Panduan Harian – 3 Desember 2019

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Buah pepaya, buah semangka, manis rasanya

Ayo semangat meskipun baru hari Selasa!

 

Selasa itu…… Hari Senin episode ke-dua. Masih menjadi hari yang padat. Daripada cuma mengeluh menunggu datangnya akhir pekan, yuk, jalani harimu dengan mengikuti agenda-agenda menarik di Festival Film Dokumenter (FFD) 2019.

Kami sajikan panduan menikmati FFD 2019 hari Selasa, 3 Desember 2019 secara berurutan. Selamat bersenang-senang!

 

10.00 WIB

Selamat Hari Disabilitas Internasional! Sudah sejauh manakah kamu memahami penyandang disabilitas? Hal apa saja yang perlu kita lakukan dalam rangka memastikan inklusivitas dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas? Mari berdiskusi bersama Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel. Diskusi ini akan diselenggarakan di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta.

 

13.00 WIB

FFD 2019 - Sweet Golden Kiwi

Ada dua program penayangan film dengan lokasi yang berbeda: Focus On South Korea: Remapping South Korean Women Directors dan Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Pendek. Jadi, tentukan pilihanmu, ya!

Tiga dari enam film dalam program Focus on South Korea akan ditayangkan di Auditorium IFI-LIP. Film-film yang ditayangkan, antara lain: Sweet Golden Kiwi (2018), The Unseen Children (2018), dan Heart of Snow: Afterlife (2018). Akan ada sesi tanya jawab setelah film usai, alangkah baiknya teman-teman tidak  terburu-buru meninggalkan ruang pemutaran film. 

Sweet Golden Kiwi (Jeon Kyu-ri, 2018) mengajak kamu mengikuti kehidupan perempuan Korea Selatan yang  merasa negaranya bukanlah tempat yang tepat untuknya. Ia lalu mencoba peruntungan bekerja di Selandia Baru dan pelan-pelan mendefinisikan ulang hidupnya–membebaskan diri dari konvensi-konvensi yang berlaku di Korea Selatan.

The Unseen Children (Aori, 2018) merekam pengalaman tiga orang remaja yang mencoba kabur dari Korea Utara.

Film Heart of Snow: Afterlife (Kim So-young, 2018) mengisahkan genosida terhadap orang-orang Korea oleh tentara Jepang di Vladivostok, Rusia, pada 1920. . Para tentara Jepang juga mengeksekusi tokoh-tokoh revolusioner, seperti Kim Afanasi dan Alexandra Petrovna Kim, sebelum terjadinya migrasi paksa pada 1937.

Program Kompetisi kategori Dokumenter Pendek FFD 2019 akan memutar empat film di Societet Militair TBY. Film-film yang ditayangkan, antara lain: Cipto Rupo (Catur Panggih Raharjo, 2019), A Daughters Memory (Kartika Pratiwi, 2019), Perempuan Tanah Humba (Lasja F. Susatyo, 2019), dan Sujud (Pahlawan Bimantara, 2019). Setelah menyaksikan empat film ini, kamu juga bisa mengikuti sesi tanya jawab.

Jika di waktu ini kamu memilih menonton program Focus on South Korea, jangan bersedih. Keempat film tersebut akan kembali ditayangkan pada 5 Desember 2019 pukul 18.30 WIB di Societet Militair TBY.

Tak hanya itu, di jam ini kamu juga bisa memilih untuk mengikuti Public Lecture: Getting the Story Right, Telling the Story Well di Ruang Auvi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Bersama Kek Huat Lau, kita akan mengetahui bagaimana ia merancang dan mengeksekusi The Tree Remembers (2019), dokumenter etnografis mengenai korban politik dan kekerasan rasial terburuk di Malaysia. Sebagai seseorang yang lahir di Malaysia dan menetap di Taiwan, Lau akan memaparkan bagaimana ia memiliki pengalaman empiris dan emosional atas ruang, waktu, dan ikatan sosial terhadap persoalan etnis negara kelahirannya. Hal peliknya adalah merangkum persoalan-persoalan tersebut dalam narasi film yang tetap intim dan menjaga etik. Bagaimana Lau mengolah pengalaman dan latar belakang personalnya untuk membuat film dengan isu-isu sensitif semacam ini? Dari citra audio dan visual yang dipresentasikan, mewakili suara siapakah subjek-subjek dalam film berbicara? Bagaimana Lau mewujudkan otoritas dan keberpihakannya pada isu etnis dan ras? 

