Permainan Medium untuk Mencapai Impresi

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada Festival Film Dokumenter tahun 2019, Program Docs Docs membicarakan dokumenter pendek lewat tajuk Short!. Persoalan medium dan impresi menjadi variabel yang diulik untuk menemukan posisi tawar dari karya dokumenter pendek sebagai lahan subur bagi kebaruan bentuk. Konsep-konsep yang dituding sebagai bentuk baru dalam karya ini, memunculkan definisi tentang dokumenter eksperimental. Hal itu  yang kemudian meleburkan batas antara dokumenter pendek, eksperimental dan video art. Namun, sebelum jauh membicarakan medium dan impresi dari dokumenter pendek, ada baiknya kita mundur ke belakang untuk menemukan kerangka soal kebaruan bentuk yang lekat dengan film-film pendek.    

Berdasarkan laporan-laporan Gotot Prakosa kepada DKJ tahun 1982, ketika Departemen Penerangan masih ada, film hanya dibedakan menjadi dua, yakni film cerita dan non cerita. Dokumenter berada di ranah noncerita bersama dengan video dan home movie. Dokumenter di masa itu hadir tak ubahnya sebagai video yang dibuat sesuai kebutuhan instansi pemerintah atau kelompok lain. Tentu dengan capaian konsep estetik yang disesuaikan dengan aturan perfilman pada masanya. Lambat laun, kemajuan teknologi yang hadir di Indonesia, mendorong kemunculan film di luar ketentuan pemerintah. Pun dalam gaya penceritaan dan durasi. Kondisi ini terus berkembang hingga lahir beberapa kelompok yang mengusung gagasan khusus dalam kekaryaan. Seperti kelompok Sinema Delapan dengan eksperimentasi kamera 8mm, hingga Forum Film Pendek yang mulai mengurai hakikat film pendek. 

FFD 2019 - Distancing

Karya-karya dengan berbagai eksperimen bermunculan, hingga mendorong Forum Film Pendek untuk memaknai kehadiran film pendek sebagai model dan alternatif film yang tidak berorientasi pada komersialisme. Lebih jauh, forum tersebut mendefinisikan karya ini sebagai film yang berada di luar jalur bioskop dan dinilai dapat menunjukkan sikap pembuatnya secara utuh. Film pendek di sini mencakup film cerita pendek, home movie, eksperimental, animasi, dokumenter, serta karya lain yang mengikuti konsep konsep yang dibicarakan.

Sejarah yang demikian, menampakkan bahwa perkembangan teknologi, klasifikasi ruang putar, dan kesadaran soal impresinya yang berbeda dengan film kebanyakan—film cerita panjang semakin membentuk logika bahwa film pendek adalah ruang yang mengakomodir kebaruan bentuk. Dalam hal ini, impresi film kebanyakan merujuk pada kesan karya yang di konsep umum—Hollywood. 

Kemudian, dokumenter yang hadir dalam medium film pendek menghasilkan capaian impresi yang berbeda. Capaian ini merujuk pada perspektif sekaligus pengetahuan filmmaker yang termanifestasi dalam permainan konsep estetik—dalam tulisan ini akan dianggap sebagai medium—guna membangun impresi. Di ranah dokumenter, permainan medium merujuk pada metode pengolahan data yang terverifikasi. Pengolahan data menjadi unsur yang memunculkan perbincangkan soal dikotomi dokumenter sebagai genre atau metode. 

FFD 2019 - Katsuo-bushi

Dokumenter sebagai genre merujuk pada konsep film yang menampilkan peristiwa secara faktual, tanpa rekayasa, dan menolak proses interpretasi filmmaker. Film-film jenis ini dapat ditandai melalui gaya, pendekatan, struktur dan bentuk tertentu. Misalnya, melalui lima gaya penceritaan yang dirumuskan Bill Nichols, yakni ekspositori, observasional, interaktif, refleksi, dan performatif. Atau melalui pendekatan naratif/essay. Atau melalui struktur tiga babak/lima babak. Rupa dokumenter ini yang hadir dan diyakini banyak orang sebagai “dokumenter”. Sedangkan interpretasi dan rekayasa diberi ruang dalam konsep dokumenter sebagai metode. Dan, realitas berada pada nilai dari data yang terverifikasi. Akomodasi yang demikian membangun kebaruan bentuk film di luar konsep dokumenter. Di medium ini dokumenter kerap dianggap sebagai karya eksperimental atau video art.  

