Peradaban manusia memiliki seperangkat hal untuk mematik ingatan. Sebut saja prasasti, tugu peringatan, museum, monumen, atau film. Di dalam berbagai hal tersebut biasanya memuat bukti-bukti fisik dan dapat disaksikan oleh indera manusia, seperti patung, diorama atau adegan-adegan dalam film yang dapat mengarahkan pembayangan atas kenyataan yang terjadi pada masa lampau. Jika meminjam kata dari para pengusung teori apparatus, maka segala alat dan teknik yang digunakan untuk membuat film adalah bagian dari kenyataan itu sendiri, maka kenyataan adalah ekspresi dari ideologi dominan.[i] Lantas, bagaimana nasib dari narasi kecil sejarah? Apakah selamanya mereka akan tenggelam karena dominasi?
Dalam sesi ini, FFD mencoba menghadirkan sebuah perjalanan melintasi waktu melalui film. Film-film ini dipilih sebagai pemantik untuk membayangkan peristiwa yang sudah berlalu bukan dari narasi besar sejarah formal, namun dari berbagai narasi kecil yang sebelumnya tenggelam karena tiran. Sesi ini menghadirkan film Senyap karya Joshua Oppenheimer dan Anonim yang berusaha mengangkat cerita sejarah sebuah keluarga yang menjadi korban pembantaian paska 1965. Melalui film Senyap ini, ruang menonton akan menjadi lintasan waktu untuk melihat sebuah keluarga menjelajahi kesenyapan cerita masa lalu mereka.
Film kedua dalam bagian ini adalah Sound of Silence, karya Thet Oo Maung dari Myanmar. Film ini mendorong seorang veteran tentara Myanmar untuk mengingat pengalamannya dalam medan pertempuran. Salah satu bagian menarik dari film ini adalah metode Thet Oo Maung yang menggunakan footage perang sebagai pemantik ingatan dari subjek dalam filmnya. Kemudian, secara perlahan ia menarik situasi perang dengan kondisi saat ini di Myanmar.
War is Tender Thing menjadi film ketiga dalam menu ini. Andjani Arumpac, sebagai sutradara sekaligus pencerita dalam film ini secara terbuka mengusut jejak-jejak sejarah keluarganya. Percakapan-percakapan sederhana menjadi jalannya untuk menelusuri dampak dari perang panjang yang terjadi di Filipina bagian selatan.
Karya terakhir dalam sesi ini adalah Nostalgia For The Light karya Patricio Guzman. Film ini mengajak penonton untuk memaknai ulang konsep waktu, sejarah, masa lalu dan ingatan. Salah satu tesis dalam film ini adalah keberadaan kita sekarang berkaitan erat dengan berbagai rangkaian sebab-akibat yang kompleks di masa lalu. Patrico Guzman adalah seorang sutradara Chile yang menjadi eksil pada masa pemerintahan Pinochet. Nostalgia de la luz secara puitis menceritakan bagaimana manusia memaknai sejarah masa lalu, dari yang paling lampau melalui peneropongan bintang, penggalian sisa peradaban pra sejarah, sampai upaya tak kenal lelah dari keluarga korban penghilangan paksa Junta militer di Chile yang terjadi di antara tahun 1974-1988. Bagi penonton Indonesia, menonton Nostalgia for The Light adalah cermin refleksi atas sejarah kekerasan yang juga terjadi di negri ini. Pemutaran Nostalgia for The Light akan dilengkapi dengan sebuah makalah dari Tri L. Astraatmadja seorang astronom di Max-Planck Jerman, yang dapat memberikan pengayaan wacana mengenai konteks sejarah Chile dan dunia astronomi.
— Ayu Diah Cempaka
Pengelola program
[i] Dikutip dari Gaines, 1992 via Fauzanafi, 2012