Abduh Aziz dalam Ingatan

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Jumat (6/12) — Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 menyelenggarakan DocTalk bertajuk Dokumenter dan Ekosistem Seni Indonesia. Agenda ini merupakan bagian dari program Lanskap: Salam untuk Abduh dan dilaksanakan di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Amerta Kusuma (Board FFD) dan menghadirkan tiga pembicara: Lulu Ratna (penggiat festival film pendek dan co-founder Organisasi Boemboe), Kisno Ardi (filmmaker dan aktivis video komunitas), dan Aryo Danusiri (film maker dan peneliti).

Dalam Program Lanskap tahun ini, FFD 2019 ingin melihat kembali kiprah Abduh Aziz di bidang perfilman dan di wilayah sosial-politik Indonesia melalui film-film yang ia kawal sebagai produser, sutradara, maupun penulis. Abduh Aziz dikenal atas aktivisme dan advokasinya terhadap film sebagai produk seni dan budaya.

Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu ditayangkan tiga dari empat film dalam Program Lanskap, yaitu:  Di Atas Rel Mati (Welldy Handoko & Nur Fitriah, 2006), Abracadabra! (Aryo Danusiri, 2003), dan Tjidurian 19 (Lasja F. Susatyo & M. Abduh Aziz, 2009).

Selanjutnya, tiga pembicara menceritakan bagaimana awal pertemuan dengan Abduh Aziz dan bagaimana memori mereka tentang Abduh Aziz. Lulu bercerita bahwa pertemuannya dengan Abduh dimulai saat mereka masih menjadi mahasiswa UI. Kemudian, Lulu dan Abduh beberapa kali bekerjasama dalam suatu proyek. Jakarta International Film Festival pada 1999 merupakan proyek kerjasama pertama mereka.

Abduh kerap kali diledek sebagai tukang bikin organisasi. Ia secara jelas bisa memfasilitasi segala hal yang ingin dicapai bersama. “Jika ada whiteboard, dia langsung memetakan apa saja hal yang ingin dicapai, lalu bagaimana cara mencapainya ke sana. Lalu, Abduh sering ada di awal mula gerakan dan terlibat aktif menggulirkan sesuatu. Dia mampu menghadirkan semacam kesadaran bahwa kita sedang bergerak menuju sesuatu. Ia juga mampu menempatkan pikiran orang-orang yang berbeda dalam suatu organisasi,” kata Lulu. 

Sedangkan Kisno pertama kali bertemu Abduh pada 2003 saat pemutaran film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (Garin Nugroho, 2002). Kemudian Kisno mengikuti workshop pembuatan film bersama Abduh. Namun pada saat itu, Kisno belum mengobrol secara intensif dengan Abduh. Perbincangan Kisno dengan Abduh terjadi ketika mereka bertemu di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki saat ada screening film. Dari situ, Abduh menawarkan bantuan penginapan di Cangkir Kopi—rumah produksi yang didirikan Abduh, yang berlokasi di Jatiwaringin—jika Kisno kembali berkunjung ke Jakarta.

Ada dua nasihat dari Abduh yang sangat diingat oleh Kisno. Pertama adalah, “Ketika kamu menjadi sutradara, bukan hanya semata-mata ingin mewujudkan film mu sendiri. Tetapi bagaimana kamu menguasai situasi dan orang-orang yang ada di lapangan,” ucap Kisno. Kemudian Abduh mengatakan, jika ingin menjadi sutradara film dokumenter, yang pertama kali harus diketahui adalah apa tujuan membuat film tersebut, gagasan apa yang hendak disampaikan, lalu bagaimana bentuk film yang tepat.

Aryo pertama kali bertemu Abduh saat masih duduk di bangku SMP. Mereka dipertemukan karena memiliki guru teater yang sama. Selanjutnya, Aryo dan Abduh bersama-sama belajar film dengan menyewa laserdisc, mulai dari film art house sampai yang mainstream. Bahkan, Abduh pula yang menyarankan Aryo untuk membuat skripsi tentang film, setelah keinginan Aryo untuk meneliti Teater Koma pupus. “Membicarakan Abduh Aziz bagi saya adalah membicarakan semangatnya yang menganggap bahwa film bukan hanya sekadar produk seni, tetapi proses pembentukan pengetahuan secara interdisipliner. Bahwa dokumenter bukan sebagai riset, tetapi dokumenter sendiri adalah proses riset. Dokumenter bukan sekadar pengejawantahan yang already defined knowledge. Knowledge sendiri adalah practice dalam pembuatan film itu sendiri,” tuturnya.

Penulis: Nizmi Nasution