Perbincangan rupa dokumenter ini, sebenarnya menyisakan dua perkara, pertama apakah perspektif dan pengetahuan filmmaker sejalan dengan permainan medium dan capaian impresi? Kedua, apakah persepsi ini tepat dalam menggambarkan pengetahuan dari data yang dikumpulkan? Perkara ini adalah dasar untuk membentuk konteks film. Konteks yang lahir karena jalinan antara medium, pengetahuan, dan impresi berada dalam satu paket pas. Satu paket yang tidak menyuguhkan keberlebihan tanpa makna pada medium film pendek.

Adapun dua perkara tersebut, akan membingkai bacaan kita pada delapan film di program ini. Film (***) Fish (Filip Bojarski, 2019) menampilkan peristiwa penangkapan ikan lele yang dibenturkan dengan puisi dari Tadeusz Róźewicz. Dua materi ini membangun interpretasi soal kesadaran. Kemudian, interpretasi berulang yang dilakukan Filip dalam gambar ratio 4:3 menempatkan penonton sebagai seorang pengamat yang jauh dengan peristiwa. 

FFD 2019 - (***) Fish

Hal yang sama juga ditawarkan film Introducing to Imamura Shohei (Byung Ki Lee, 2019), Film ini memainkan impresi penonton melalui tafsir atas potongan-potongan film dari Imamura Shohei dan Ozu, voice over, hingga jukstaposisi antar gambar. Obsesi filmmaker mengarahkan penonton untuk menemukan makna dari gambaran rumah sekaligus  berbagai elemen pengisi frame di film-film Shohei dan Ozu.  

Film On Thai Women : They are weak, that’s why they dream of weak women (Rosalia Engchuan, 2017) menghadirkan perspektif filmmaker tentang perempuan Thailand. Perspektif filmmaker mewakili pandangan luar sekaligus penonton atas fenomena yang terjadi di Thailand. Memperlakukan pandangan penonton dalam posisi khusus juga diterapkan dalam film Distancing (Miko Revereza, 2019). Film ini membicarakan soal jarak secara harfiah untuk memaknai jarak yang abstrak. Kedua hal tersebut disampaikan melalui montage dan komposisi gambar yang sedemikian rupa. Persoalan jarak juga diolah dalam film The Missing Scene From Petrus – draft #4 (Arief Budiman, 2019). Materi visual dan audio yang digunakan membangun jarak untuk memaknai realitas sejarah. Seolah-olah sejarah adalah sesuatu yang kabur dan bisa rekayasa. 

Di film Origin of Shadow (Shuhei Hatano, 2017) surat yang tak pernah sampai dan berbagai rindu yang berhamburan, menjadi hantu dalam memaknai berbagai sudut kota. Montage montage yang sedemikian rupa menuntun penonton untuk merasakan berbagai kolase tentang pertemuan dan perpisahan. Memandang bagian kota dari sudut yang terlihat juga ditawarkan film The Summer of Arte (Takayuki Yoshida, 2018). Sudut-sudut taman ini digambarkan penuh daya tarik melalui permainan angle kamera dan komposisi. Berbeda dengan ketujuh film lainnya, film Katsuo Bushi (Yu Nakajima, 2015) menghadirkan proses pembuatan bahan yang sangat diperlukan dalam masakan Jepang. Perjalanan ikan yang hadir dalam montage-montage menghadirkan konteks mengenai Jepang beserta pergerakan Industri di dalamnya.          

Film-film program ini dapat dinikmati dalam rangkaian festival pada tanggal 2-7 Desember 2019. Cek agenda lengkap FFD 2019 di sini.

Close Menu