Pengalaman berbeda dalam menonton film dokumenter dapat kamu rasakan di Lobby Societet TBY. Film dokumenter disajikan dalam bentuk pameran atau ekshibisi. Ada dua ekshibisi, yaitu dokumenter virtual reality (VR) dari program The Feelings of Reality dan dokumenter karya pelajar SMA dari program SchoolDoc. Kedua ekshibisi ini dibuka hingga pukul 21.00 WIB. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa!

 

15.00 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang Indonesia - Tonotwyiat

Ada dua film yang diputar di lokasi yang berbeda: The Future Cries Beneath Our Soil (Hang Pham Thu, 2018) dan Tonotwiyat ‘Hutan Perempuan’ (Yulika Anastasia Indrawati, 2019).

The Future Cries Beneath Our Soil merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini mengajak kamu untuk mengamati empat laki-laki yang menjalani kehidupan dengan tak terpisahkan satu sama lain. Hingga pada suatu hari, salah satu dari mereka pergi meninggalkan yang lain untuk menjalani hidup yang tidak mereka inginkan.. Film berdurasi 98 menit ini bisa kamu saksikan di Societet Militair TBY.

Tonotwiyat ‘Hutan Perempuan’ (Yulika Anastasia Indrawati, 2019) akan ditayangkan di Auditorium IFI-LIP. Film ini merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Indonesia. Film ini mengisahkan perempuan-perempuan Enggros yang mempertahankan tradisi mereka dalam mencari nafkah dengan mengandalkan kekayaan alam dari Hutan Perempuan.  Di tengah arus modernisasi, mereka berusaha untuk menjalani tradisi mereka dan menurunkannya ke generasi selanjutnya. Kawasan hutan ini terlarang untuk kaum pria. Jika mereka melanggarnya, maka akan ada sanksi yang menunggu mereka. Agenda ini juga akan dilengkapi dengan sesi tanya jawab. Film ini bisa kembali kamu nikmati pada 6 Desember 2019 pukul 15.30 di Societet Militair TBY.

 

18.30 WIB

Jika waktumu dari pagi sampai sore dihabiskan untuk bekerja atau kuliah, kini saatnya melepas penat sejenak. Kamu dapat menikmati film The Tree Remembers (2019) di Societet Militair TBY. Film berdurasi 89 menit ini merupakan satu dari empat film dalam program Layar Lebar, Layar Kekerasan. Karya Kek Huat Lau ini mengajak kamu untuk memikirkan ulang kehidupan lintas ras di Malaysia. Lau mendobrak anggapan bahwa mendiskusikan kerusuhan rasial pada 1969 adalah tabu. Apa itu ras? Darimana asal muasalnya? Mari peroleh informasi lebih detail dari film ini dengan mengikuti sesi tanya jawab setelah pemutaran.

 

19.00 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - Sankara is Not Dead

Sebelum malam semakin larut, mari nikmati agenda penutup FFD 2019 hari ini. Kamu bisa memilih untuk menonton Sankara is Not Dead (2019) atau seluruh film finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 Kategori Pelajar.

Sankara is Not Dead (Lucie Viver, 2019) merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film berdurasi 109 menit ini diputar di Auditorium IFI-LIP. Film ini akan mengajak kamu untuk mengikuti Bikontine dalam menggapai mimpi dan kehidupan yang lebih baik sebagai seorang pujangga setelah pemberontakan Oktober 2014 di Burkina Faso. Dari selatan ke utara, Bikontine menyusuri satu-satunya jalur rel kereta api di negaranya. Melalui perjalanan puisinya, ia belajar mengenai orang-orang desa, kota yang terus berubah, juga mimpi dan kekecewaan mereka. Menariknya juga, dalam film ini menguak peninggalan Thomas Sankara, Che Guevara dari Afrika yang tewas dibunuh pada 1987. Jangan lewatkan sesi tanya jawab, ya, setelah pemutaran film selesai.

Seluruh film finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 Kategori Pelajar dapat kamu nikmati di Amphitheatre TBY. Film-film tersebut, antara lain: Bangkit (Farchany Nashrulloh, 2018), Orang-Orang Tionghoa (Icha Feby Nur Futikha, 2019), Tambang Pasir (Sekar Ayu Kinanti, 2019), Ngalih Pejalai Antu -Ritual Dayak Iban (Kynan Tegar, 2019), Pasur ‘Pasar Sepur (Sarah Salsabila Shafiyah, 2019), dan Seandainya (Diva Suukyi Larasati, 2019). Agenda ini akan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Close Menu