Intan Paramaditha: Dokumenter adalah Wilayah yang Patut Dirawat

15—11—2021
Interview

Pada 11 Desember 2020, Tim Festival Film Dokumenter (FFD) mendapat kesempatan untuk mewawancarai Intan Paramaditha, penulis dan akademisi Indonesia yang terlibat sebagai juri Kompetisi Panjang Indonesia FFD 2020. Melalui 6 pertanyaan singkat, Intan Paramaditha memberikan jawaban yang mampu memperluas wawasan dalam bidang film, terutama dokumenter.

Berikut adalah hasil wawancara kami dengan Intan Pramaditha, juri Kompetisi Panjang Indonesia 2020.

 

Film kan menjadi bidang yang Kak Intan dalami, dan ini terbukti dengan jenjang pendidikan yang Kak Intan ambil untuk Ph.D, yakni Cinema Studies di New York University (NYU).  Bagaimana sih Kak Intan melihat kondisi film di Indonesia, khususnya dokumenter?

Kebetulan disertasi saya berangkat dari sinema sebagai social movement. Kritik awalnya sinema, namun juga fokus ke bagaimana warga membentuk satu gerakan setelah reformasi khususnya di bidang seni budaya. Nah, kalau kita lihat kan seni budaya setelah reformasi itu sangat berubah dengan ditandai oleh skenario eksperimen–bagaimana kita terdorong atau terinspirasi untuk terus melakukan sebuah eksperimen, dan inisiatif baru bersama komunitas. Hal tersebut membawa a sense of newness yang pada saat itu didorong oleh ‘98. Tragedi ‘98 menimbulkan semacam perasaan ‘kosong’ yang memunculkan inisiatif-inisiatif independen mulai dari Kuldesak (1998) yang menolak untuk mengikuti logika birokrasi orde baru. Dari situ muncul pula komunitas, festival film yang membawa rasa kebaruan.

Skenario eksperimen juga diterapkan sampai sekarang, banyak orang bereksperimen dengan membentuk komunitas baru, website baru untuk mengapresiasi film. Menurut saya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh jatuhnya Soeharto di tahun 1998 yang mendorong manusia ingin membuat sesuatu di bidang seni dan budaya. Iklim seperti itu lah yang memengaruhi banyak sekali produksi independen di film Indonesia yang didukung juga oleh perkembangan teknologi digital: perkawinan antara teknologi digital dan iklim politik.

Selain menikmati film-film yang muncul di bioskop, kita juga bisa menikmati film yang semangatnya indie seperti film-film di FFD dan festival lainnya diiringi dengan isu-isu yang baru pula. Jadi menurut saya perkembangan film selama dua dekade terakhir itu sangat  marak dan beragam. Saya juga melihat bahwa peran perempuan sangat menonjol. Perempuan membuka ruang, memfasilitasi ruang agar orang lain mampu terus berkarya. Seperti In-docs yang didirikan oleh perempuan. Jika dulu hanya ada 4 perempuan yang menggeluti dokumenter, sekarang kita bisa melihat lebih banyak. Ini didorong karena ruang-ruang yang dibentuk oleh perempuan itu sendiri. Sekarang ini saya sebagai juri untuk Kompetisi Panjang Indonesia, ada karya Chonie Prysilia berjudul k0s0ng (2020) yang filmnya dimungkinkan selesai karena mendapatkan funding khusus untuk perempuan yaitu Cipta Media Ekspresi.

Kira-kira seperti itu perkembangan yang positif yang saya lihat dalam 20 tahun terakhir ini.

 

Bagaimana kesan Kak Intan setelah melihat Kompetisi Panjang Indonesia? Apa yang menarik? Karakter apa yang terlihat?

