objek. Sehingga pengalaman menjadi tunanetra itu tidak dapat, yang ada pengalaman bersanding dengan tunanetra. Bukankah tujuan dari virtual reality itu salah satunya supaya kita ada di situ? Tujuan orang menonton dokumenter soal tunanetra salah satunya adalah merasakan bagaimana menjadi bagian dari mereka.

Selanjutnya saya sangat senang, ketika film itu tidak menceritakan berita sedih tentang difabel. Seolah difabel di-setting untuk memberikan inspirasi bagi nondifabel. Itu gak bener model seperti itu. Difabel bukan alat inspirasi bagi nondifabel. Difabel adalah kehidupan keseharian yang berbeda, sama dengan yang lain. Menariknya film ini, tidak ada hal semacam itu. Tetapi yang tunanetra, bagi saya itu agak berjarak, tidak ikut di dalam ceritanya.

 

Menurut Anda, sejauh apa dokumenter memiliki pengaruh terhadap inklusivitas di masyarakat secara luas? 

Apapun itu, film sangat memberi pengaruh. Dia adalah satu bagian dari alat advokasi untuk memberikan literasi dan awareness kepada masyarakat perihal isu difabel agar masyarakat menerima. Kadang ketika kita berkoar-koar di media sosial itu hanya akan menjadikan masyarakat jenuh. Tetapi dengan melihat film dia akan tahu fakta kehidupan sehari-hari yang dipotret dalam dokumenter. Dulu sempat ada festival film difabel, itu seharusnya dijalankan terus. 

Sekarang ini banyak orang menekuni dan aware terhadap isu difabel, meskipun masih jauh dari implementasi. Tetapi setidaknya orang sudah membicarakannya. Itu tidak lain adalah peranan dari pembuat film.

 

Apa yang perlu diperhatikan atau saran Anda dalam pembuatan film dokumenter yang inklusif? 

Pertama adalah perspektif. Kemudian sejauh mana film itu dapat dinikmati oleh orang banyak, termasuk aksesibilitasnya. Perspektifnya kalau bisa jangan menjadikan difabel itu objek charity, sumber inspirasi, dan mendramatisir kehidupan mereka. Sehingga mereka harus dikasihani. Tapi hadirkanlah film difabel yang apa adanya.

Jadi yang perlu diperbarui adalah paradigma dan perspektif dalam membuat film soal difabel. Dia tidak kemudian menceritakan penderitaan difabel, seolah-olah difabel hebat dengan kekurangannya. 

 

Bagaimana perspektif suatu medium itu dapat menciptakan pengalaman tertentu yang dapat menggugah kesadaran akan isu difabel?

Dari riset. Dan cara pandang terhadap difabel. Misalnya kita memandang perempuan, ya itu sebagai subjek bukan objek. Maka sebelum itu kita harus belajar feminis. Begitu pula saat membuat film soal difabel, kita belajar perspektif soal disabilitas. Itu yang kurang menurut saya. Tapi setidaknya representasi difabel di dalam film itu naik-turun. Dia berubah dari tahun ke tahun. Sekarang ini sudah lumayan bagus. Jadi riset itu memang penting sekali. Sehingga itu inklusif; film itu melibatkan difabel sejak awal. Jadi memberikan mereka ruang untuk bicara, bukan menyuarakan mereka.

 

Mengapa objektifikasi semacam ini ada dan apa peran teknologi ini terhadap hal tersebut?

Itu karena bagian dari proses konstruksi yang menjadikan penyandang disabilitas itu difabel. Bahwa mereka memberi inspirasi kan mengherankan. Itu adalah bentuk stigma. Televisi, film dan seterusnya itu menjadi bagian besar atas pembentukan itu. Itu adalah bagian dari diskriminasi, cara nondifabel mengkonstruk difabel bahwa mereka sebagai orang yang lemah, tidak mampu.  Sehingga mereka menjadikan mereka sebagai inspiration porn, yang tujuannya hanya menyenangkan diri bagi penonton.

 

Bagaimana pandangan Anda soal representasi difabel sebagai subjek di dalam produk audio visual secara umum?

Harus diakui masih ada stigma. Kalau tidak inspiration porn, ya pandangan medis. Pandangan yang sesuai dengan Hak Asasi Manusia itu, seperti di kalangan aktivis, mereka masih memandang difabel sebagai golongan yang tidak mampu dan harus ditolong. Itu bisa dilihat dari berbagai kebijakan di daerah maupun pusat.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Bagikan ini