Spektrum 2021: Memitoskan Mitos

18—11—2021
Highlight Program

Kadang kala fakta bisa saja diembargo tidak dengan cara yang lugas, tapi secara terus-menerus, tertutupi oleh tafsiran-tafsiran yang makin lama kian jadi keramat. Hingga muncul fakta fiktif yang tambah mengaburkan segala apa yang dilihat dan dirasa.  Begitulah realitas hidup kita dikelilingi mitos, oleh makna-makna terselubung yang pada akhirnya disahkan bersama. 

Ia seperti diam-diam dan pelan-pelan merasuk ke dalam hari-hari kita. Jalan yang dilalui mitos bisa dari mana-mana, seperti dari bentangan geografis hingga tuturan pengalaman empiris secara kolektif. Hampir semua aspek kehidupan bersinggungan dengan mitos ini. Kemudian, tidak berhenti pada satu anak manusia, mitos itu meluber ke konteks yang lebih luas seperti dalam budaya dan institusi sosial. Kehadirannya tak hanya bersembunyi di balik tempurung kepala, tapi juga keluar dalam bentuk tindakan-tindakan praktis, melalui beragam medium.

Salah satunya film. Gambar hidup ini dinilai sebagai medium yang mampu mencipta realitas, seiring dengan jangkauannya yang luas. Namun, yang kemudian memantik pembahasan lebih lanjut adalah jarak pandang kita terhadap mitos itu sendiri dalam sinema. Apakah sebatas gambaran realitas itu tadi, atau bisa sampai pada tataran pengalaman riil?

Program Spektrum: Memitoskan Mitos pun mendekat pada perkara itu, melalui dua dokumenter panjang dan lima dokumenter pendek terpilih. Masing-masing karya barangkali memiliki titik pijaknya sendiri untuk membuktikan bagaimana film menjadikan mitos benar-benar hidup, ataupun kalau mati, akan gentayangan ke segala penjuru. Ini sekaligus menjadi upaya Festival Film Dokumenter (FFD) 2021 dalam menelusuri memori episodik selama 20 tahun ke belakang, yang tak jauh-jauh dari ranah kehidupan masyarakat: sosial, ekonomi dan budaya.

Dari sana, kita tahu produksi suatu karya dokumenter tak hanya rekaman tuturan berulang-ulang sebuah kejadian atau kenyataan hidup. Juga bukan hanya soal keindahan teknis. Lebih dari itu, dengan halus film-film tersebut membawa pesan kuat yang bisa begitu persuasif bahkan jadi sesuatu yang sifatnya propaganda. Boleh dikata sebelum menampakkan diri, mitos bersembunyi di balik proses kreatif itu. Lalu ketika cerita fakta sudah dipertontonkan dan pesan berhasil menyentuh si penonton, mitos menyelinap hadir sebagai penuntun makna-makna tertentu melalui bahasa sinema.

Film-film dalam program ini menceritakan hubungan manusia dengan mitos dari berbagai lanskap. Seperti halnya Bosco (2020) dan Red Moon Tide (2020). Dua film panjang itu mengambil sudut pandang kedekatan mitos dengan ruang geografis dan kartografi, yaitu mitos kota Bosco serta kisah makhluk dan figur mitologi. Berbeda lagi dengan film pendek Storgetnya (2020) yang memaparkan praktik pengobatan alternatif speleotherapy dengan cara menghirup udara di dalam gua yang mengandung mineral dan garam. Lalu Mada or the story of the first man (2021), mencoba menyandingkan mitos dengan fiksi baru di ranah arkeologi. Ada pula Termimpi Maujun (2021) yang menyajikan bagaimana relasi lingkungan dan komunitas melalui mimpi. 

Bagikan ini