Semuanya mengolah isu keadilan sosial dengan menarik. Ada yang fokusnya tentang pekerja migran, ada yang fokusnya soal hak reproduksi perempuan –khususnya soal stigma yang diberikan masyarakat terkait dengan ‘punya anak’, kemudian yang terakhir itu fokus ke upaya-upaya kolektif dalam dalam satu desa untuk membuat perubahan. Jadi semuanya menunjukkan semacam agensi dalam masyarakat. Saya mengikuti kriteria yang diberikan oleh panitia, yaitu pengembangan ide, riset dan cara bertutur atau narasi. Saya mencoba untuk melihat film-film ini dalam kriteria tersebut. Derajat masing-masing film berbeda-beda, ada yang topiknya sangat menarik namun secara narasi tidak terlalu konsisten. Ada juga yang topiknya menarik namun masih perlu untuk melakukan riset yang lebih mendalam. Jadi terdapat perbedaan dalam hal eksekusi. Namun yang pasti ketiga film ini punya nilai penting karena saya melihat upaya mereka untuk menunjukkan agensi dari masyarakat. Mereka berusaha menunjukkan kemampuan masyarakat untuk bekerjasama tidak dalam kolektif.

Meskipun dari segi eksekusi derajatnya bermacam-macam, namun usaha mereka sangat saya hargai. Menurut saya yang patut dicatat itu adalah terdapat eksperimentasi yang menarik. Misalnya k0s0ng (2020), itu menggunakan media animasi sebagai cara bertutur dalam dokumenter. Lalu Help Is on The Way (2020), penonton diajak melihat subyek buruh migran tidak sebagai korban seperti yang biasa direpresentasikan di media. Film tersebut keluar dari stereotip melodrama yang biasa dikenakan dalam representasi buruh migran. Namun, pada saat yang sama, film tersebut juga sangat memperlihatkan bagaimana perempuan menghidupi struktur patriarki  dan mengalami penindasan juga, walaupun filmnya sendiri tidak fokus ke derita dan air mata. Jadi, menurut saya eksperimentasi yang unik seperti itu lah yang patut dicatat.

 

Menurut Kak Intan, hal-hal apa saja yang memengaruhi ketertarikan penonton pada film dokumenter?

Kok kayaknya lebih gampang kalau menjawab ‘kenapa penonton nggak tertarik nonton dokumenter ya?’  Hahaha…

Kalau ketertarikan penonton untuk menonton film dokumenter, saya nggak bisa bicara begitu banyak. Kalau dari saya sendiri sih menganggap dokumenter adalah wilayah yang patut dirawat karena merupakan tempat dimana gagasan tentang keadilan sosial disampaikan. Jadi buat saya dokumenter itu punya potensi politik yang sangat besar. Saya rasa penonton FFD juga merasakan hal yang sama.

Dokumenter itu adalah adalah kenyataan yang sesungguhnya. Dokumenter memotret kenyataan  kemudian dikonstruksi dan dibingkai kepada penonton. Jadi kita membutuhkan diskusi yang lebih mendalam soal bagaimana kenyataan itu dibingkai dalam dokumentasi. Saya pikir itu yang yang dilakukan peran FFD yang sudah bertahan 20 tahun dengan punya penontonnya sendiri dan hal itu adalah hal yang sangat baik.

 

Selain film, jelas Kak Intan menekuni dunia sastra dengan karya-karya yang terinspirasi dari horor, mitos, dan dongeng hal tersebut juga kerap muncul sebagai ide awal pengembangan cerita film fiksi dan nonfiksi di Indonesia. Bagaimana kak Intan melihat kecenderungan ini?

Sebenarnya inspirasi dalam film baik fiksi maupun dokumenter itu beragam. Ada yang horor, mitos, dan dongeng; sama seperti sastra. Dan yang menurut saya penting untuk lebih ditelusuri adalah saling belajar lintas medium. Saya sebagai penulis sastra juga belajar banyak dari medium film. Misalnya dalam ranah teknik pembuatan film, kita harus konsisten dan fokus untuk mengikuti point of view satu tokoh. Begitu pula dalam sastra.

Jadi sebetulnya ini banyak sekali teknik-teknik yang bisa diterapkan untuk saling tukar dan saling belajar lintas medium. Namun sayangnya masih banyak ditemukan pembuat film yang tidak membaca, kemudian banyak penulis sastra yang menonton tapi hanya Netflix saja. Jadi mungkin tidak banyak teman-teman penulis yang tahu kalau di bulan ini diselenggarakan FFD yang mampu menambah exposure. Jadi, saya berharap lebih banyak titik temu dan lebih banyak dialog antara pelaku di bidang yang berbeda; baik itu akademisi, kritikus, pembuat film, penulis, dan sebagainya.

 

Indonesia punya banyak festival bertaraf internasional, mulai dari sastra hingga film. Apa yang Kak Intan harap bisa didapat dari inisiatif ini? Apa yang sudah bagus? Apa yang perlu dikembangkan untuk membuatnya jadi lebih baik?

Festival sebenarnya punya banyak fungsi. Yang pertama adalah showcasing atau menampilkan karya. Pada era sekarang ini kita punya lebih banyak festival di Indonesia dibanding pada era sebelumnya –Orde Baru misalnya. Di bidang film ada FFD, kemudian di bidang sastra ada Ubud Writers Festival, ada Makassar International Writers Festival. Hal ini sangat baik sebagai tempat menampilkan karya. Namun, yang harus ditekankan adalah karya siapa yang akan  ditampilkan.

Untuk saya, festival seharusnya menjadi ajang untuk memberi wadah bagi para seniman yang selama ini tidak terlalu diperhatikan oleh publik. Selain showcasing, festival juga menjadi ajang pertukaran. Jadi dengan datang ke festival, si pembuat film yang baru memulai karyanya atau sastrawan yang baru menulis satu-dua karya itu akan melihat bahwa ada teman-teman lain yang sudah lebih berpengalaman. Dari situ mereka yang masih baru dapat bertukar gagasan dan lain sebagainya.

Jadi fungsi festival itu penting untuk untuk seniman-seniman baru untuk menguatkan komunitasnya. Saya melihat fungsi showcasing dan pertukaran gagasan sudah terjadi dalam festival di Indonesia. Namun yang masih perlu dicatat oleh para penyelenggara festival adalah persoalan keadilan. Baik itu keadilan dari segi latar belakang geografis, gender, maupun kelas. Dalam ranah sastra, saya lihat masih ada festival yang mengundang penulis tapi itu-itu saja, ini menunjukkan kalau kita punya otoritas untuk memilih yang mana yang tampil dan yang tidak. Maka kita harus hati-hati dan benar-benar mengimbau keragaman dan keadilan di dalam penyelenggaraan festival.

 

Tahun ini, banyak festival yang stop di tengah jalan atau malah berubah jadi daring. Sejauh yang Kak Intan rasakan, apakah skema daring untuk festival seni (terutama film) itu sustainable? Lalu, dari pengalaman di FFD, apa yang sudah bagus dan masih perlu dikembangkan?

Ya tentunya yang saya bicarakan soal pertukaran gagasan dalam festival tadi jadi terbatas dalam format daring. Kita kan tidak bisa bertemu secara fisik, kalau festival biasanya ada diskusi publik kemudian setelah diskusi itu mungkin berlanjut dengan ngopi-ngopi sambil ngobrol jadi tidak bisa dilakukan di masa pandemi. Saya tidak melihat festival daring sebagai hambatan atau sesuatu yang kurang, karena memang masa pandemi itu kan masa serba kekurangan ya. Yang saya lihat justru adalah kegigihan. Hal ini juga ini komentar saya untuk FFD tahun ini. Jadi yang saya lihat bukan kekurangan tapi justru semangat kegigihan untuk terus ada. FFD ini kan sudah sangat panjang umurnya, dan berhasil bertahan di masa corona meski dalam format online –yang dengan interaksi publik terbatas.

Sustainability itu adalah nilai yang sangat penting. Semangat untuk bertahan itu dari diri sendiri mungkin bisa  menjadi inspirasi buat yang lain. Selain itu, format daring sebetulnya punya nilai tambahnya sendiri. Dengan format online kita bisa mengundang orang-orang yang dalam dalam keadaan normal akan sulit untuk didatangkan.  Saya diminta menjadi juri di FFD itu sudah beberapa kali tapi selalu berhalangan dan baru tahun ini saya bisa menjadi juri karena festivalnya online. Ini sebaiknya dimanfaatkan saja kelebihan di tengah segala kekurangan ini.

 

Penulis : Tirza Kanya

 

Bagikan ini